Minggu, 17 Mei 2026

SAMPLE RUWET AWAL SD AKHIR BLOG

 

AWAL SD AKHIR BLOG 

MUSICS

 QUOTES




 Klik Songs video : The Sound of Silence

 Klik pdf Quotes : Sadhguru Yasudev


Terjemahan Lirik Lagu The Sound Of Silence - Simon And Garfunkel

Hello darkness, my old friend
Halo Gelap, teman lama
I've come to talk with you again
Aku datang untuk bicara padamu lagi
Because a vision softly creeping
Karena sebuah penglihatan sayup-sayup merayap
Left its seeds while I was sleeping
Tinggalkan biji-bijinya saat aku tertidur
And the vision that was planted in my brain
Dan penglihatan yang tertanam di otakku itu
Still remains
Masih tetap ada
Di dalam suara keheningan

In restless dreams I walked alone
Di dalam mimpi-mimpi gelisah, aku berjalan sendirian
Narrow streets of cobblestone
Jalan-jalan sempit berlapis batako
‘Neath the halo of a streetlamp
Di bawah lingkaran cahaya lampu jalan
I turned my collar to the cold and damp
Kubalik kerahku tuk berlindung dari dingin dan lembab
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
Saat mataku tertusuk kilatan cahaya neon
That split the night
Yang membagi malam
And touched the sound of silence
Dan menyentuh suara keheningan

And in the naked light I saw
Dan di cahaya telanjang, kulihat
Ten thousand people, maybe more
Sepuluh ribu orang, mungkin lebih
People talking without speaking
Orang-orang berbincang tanpa bicara
People hearing without listening
Orang-orang mendengar tanpa mendengarkan
People writing songs that voices never share
Orang-orang menulis lagu yang tak pernah terbagi oleh suara
No one dare
Tak ada yang berani
Disturb the sound of silence
Mengganggu suara keheningan

“Fools” said I, “You do not know
"Orang-orang bodoh" kataku, "Kalian tak tahu
Silence like a cancer grows
Keheningan, seperti halnya kanker, tumbuh
Hear my words that I might teach you
Dengar kata-kataku hingga aku bisa mengajarimu
Take my arms that I might reach you”
Raih tanganku hingga aku bisa meraihmu"
But my words like silent raindrops fell
Tapi kata-kataku seperti tetes hujan jatuh tanpa suara
And echoed in the wells of silence
Dan bergema di sumur-sumur keheningan

And the people bowed and prayed
Dan orang-orang membungkuk dan berdoa
To the neon god they made
Pada Tuhan neon yang mereka ciptakan
And the sign flashed out its warning
Dan tanda kilatkan peringatan
In the words that it was forming
Dalam kata-kata yang dibentuknya
And the sign said “The words of the prophets
Dan tanda itu berkata "Kata-kata para nabi
Are written on the subway walls
Tertulis di dinding-dinding terowongan bawah tanah
And tenement halls
Dan aula-aula tempat tinggal
And whispered in the sounds of silence”
Dan berbisik dalam suara keheningan"
https://terjemah-lirik-lagu-barat.blogspot.com/2016/09/the-sound-of-silence-simon-garfunkel.html

Intinya begitu berharganya kehidupan sebagai manusia (tanpa menafikan sebagaimana juga lainnya), bro. Dengan tidak terlalu mengumbar kebebasan menurutkan kecenderungan nafsu (wille zur macht .. keinginan akan kekuasaan?) dan justru mengarahkan diri dengan kebijaksanaan maka akan ada kebajikan bagi semuanya (kedewasaan berpribadi dan dampak potensi kewasesaan yang akan mengikutinya). Segalanya akan dan seharusnya menjadi lebih baik dan semakin baik.  Jadi tolonglah jika tidak mencerahkan janganlah menyusahkan apalagi menyesatkan dan menghancurkan. Sungguh anda (tepatnya: kita) tidak tahu dengan siapa sesungguhnya kita senantiasa berhadapan .... hidup ini tidak sekedar interaksi antar figur personal namun ini permainan kompleks media impersonal dimana segalanya jeli terawasi, akurat terkalkulasi dan potentially akan berdampak .... sebagaimana gema suara, apa yang kita lakukan akan kembali juga kepada arus kesadaran kita ... baik ataupun buruk, saat ini ataupun nanti , di sini ataupun di sana dalam peran/sikon apapun kemudian ... (dampak metafisis, sociologis & psikologis ?). Bagaikan sigma kuanta cahaya pelangi yang saling melengkapi dalam keberagamannya walau dalam label dan level berbeda namun tetap dipandang setara dalam Kasih Universal ... ada kesedemikianan Dhamma yang walau Impersonal tidak menuntut pengakuan namun secara Transenden kaidahnya berlaku di setiap wilayah immanenNya secara homeostatis, interconnected, equilibirium.

Be Truth Lover whoever & wherever we are ...
(Jadilah pecinta kebenaran siapapun dan dimanapun kita) 
karena itu adalah keniscayaan nyata yang (memang?) harus kita terima

.

Sadhguru Yasudev quote :
In pursuit of happiness , we have ripped the planet apart, but still we are not any happier. It is time to stop and look, because all human experience happens within you, not outside of  you.  
Dalam mengejar kebahagiaan, kita telah menghancurkan planet ini, tetapi tetap saja kita tidak menjadi lebih bahagia. Ini saatnya untuk berhenti dan melihat, karena semua pengalaman manusia terjadi dalam diri anda, bukan di luar diri anda


MBUH

TANAZUL TARAQQI

Plus: hipotesa teoritis  3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara). .... mungkin tepatnya state keberadaan. (apalagi tidak hanya laten deitas personal samsarik) . 

Dari secret data lama kami (maaf ... dulu memang lebai masih naif & liar .... sekarang ? makin parah & payah, hehehe ) Gnosis Publik  p.7

Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )
Well, ini hipotesa teoritis dari 3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara).  
1.Mandala Tiada Samsara, ( Fase hanya Dhyana > Dhamma ) 
Transenden = Transendental - Universal  - Eksistensial  (Esa - yang ada hanya Dia Sentra Yang Esa ) 
2. Mandala Dengan Samsara, (Fase  dalam Dhamma < Dhyana )
Transenden = Transendental , Universal  , Eksistensial  (Segalanya ada  karena Dia  Sentra Yang Esa) 
Tanazul Genesis = emanasi , kreasi , ekspansi ? 
2.1. Awal : Mandala Pra Samsara  
Transendental : keterjagaan esensi / zen ? Nibbana 
Universal  : keterlelapan energi / nama  Brahma : arupa & rupa , 
Eksistensial  : kebermimpian etheric / rupa Kamavacara : dunia - surga & apaya  
2.2.. Kini : Samsara Pra Pralaya  
Dunia :  sd pralaya  Svarga : sd pralaya (paska dunia ) - Apaya :  sd pralaya ( lokantarika ?) -  Brahma : sd pralaya ( abhasara etc  Nibbana : sd advaita ? 
2.3. Nanti : Samsara Paska Pralaya (versi Buddhism ? ) 
Lokantarika : residu rupa paska terkena pralaya : dunia - apaya - svarga - hingga rupa brahma Jhana 1 sd 3 (mengapa ?)
Brahmanda : restan nama tidak terkena pralaya : Sudhavasa + Anenja /& Rupa Brahma : Jhana 4 untuk kemudian 3 - 2 ( abhasara )  
Lokuttrara : bebas dari samsara & pralayanya : Asekha nibbana ( eksistensial ? + universal & transendental-nya)  
What's next ? 
- Siklus fase ke 2 Mandala Dalam Samsara berlanjut lagi (Kisah kasih nama rupa Brahmanda Lokantarika bersemi kembali sebagaimana biasanya ? ... kecuali
lokuttara & suddhavasa harusnya plus vehapala yang masih mantap & anenja yang masih terlelap juga ..... Asaññasatta ?)  
- atau... kembali ke fase 1 (kemanunggalan azali karena pencerahan keseluruhan/& keterjagaan Dia Sentra Yang Esa) 
- atau haruskah ada fase 3 (kemusnahan total karena kekacauan keseluruhan & kebinasaan Dia  Sentra Yang Esa ) 
3. Mandala Tanpa Samsara  (Fase  tanpa Dhamma - tiada Dhyana )  
tiada  Eksistensial - Universal  -  Transendental    (Segalanya tiada  tanpa Dia Sentra Yang Esa )

Mandala Samsarik Buddhisme (31 alam kehidupan) 
https://www.sariputta.com/artikel/ajaran-dasar/konten/31-alam-kehidupan-menurut-ajaran-agama-buddha/1012

Setiap dimensi samsarik memiliki faktor persyaratan karmik & kehandalan kosmik (untuk mengalami & mengatasinya) Walaupun fenomena mandala ini memang beragam level & labelnya (terpilah > terpisah ?) namun secara realitas terpadu adanya (esensi>energi>materi).Bersedia untuk senantiasa terjaga  menjaga  berjaga (apapun juga hasilnya ... jangan susah apalagi menyusahkan lagi di alam ini ) 

Terlepas dari pembenaran kebanggaan keakuan & kepentingan kemauan , dalam perspektif keEsaan apapun alamnya itu memang seharusnya adalah baik (setidaknya adil ... tepat bukan hanya sesuai dengan level batin zenka penghuninya namun juga demi keberlangsungan dimensi mandala alam tersebut). Misalnya begitu menderitanya seorang puthujjana yang masih sakau, galau & kacau dengan kesombongan, keserakahan &  kebencian jika harus berada di level kemurnian nibbana (Well, para Asekha di dimensi ini harus melampaui niraya eksternal baru juga, lho dengan keberadaan penghuni baru ini demikian juga wilayah ini). Ini juga berlaku di level samsarik kamavacara juga, lho. Terkadang sangat memprihatinkan para guardian niraya yang mengurus jasa laundry pemurnian jiwa dari dosa mereka yang mengotori dirinya sendiri (So, sesungguhnya siapa menyiksa siapa, bro?) ketimbang para guardian svarga yang hanya melayani pengumbaran lobha kenikmatan atas pahala kebaikan jiwa hingga batas akhir depositonya. Well, penangguhan mungkin memang bisa diterima jika demikian (too risky for all ...jadi perlu alam antara pra pralaya?).  So, biarkan advaita niyama dhamma melayakan keniscayaan yang tepat bagi semuanya secara transenden impersonal termasuk juga siklus pralaya (demi penyegaran atau pemusnahan ?) .

atau tabel hipotesis yang agak 'gila' dari kami ini 
Skema Wilayah Tanazul Genesis & Taraqi Ekstasis meniscayakan keterrealisasinya transendensi impersonal bagi evolusi pribadi demi harmoni dimensi  

 

Wilayah

1

2

3

Transendental

Nibbana ‘sentra’ ?

Belum diketahui ? 7

Tidak diketahui ? 8

Tanpa diketahui ? 9

 

Nibbana ‘sigma’?

Belum mengakui ? 4

Tidak mengakui ? 5

Tanpa mengakui ? 6

 

Nibbana ‘zenka’ ?

Arahata 1

Pacceka 2

Sambuddha 3

Universal

Brahma Murni  (Suddhavasa)

Anagami 7 (aviha Atappa)

Anagami 8 (Sudassa Sudassi)

Anagami  9(Akanittha)

 

Brahma Stabil (Uppekkha )

jhana 4 (Vehapphala)

Asaññasatta 5 (rupa > nama)

Anenja 6 ( nama > rupa arupa brahma 4 )

 

Brahma mobile (nama & rupa)

Jhana 1 (Maha Brahma)

Jhana 2 (Abhassara)

Jhana 3 (Subhakinha)

Eksistensial

Trimurti LokaDewa

Vishnu 7 (Tusita)

Brahma 8 (Nimmãnarati)

Shiva 9 (Mara?  Paranimmita vasavatti)

 

Astral Surgawi

Yakha  (Cãtummahãrãjika) 4

Saka  (Tãvatimsa) 5

Yama (Yãma)6 

 

Materi Eteris

Dunia fisik(mediocre’ manussa  &‘apaya’ hewan iracchãnayoni) 
+ flora & abiotik ? / 1
Eteris Astral apaya (‘apaya’ Petayoni & ‘apaya’ niraya)
2
Eteris Astral apaya Asura  (petta & /eks?/  Deva ) 
3

10 ? transendental 3 + universal 3 + eksistensial 3 = 9 ?  9 dimensi mandala di atas + 1 for Indefinitely Infinitum ( Realitas Aktual Transenden > Fenomena Formal Immanen dari personal laten deitas  ) for humbling in progress to mystery. 

TAMBAHAN =

Secara filosofis (hanya inferensi hipotetis, lho) tampaknya masih ada 2 (dua) level tataran keberadaan diri paska Asekha (Arahata, Paccekka, Sambuddha ) yang belum diungkapkan (mungkin akan dicapai) Buddha Gautama di wilayah transenden lokuttara dimana kebijaksanaan Sakshin akan keannattaan diri dari dagelan nama rupa  samsarik bukan hanya layak dalam notion berpandangan namun juga  dalam pencapaian via realisasi penempuhan tidak sekedar referensi pengetahuan belaka.
- Asekha = telah bajik terjaga ( namun dengan klaim mandiri tersucikan ... keakuan azaliah zenka nirvanik ?) 
See : Aneka Jati (Dhammapada 153 -154) Udana Vatthu
- Advaita = telah bijak terjaga (tanpa klaim kesudah-sucian pribadi ... keesaan azaliah sigma mandala ) 
See : amala avimala ( Prajna Paramitta Hrdaya Sutta ) 
- Adibuddha : telah benar terjaga 
See : Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam (Udana 5.3 Parinibbana )
Sudah selesai ? 
Walau dalam mandala zenka keberadaan diri mungkin sudah cukup namun masih belum untuk wawasan/ tataran kesedemikianan keseluruhan sigma & sentraNya. Memang agak spekulatif  jika kita lanjutkan bahasan alternatif  multiverse sigma & Maha Sentra.
multiverse sigma = 
Mandala wilayah keberadaan yang kita huni ini mungkin hanya satu dari sekian banyak lokadhatu serupa yang ada. Tidak sekedar dimensi kamavacara bawah  dunia  fisik ini saja  (quantum paralel) namun bahkan hingga seluruh mandala keberadaan spiritual zenka keberadaan diri bahkan hingga lokuttara. Mungkin ada wilayah yang lebih luhur namun ada juga yang lebih parah dari mandala spiritual kita. Yang paling luhur asymptot berada mendekati Maha Sentra Azaliah SegalaNya yang paling parah kualitas kemurnian spiritualitas terlempar menjauh dariNya ( Walau kesemua yang immanen bagiNya tetap terlingkup dalam Wujud, Kuasa & Kasih TransendenNya).
Maha Sentra = Dhamma Dhyana segalaNya 
Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )
Dhamma Dhyana akhir segalaNya ? Dhamma & Dhyana adalah state keberadaan abadi sejak azali Tuhan ? Ini agak susah diungkapkan ... bahkan jujur saja ini imaginasi intelektual yang agak kami paksakan karena sudah terlalu sulit bagi kami meng-inferensikan kemungkinan tertinggi hanya dengan apersepsi pengetahuan tanpa aktualisasi penempuhan apalagi realisasi penembusan. Mungkin agak mirip (tapi harus dengan inferensi kedalam/atas bukan analogi keluar/bawah, lho ... supaya tetap murni naik tidak jatuh karena klaim semu )  dengan Hipotesa Saguna-Niskala pada Brahma Vidya mistik Hinduisme  atau ibarat baskom air jernih yang merefleksikan matahari di atasnya seperti mistik kejawen ... Seluruh keberadaan ini adalah refleksi semu belaka dari wujud keberadaan, kehendak dan kasih sayang Causa Prima azali, Sentra Segala Abadi & Destinasi Orientasi dalam kesedemikiananNya (mumkimul wujud atas wajibul wujud Sufisme).  Jadi, Tuhan transenden suci dari segala kenaifan, kesemuan & keliaran deifikasi, identifikasi & eksploitasi kita (bahkan seharusnya jika itu hanyalah figure/ konsep laten deitas keilahian immanenNya saja ) dan tidak mungkin bahkan tiada layak bagi kita untuk menjadikanNya ( menjerat /memperalat ?) demi bemper kebodohan/kemanjaan diri, media katarsis psikologis /transaksi pencitraan dan kloset pembenaran pemfasikan/ kezaliman kepada lainnnya ... Walau Buddha memaklumi  keilahian kamavacara (masih mendamba terdefisiensi pada sensasi kebahagiaan eksternal pengakuan kekuasaaan atas lainnya ? yakha , dewata etc... see : ratana sutta & khanda paritta) namun tidak untuk level brahmanda (mengapa ? seharusnya sudah dewasa stabil mandiri akan kebahagiaan intenal atas fantasi keberdayaan energi ilahiahNya ... see : Brahma Baka ... )namun Beliau respek akan keilahian pada level lokuttaraNya (ajatan, abhutan, ashankata .. Hyang memang seharusnya sudah bukan hanya bijak, bajik namun benar  terjaga dalam esensi level murniNya tanpa klaim label keakuan apalagi pengakuan & pemujaan akan dagelan nama rupa kosmik ini ?). Well, kami agak menyayangkan pernyataan sejumlah tokoh (Osho,etc) terkadang terlalu berani mengkritisi term sensitif  Tuhan ini yang dideifikasikan dalam sakralisasi agama atau direalisasikan  dalam identifikasi kesatuan mistik ... Mohon berempatilah dalam dillema kosmik universal & publik eksistensial ini. Janganlah mencela (bahkan kalaupun terma konsep/ figure itu memang tercela apalagi untuk yang tidak sepantasnya dicela  .... awas labirin paradoks pengetahuanm penempuhan & penembusan dalam triade evolusi-harmoni-sinergi)  ...  

Bagaimana dengan Tao ?
Tao sering didefinisikan sebagai Roh Universal yang berada dalam segalaNya ... Kesempurnaan azali yang terus menyempurnakan kesempurnaan abadiNya.(keutamaan > kebenaran > kenyataan ?). 
Konsep absurd : Tao adalah Tao – jika kau bisa menggambarkannya itu pasti bukan Tao. 
Well ... Paradigma Panen-Tao-istics mungkin bisa juga digunakan SBNR karena ini walau sekuler namun akan lebih ilmiah ketimbang panen-Theis-tics SBNR yang kami ajukan karena lebih autentik & holistik tersentralisasi untuk aktualisasi penjelajahan tanpa terbelenggu sakralisasi ... namun jaga keberimbangan & keseimbangan dalam pertumbuhan perkembangannya agar tetap teraktualisasi sempurna dalam pengetahuan, penempuhan & penembusannya .
Wah .. paramitta Boddhisatta 3 layer untuak akselerasi pelayakan keniscayan diri  jadi boleh dilakukan bagi evolusi pribadi namun tetap jaga harmoni kebersamaan dan sinergi kesemestaan jika tercapai kelayakan untuk tidak jatuh apalagi menjatuhkan lainnya (dakhina effect ?! )
Be True, Humble & Responsible ? harusnya lebih tepat/ nekat lagi ... True dimaknai sejati tidak sekedar dalam laku kejujuran namun asli autentik dalam kemurnian, humble menghampa untuk sempurna merengkuh segalanya tidak sekedar merendahkan hati untuk reseptif meninggikan kelayakan diri & responsible karena memang itu keniscayaan yang terjadi, kan ? (Jadi tidak lagi perlu benalu pengharapan  yang akan merendahkan kelayakannya apalagi penganggapan konyol keakuan yang justru bukan hanya memandekan namun bisa saja menyesatkan dan menjatuhkan level realitas ... labirin paradoks papanca input karena output ?) Just Wei Wu Wei ... hanya persembahan keutamaan (wah ...  termanya lebai banget ... untuk sekedar pengetahuan bolehlah tetapi untuk menghindari klaim penghebohan kepekokan bagi penempuhan untuk penembusan risih juga,nih ... main kepekaan rasa tidak asal klaim idea saja, bro ... hanya ada tindakan kebaikan tanpa keakuan yang ingin pengakuan apalagi pemujian/ pemujaan dan tiada kemauan untuk mementahkan kelayakan peniscayaan yang seharusnya memang sudah pasti .. Meminjam istilah Panen-Theistics SBAR kami : kita hanyalah ketiadaan murni yang seharusnya selaras mengada dihadapanNya tanpa harus mengada-ada dalam keakuan tiada perlu meng-ada adakan dengan kemauan .... apa yang layak akan terlayakkan pada saatnya karena itu kaidah Dhamma kebenaran di setiap dhamma kenyataan sesuai dengan kepastian Dhamma dari DhyanaNya.

KUTIPAN : trium falisme - standar ganda - pembenaran addhamma 
Terbabarnya Kaidah kosmik yang realistis ini sesungguhnya yang dinanti para genius scientist selama ini (Einstein, dsb). Kaidah Universal bagi semua tanpa ternodai klaim trium falisme (pembanggaan lebih baik dari lainnya hanya karena untuk anggapan sudah terlegitimasi ?) , standar ganda (karena merasa lebih baik maka apapun pandangan/pribadi/prilaku seburuk apapun itu harus diakui baik oleh lainnya) apalagi pembenaran addhamma bagi lainnya (pelaziman kezaliman karena klaim merasa lebih baik berhak melakukan ketidak-baikan kepada yang tidak baik) ... Berempatilah agar tidak tersekap pada logical/ ethical fallacy semacam ini. Desain kosmik sudah hancur sejak dahulu jika Kaidah Kosmik ini diakidahkan apalagi didaulahkan dan didiniahkan kacau seperti ini ... jangankan surga kamavacara (apalagi moksha Brahmanda atau Nibbana lokuttara), dunia manusiapun (bahkan Brahmanda bawah, wilayah kamavacara hingga apaya lokantarika) akan tidak layak baginya walau segala wilayah mandala ini  'terpaksa' tetap harus menerimanya sebagai laten deitas keberadaanNya dengan segala konsekuensi logis beban pralayanya. / Istilah religius SBARnya muflisin yang mustarohun minhu ? Orang fasik yang sudah tidak hanya pailit nol amal kebajikannya namun masih boleh dibangkrutkan lagi karena full noda kejahilan & dosa kezalimannya pada lainnya sehingga di wilayah manapun dia berada menyebabkan setiap diri dan alamnya berharap untuk segera bisa beristirahat dari kesombongan, keserakahan dan kedurjanaannya /  
Diperlukan Ariya Dhamma bukan apaya Dhamma bagi perbaikan x kejatuhan manusia 

Tiga Pesan Abadi keheningan kosmik yang diungkapkan para Buddha : Jauhi kejahatan, jalani kebajikan, sucikan fikiran
 
https://www.youtube.com/watch?v=tig-9g5RYrc&list=PLZZa2J4-qv-bpW9lgcl0XfLNL7tfMzZZD&index=63&t=34m55s
Link Data: www.tiny.cc/dhammapada-183: Bro Billy Tan (p. 12 - 20)
Jauhi kejahatan namun dengan tanpa membencinya, Jalani kebajikan namun dengan tanpa melekatinya dan Sucikan fikiran namun dengan tanpa mengidentifikasikan apalagi mengeksploitasikan diri padanya (Dhammapada : 183). Itulah paradigma (yang walau tampak terdengar "sederhana" namun sesungguhnya sangat sempurna / bijaksana ) wejangan para Buddha untuk bukan hanya melalui namun juga melampaui samsara menuju Nibbana yang direalisasikan dalam keterarahan /keselarasan simultan triade pemurnian Sila - Samadhi - Panna.

Agama Masa Depan adalah Agama Kosmik (berkenaan dengan Alam Semesta atau Jagad Raya). Melampaui Tuhan sebagai suatu pribadi serta menghindari Dogma dan Teologi (ilmu ketuhanan). Meliputi yang Alamiah maupun yang Spiritual, Agama yang seharusnya berdasarkan pada Pengertian yang timbul dari Pengalaman akan segala sesuatu yang Alamiah dan Perkembangan Rohani, berupa kesatuan yang penuh arti. ( ALBERT EINSTEIN )
Buddhism sesuai dengan Pemaparan ini. Jika ada agama yang sejalan dengan kebutuhan Ilmu Pengetahuan Modern, maka itu adalah Ajaran Buddha
Promo Buddhism kami hapus ya, bro.... Bukan karena kami berlabel Non Buddhist.  Ini sama sekali bukan masalah konversi penganutan agama eksistensial tetapi murni aktualisasi penempuhan Dhamma Universal. Faham , ya ... bahayanya klaim (just idea  ... alagadupama sutta ?)
Kami berharap kalian SBNR bukan kami yang mengungkapkan berdasarkan bukti realisasi bukan sekedar hujjah sakralisasi apalagi opini referensi belaka  (tanggap ya ... mengapa kami tak menjawab 'mengapa' dan 'bagaimana' selama ini). Bukan hanya karena sungkan karena kebelum-layakan level padaparama kami namun yang paling utama riskan untuk mengkhianati keberadaan SBAR kami plus segala dampak resiko yang tetap perwira kami terima . 
Tanpa kedengkian untuk menghalangi (dan juga bukan manuver untuk mengerjai dalam kejahilan pembodohan eksternal, kefasikan pembenaran memperdaya diri internal apalagi kezaliman untuk menghancurkan keseluruhannya) ... Jika kami SBAR belum bisa atau tampak pasrah saja bukan berarti SBNR juga harus diam tidak perlu bisa, kan ?  

BROKEN LINK  VIDEO ?

welcome to the earth = selamat datang ke dunia (sebagai manusia )
welcome to the earthdiganti

sudah kami hapus, guys ... sungkan (notifikasi karena keluhan pemilik atas hak ciptanya di channel youtube kami). maaf,ya ?
ada gantinya dari channel lain juga hilang lagi nih ...

welcome to the earth = selamat datang ke dunia (sebagai manusia )
welcome to the earth

dari  : https://www.youtube.com/watch?v=f1j87Mj562s&list=PLZZa2J4-qv-YsOH1t3O8CgDr6C4R-4gE4&index=14&t=84m59s
sudah kami hapus, guys ... sungkan (notifikasi karena keluhan pemilik atas hak ciptanya di channel youtube kami). maaf,ya ?
BROKEN LINK 
GANTI 
SUDAH KAMI HAPUS LINKNYA ... ADA LAGI DARI YOUTUBER LAIN ?  LUPA LINK-NYA ? apa DIHAPUS JUGA ... COPY RIGHT LAGI ?
The Secret l Rahasia Kesuksesan l Rahasia Kehidupan I Hukum 
Tanpa niatan merampas hak cipta atau bermanuver mengeksploitasi jika kami mengatakan : Kebaikan yang dilakukan disini & saat ini namun belum terbalaskan akan kita terima juga di sana pada saatnya (Hukum kelayakan > ketamakan LOA ?! ). 
Jadilah pacaya bagi kebaikan bersama (piutang karmik kebajikan > hutang kosmik keinginan = media pralon bagi tandon kosmik)  
wah ,,, masih ada lainnya. Thanks. (gapapa ... diwatermark, bro)
The Secret FULL MOVIE Law Of Attraction
https://www.youtube.com/watch?v=IhQEoH5s_5c&ab_channel=DevineConnectionHealing
https://www.youtube.com/watch?v=IhQEoH5s_5c&list=PLZZa2J4-qv-ZBWPEiuMhyQJhEcUR6ou3k&index=13
Link data =
2 WISDOM OKE/SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
2 WISDOM OKE/SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
atau 
SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
REKAP REHAT 30072022/DATA/ANEKA/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
REKAP REHAT 30072022/DATA/ANEKA/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
APA DIREUPLOAD CLIP INI SAJA , YA ... SUDAH DAPAT TEGURAN, NIH. HEHEHE ... PAKAI AKUN VLOG LAIN AJA. 
NGGAK, AH ... WALAU BISA SUKSES TETAPI NGGAK BERKAH.
plus video Dhamma tentang LOA 
link text https://drive.google.com/file/d/1Ck7oblJ-mIxbXq3GylODJJNPBZz0wUxY/view
atau https://archive.org/download/secretoke/SECRET%20OKE.rar
Namun demikian dalam realisasinya secara Dhamma .... segalanya harus dilayakkan.
Oleh karena itu  anda sebaiknya juga menyaksikan tayangan Dhamma Desana oleh Bhante Uttamo (Bhikkhu popular Theravada) dan Alm. Cornelis Wowor (Expert Novice – mantan Bhikkhu?)  pada link berikut :
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 1 dari Edwin Dtv  https://www.youtube.com/watch?v=ztOfjnTHMSg
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 2 dari dhamma televisi https://www.youtube.com/watch?v=u3WwwWWuqUo
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 3 dari DHAMMA TV https://www.youtube.com/watch?v=TPdyBOLOS3o
Dari Mystics video Sadhguru Yasudev = Law of Attraction simplified by Sadhguru

BROKEN LINK lainnya 

GANTI 
SUDAH HILANG LINKNYA ... ADA LAGI ...  LUPA LINK-NYA ?
MASAK SIH ... KAMI HARUS REUPLOAD LAGI (paska Dhammadipateyya & Vimutti Magandiya )

 

Kewajaran Pembumian 
(deduktif  pengetahuan)
dengan kecakapan spiritual ?
SHIVA
Vitalitas interaktif menari dengan kehidupan nyata
Kesadaran Nekhama  
(induktif  penempuhan) 
demi kearhatan spiritual? 
BUDDHA 
Integritas autentik menuju peniscayaan kesejatian murni

 

https://www.youtube.com/watch?v=jHRjJygTkPA&list=PLZZa2J4-qv-ZvsV83eVEiRBtw2dLvbu91&index=2&t=5m&35s

https://www.youtube.com/watch?v=MiGKxvXhI8Q&list=PLZZa2J4-qv-bpW9lgcl0XfLNL7tfMzZZD&index=32&t=32m57s 

 

kearifan internal untuk kebaikan eksternal  (Walau memang) anda tidak bisa melakukan apa yang anda inginkan apapun (dengan seenaknya) tetapi anda bisa hidup (tetap bahagia) seperti yang anda inginkan – /3m12s/  aksi haruslah sesuai dengan yang dituntut situasi  /4m41s/ berlatih hidup dalam satsang untuk hadapi kenyataan hidup /5m21s/

Memahami aksi yang diperlukan Semua yang anda lakukan adalah aksi tindakan /5m35s/ Apakah anda melakukannya dengan sadar consciously (aksi tindakan berkesadaran ) atau melakukannya secara kompulsif (secara bodoh seakan jebakan nyata ) adalah pilihan / 5m41s/ Lakukanlah aksi dengan sadar maka hidup akan indah /6m10s/ Hidup bukan jebakan pintu keluarnya selalu ada  terbuka lebar  tidak untuk dihindari  /6m17s/ Apapun yang anda fikirkan, rasakan & lakukan adalah aksi anda /7m11s/  

Menentukan aksi sesuai cara hidup Jika anda menetapkan cara diri anda, maka apapun yang anda lakukan hanya tergantung dari situasinya. Tergantung dari situasi apa yang ada, sesuai dengan itu kita bereaksi     /8m3s/ Aksi sesuai dengan situasi tuntutan dan tawaran (namun) cara hidup (tetaplah) milik anda  /8m30s/ Jika anda telah memutuskan cara hidup , hiduplah secara itu , lakukan aksi sebagaimana diperlukan /8m39s/

Pengetahuan & Penempuhan Dhamma Pengetahuan Dhamma tidak lah identik /jaminan pasti akan praktek penempuhan nyata pribadi/prilaku seseorang   /19s / Kesulitan belajar Buddha Dhamma karena pembandingan dengan system lain & proses pencapaian nyata  / 11m/ Pembelajaran Dhamma bertahap tidak sekaligus & sesuai kemampuan penerima  /14m11s/ Kebajikan memberi (x meminta)  karena cinta kasih persahabatan kehidupan  universal  & respek penghormatan /16m13s/ Memberi bukan pilihan tetapi keniscayaan dalam kehidupan /19m9s/bahkan kewajiban moral Dhamma  untuk berbagi /21m49s/Pengendalian diri untuk tidak berprilaku buruk mengacau /22m49s/  Kebaikan walau memang berdampak baik juga namun tanpa perlu kepamrihan harapan /25m31s/apalagi bebas dari kemalangan ? Tetapi /26m45s /.. jarang dengar dhamma /30m57s/

 Melengkapi inner strength kesadaran  Menjalani Dhamma saja tidak cukup harus ada pengetahuan kebijaksanan  /32m57s/ agar tidak sombong /36m9s/ benci kesal /37m/ /41m51s /melengkapi  inner strengrth kekuatan mental di dalam untuk hindari jebakan kesombongan, kebencian /44m57s/ kesadaran mendeteksi fikiran buruk yang muncul 

Keterlatihan sikap nekhama (melepas)  /45m27s/ dengan kesadaran juga berlatih nekhama melepaskan  (tdk harus sebagai bhikkhu) /45m56s/ melepaskan dalam memberi dengan kesadaran tanpa perangkap harapan untuk mendapatkan yang lebih banyak ( bukan hakekat  memberi 46m24s) /48m35s/ menjaga  sila supaya kotoran batin internal berkurang  /49m40s/ latihan  melepaskan keinginan /51 m/ tanpa kemampuan sikap melepaskan kita akan menderita  karena hal tsb adalah kenyataan alamiah /52m2s/ nekhama sebagai latihan yang tidak bisa dipilih … keniscayaan yang harus dilatih. Keniscayaan melepaskan adalah keniscayaan tetapi sikap untuk melepaskan harus dilatih. Untuk tidak menderita hingga akhir hidup. /52m39s/ kebajikan melepaskan membuat orang bahagia karena tidak bertentangan dengan hokum universal ini

Kearifan Shiva Buddha ? intinya sama dengan kesadaran dalam kewajaran (cara pasti tetapi aksi luwes) integritas di kedalaman namun vitalitas di permukaan .walau tetap tampak dalam kewajaran di permukaan namun senantiasa menjaga kesadaran di kedalaman untuk. memberdaya kecakapan, kemapanan & kearhatan (dimanapun ,kapanpun dan sebagai apapun peran keberadaannya)... progressive in progressing. Jika saja proses pemberdayaan ini memang berjalan sehat dan tepat tampaknya kemurnian & kesejatian akan berpotensi segera terealisasi nyata.
Wei Wu Wei = Just consciously action x being compulsive actor
Well ... akhirnya ketemu video pengganti ... ganti link , ya.

diganti 
https://www.youtube.com/watch?v=qfc2wHA5mcE&list=PLZZa2J4-qv-ZBWPEiuMhyQJhEcUR6ou3k&index=13&t=710s
time stamp jadi nggak pas, nih.

NGGAK APA APA, YA  .... LANJUT 

Dari WA group alumni SMA = 
Di bawah lamgit ini kau tidak sendirian ... Tuhan menciptakan perbedaan jauh sebelum engkau dilahirkan. Siapa yang menciptakan perbedaan ? Tuhan itu sendiri. Jika Ia mau semua seragam sudah dibuatnya dari dulu. (selamat tahun baru imlek 2022)
juga 


Selamat Natal 2022 bagi saudara kami umat Kristiani 
dan Selamat Tahun Baru 2023 bagi semuanya 



Parama Dhamma = 
Gnosis Panentheistik dengan Tuhan yang 'absurd' (Konsep Impersonal Transenden > Figure Personal Immanen)  
Mandala Advaita 
'lokadhatu' mandala advaita Sentra ( plus Maha Sentra aneka lokadhatu = dimensi paralel lebih/paling tinggi, rendah dari 'lokadhatu' kita)
Formula Swadika  
Referensi Penempuhan merealisasi (tugas sharing mereka berdasarkan realisasi untuk mengabarkan ketepatan referensi & kemungkinan keberlanjutan berikutnya)

Asyik juga, nih ...Ini hanya inferensi atau imaginasi idea intelektual belaka untuk disikapi secara terbuka demi membentang alternatif paradigma berikutnya ... memang bukan realisasi autentik namun tidak juga halusinasi metafisik  agar tetap harus waspada untuk tidak langsung percaya tanpa pembuktiannya.... maklum, jujur saja padaparama , bro.


KONSEP GNOSIS EXODUS WISDOM (DARI SBAR BAGI SBNR)

Lama juga kami memikirkan ini ... (sambil download seri terakhir drakor One Dollar lawyer, nih ) 
Wah .. tetap mengapresiasi karya drama ini walau agak konyol plus https://dramaid.online/may-i-help-you-episode-06/
Beralih ke seri lanjutan bahasan filsafat Stoik yang lebih kaya hikmah saja ? YF La Kahija - Eling lan Awas
atau Gnosis Buddhism atau lainnya mengisi malam minggu ini. 

SPIRITUALITY ALSO FOR SECULAR PERSON OR JUST FOR RELIGIOUS PEOPLE ?

DRAKOR = ATTORNEY WOO EPISODE 5 SUBTITLE =
 
Drakor Extraordinary Attorney Woo ini unik & menarik bukan hanya bagi kami namun bahkan pemirsa intenasional.... ratingnya juga sangat tinggi (tertinggi malah) di Korea ... tema, script & akting oke plus lah.  Tentang pengacara autis yang memiliki daya tangkap intelektual hebat walau daya tanggap eksistensial lemah ... susah mau bilangnya. Ini kutipan dialog autentik episode 5 yang mengesankan kami antara Woo Young-Woo (Park Eun-Bin) dan Lee Junho (Kang Tae Oh)

ENG


00:26:49,624 --> --> 00:28:51,621
There used to be someone on my team who was a former detective. And he would always say, "The most honest part of the human body are the legs and then the hands."
The legs and then -the hands?
-Yes. Apparently, the further things are from the head, the more difficult it is to control completely.You can fake a facial expression, but it's hard to control shaky legs or sweaty palms.
And what else?
If someone is sitting down like they're ready to bolt out of the room or has their arms stuck to their body like this as if they're tied to the chair.Or if they keep stroking their thighs with their hands. He said those things could be signs of lying.
Geu-ra-mi told me to look between the eyebrows. The former detective said the legs and hands are the most important..Ultimately, do I have to look at the entire body? This is quite difficult.
Why don't you just have a casual conversation? Trust your instincts.
My instincts suck. People with autism are easily fooled and are not able to lie. If there was a competition to be fooled, a person with autism would win.
Why is that? Is it because people with autism are innocent?
Well…It's more like people live in a world that is made up of me and you  but people with autism are more used to living in a world made up of only me. People can think differently from me or have different intentions and trick me. I understand this with my head, but I keep forgetting. I have to make a conscious effort at all times to not be fooled by lies.
These stories help.
They do?
Yes. They help me understand you.

00:26:49,624 --> --> 00:28:51,621
Dahulu, ada mantan detektif di tim litigasi. Dia selalu berkata, "Bagian paling jujur dari tubuh manusia adalah kaki, lalu tangan."

Kaki, lalu - tangan?
- Benar.Semakin jauh dari kepala, semakin sulit mengontrol sepenuhnya.Ekspresi wajah bisa dipalsukan, tetapi sulit mengontrol kaki yang gemetar atau telapak tangan berkeringat.
Apa lagi, ya?
Benar, duduk seperti bersiap untuk kabur,atau lengan menempel di tubuh serasa diikat ke kursi. Juga, terus menggosok paha dengan tangan.Dia bilang hal-hal itutanda orang tersebut berbohong.

Geu-ra-mi menyuruhku melihat di antara alis,tetapi mantan detektif bilang kaki dan tangan adalah hal yang paling penting. Pada akhirnya, kita harus melihat seluruh bagian tubuh. Sulit sekali.
Mengapa tidak mencoba mengobrol seperti biasa? Percayai instingmu.
Instingku payah. Orang autis terkenal mudah ditipu dan tidak bisa berbohong.Jika ada kompetisi untuk dibodohi,orang autis akan menang.
Mengapa begitu?Apakah karena penyandang autisme polos?
Itu…Itu lebih seperti…orang-orang hidup di dunia yang tercipta dari "aku dan kau,"tetapi orang autis terbiasa hidup di dunia yang hanya tercipta untuk dirinya.Orang dapat berpikir berbeda daripadaku,atau bisa menipuku dengan niat lain. Aku memahaminya di kepalaku,tetapi terus lupa akan hal itu.Aku harus terus melakukan upaya sadar agar tidak tertipu oleh kebohongan.
Cerita-cerita ini membantu.
Benarkah?
Ya.Cerita-cerita ini membantuku memahamimu.


00:59:52,355 --> 01:01:38,753
Attorney Woo?
So, ultimately, I helped Ihwa ATM take advantage of the law.
Excuse me?
Applying for model utility rights, and filing for the injunction were all lies to monopolize the contracts. 
And instead of stopping them, I helped. And what's worse is… I think I already knew that.
When we visited Ihwa ATM, did you think Director Hwang and Manager Bae were speaking the truth?
Well… -I…
-There's no way you did.Try to remember what Mr. Bae was like at the time. Sitting down with his legs looking like they're ready to bolt out of the room, his arms stuck to his body as if he was tied to the chair, repeatedly stroking his thighs with his hands, and even rubbing the tip of his nose. He was a lie in and of itself.
Right.
In the end, I fooled myself, pretending not to know the truth when I did. Because I wanted to win.
Right.
I'm ashamed.

00:59:52,975 --> 00:59:54,017
Pengacara Woo?
Pada akhirnya,aku membantu ATM Ihwa memanfaatkan hukum.
Apa?
Hak utilitas model dan disposisi aplikasi sementara. Semua adalah kebohongan untuk memonopoli kontrak.
Bukannya menghentikan, aku malah membantu mereka. Lebih parahnya lagi… sepertinya aku sudah mengetahui tentang hal ini.
Saat mengunjungi ATM Ihwa, apa menurutmu Pak Hwang dan Pak Bae mengatakan kebenaran?
Itu…- Menurutku…
- Tidak mungkin. Ingatlah tingkah Pak Bae saat itu. 
Duduk seperti bersiap untuk kabur, lengan menempel di tubuh serasa diikat ke kursi, menggosok paha dengan tangan, sampai menggaruk ujung hidung.  
Dia berbohong.
Benar.
Pada akhirnya, aku membodohi diriku dan berpura-pura tak tahu yang sebenarnya. Aku menipu diriku. Karena ingin menang.
Benar.
Aku malu.


01:02:14,663 --> 01:03:27,069
ATTORNEY WOO YOUNG-WOO
PLEASE READ THIS, ATTORNEY WOO
WHY ARE YOU DISREGARDING THE TRUTH?
DO YOU WANT TO BE A COMPETENT ATTORNEY WHO ONLY WINS IN COURT?
OR DO YOU WANT TO BE AN HONORABLE ATTORNEY WHO REVEALS THE TRUTH?

01:02:14,663 --> 01:03:27,069
PENGACARA WOO YOUNG-WOO
TOLONG BACA INI, PENGACARA WOO
MENGAPA KAU MENUTUP MATA?
APA KAU INGIN JADI PENGACARA KOMPETEN YANG HANYA MENANG DI PENGADILAN,
ATAU PENGACARA TERHORMAT YANG MENGUNGKAP KEBENARAN?

Well  .... lanjut ? Sekedar menepati janji 

Lanjut dulu, ah ....
Ada satu baris kalimat dari satu buku di rumah seorang teman seeker (sayang lupa judulnya ... habis lama, sih .... 25 tahun yang lalu, paska reformasi awal). Masa depan dunia manusia (maksudnya : bukan hanya keberadaan peradaban eksistensialitasnya namun juga perkembangan keberadaban spiritualitasnya) berada di pundak para aktualiser. Aktualiser (meminjam istilah Psikolog Abraham Maslow) adalah orang yang sudah tidak lagi bertindak karena terdefisiensi untuk membenarkan kepentingan pribadi namun sudah mantap (perlu mapan?) untuk mementingkan kebenaran sejati ?

Berpandangan benar, berpribadi bajik & berprilaku bijak diperlukan bukan hanya bagi setiap diri dan juga lainnya demi ketepatan evolusi pribadi, harmoni dimensi & sinergi valensi namun juga disetiap alam keberadaan (bukan hanya yang telah mencapai & menghuni alam bahagia semisal alam surgawi kamavacara, dimensi ilahiah brahmanda ataupun bahkan esensi murni lokuttara ... namun juga yang masih tersekap & menjebak dalam harapan / ratapan di alam fisik, apaya bahkan hingga lokuttara ... eh ... lokantarika kelak ?) dikarenakan kaidah kosmik pelayakan keniscayaan dalam keseluruhan yang sudah, sedang dan akan berlangsung demikian adanya. Ada state, peran & tugas yang harus diterima, dikasihi & dilampaui dalam setiap fase permainan keabadian yang kita sebut sebagai keberadaan (mengada > mengada-ada > mengada-adakan ?) ini. See : menghadapi keabadian - kehidupan - kematian (dalam kesadaran , kecakapan & kewajaran )

QUOTES = 
Sadhguru Yasudev Quotes : 
If you are looking for solace, belief system is fine. But if you are looking for a solution, you have to seek.
Jika anda mencari hiburan, sistem kepercayaan baik-baik sajalah. Tetapi jika anda mencari solusi anda harus mencarinya. 
Sadhguru Yasudev Quotes : 
The intelect which is based on memory is wonderful tool. However, it can only inform - it can not transform.
Intelek yang didasarkan pada memori adalah alat yang luar biasa. Namun ia hanya dapat menginformasi - dia tidak dapat mentransformasi.
Sadhguru Yasudev Quotes : 
Being a seeker of truth means refusing to make assumptions about things that you do not know.
Menjadi pencari kebenaran berarti menolak membuat asumsi tentang hal hal yang tidak anda ketahui.

kodok njero batok  ?  Kecerdasan video Sadhguru ? komik Chimni seri 'kutu dalam kotak'

 
SKETSA  (SBAR to SBNR )
Sebagai seorang manusia rasional positivist umumnya kita intelectually menggunakan filsafat untuk mengamati fenomena objektif di luar & psikologi untuk mengamati fenomena subjektif di dalam. Semula kami mengira hanya diperlukan 'parama dhamma' 4 (kearifan, keuletan, keahlian & kebaikan) untuk menghadapi kehidupan ini secara pragmatis namun akhirnya bersamaan dengan waktu & trial error kami menyadari kebijaksanaan perifer tepian permukaan itu ternyata tidak cukup ada kebijaksanaan mendalam lagi yang menjadi dasar untuk itu ... kesucian. Bukan karena pemurnian itu dimaksudkan sebagai faktor pengkondisi saja bagi keberkahan dan kesuksesan sejati namun tampaknya justru itu sentra dari keberadaan, kesunyataan dan kesedemikianan yang terniscayakan terjadi dan karenanya perlu peniscayaan untuk merealisasi.... terlepas apapun anggapan/pandangan diri kita semula (keharusan duniawi, kejatuhan surgawi, keterlupaan panentheistik, keterlelapan samsarik , dsb)   Realisasi spiritualitas tampaknya memang perlu keautentikan plus keholistikan  (minimal dalam wawasan walau belum dalam tataran ?).

Sadhguru Yasudev Quotes : 
If you are looking for solace, belief system is fine. But if you are looking for a solution, you have to seek.
Jika anda mencari hiburan, sistem kepercayaan baik-baik sajalah. Tetapi jika anda mencari solusi anda harus mencarinya.

Kutipan tentang Agnostisme :Keraguan Ehipasiko? 
Well, meminjam dialektika fragmenta apologetika Verkuyl  untuk rasionalisasi pembenaran ide & irasionalisasi  pembenaran ego Agnostisme ? 
- Dubois :   Ignoramus et ignorabimus : kita tidak mengenalNya dan kita tidak akan mengenalNya  
Namun kita tetap harus mengenalNya minimal menerimaNya sebagai Sentra SegalaNya karena bagaimana mungkin mengacuhkanNya jika kita berada dalam mandala permainan keabadianNya (triade lama : Wujud, Kuasa, Kasih ?).   
- Lessing : .Bapa, berilah aku hal mencari kebenaran karena atas kebenaran itu hanya Kau saja yang berwenang (Duplik, 1778)  
So ... Why not ? jadi tempuhlah pencarian kebenaran tersebut demi pembuktian & pengertian untuk memahaminya bukan untuk memilikinya.  Memang, perlu kerendahan-hati untuk kembali menuju/ mengarah ke  Hyang Maha Tinggi dalam pembatasan ketidak sempurnaan agar tidak stagnan untuk terus berkembang dalam kebermaknaan pengertian untuk mencapai  kebijaksanaan.
Well, just ... Sapere aude (Horace / Kant?) Be wise .. dare to know ... Bijaksanalah untuk berani (menjelajah meng-eksplorasi) untuk mengetahui / menerima (kebenaran pastinya). Tentu saja ini dilakukan tidak dengan asal-asalan apalagi hanya akal-akalan demi tujuan identifikatif (membanggakan keakuan) saja apalagi manipulatif (membenarkan kemauan) belaka... well, sebagaimana konsistensi kaidah kosmik di awal  mutlak diperlukan pemberdayaan internal akal sehat, hati nurani dan jiwa suci untuk mencari, menempuh dan menembus  kebenaran.  Perlu integritas kesungguhan autentik individual yang personal immanen untuk memahami totalitas keseluruhan holistik universal yang Impersonal Transenden ... sebagai zenka laten deitas putera keabadian untuk menyadari kembali Sentra sejati KeIlahian dengan sigma mandala Kaidah alamiah Saddhamma yang sesungguhnya berlaku nyata walau tanpa perlu pengakuan namun mutlak perlu penempuhan yang selaras denganNya.  Ketuklah maka pintu akan dibukakan - demikian kutipan kata Alkitab Kristiani yang pernah kami baca. Itu adalah pintu kebenaran yang sama bagi semua ... pintu tanazul yang menjatuhkan kebodohan/ kepalsuan kita dalam kesemuan, kenaifan dan keliaran permainan samsarik dan sekaligus gerbang taraqi yang mengarahkan kesadaran/ kemurnian kita kembali ke rumah sejati (minimal senantiasa mengingatkan kita akan hakekat segalanya yang murni dalam kesejatianNya dan karenanya dengan kemurnian yang relatif identik sebagai makhluk spiritual apapun label keberadaan & level keberdayaan pada saat lampau, kini & mendatang kita menyelaraskan cara pandang, laku penempuhan dan pelayakan keberdayaannya dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang ada.).  Jika zarah /wadah ? memang telah masak & layak segalanya tentunya akan terjadi sebagaimana yang seharusnya terjadi dalam kesedemikianan yang multi dimensional ini ... bukan hanya pada keberadaan eksistensial namun juga kesemestaan universal bahkan hingga  kesunyataan transendental.
Meminjam istilah Mahatma Gandhi ... bereksperimenlah dengan kebenaran (namun kami sarankan dengan membatasinya walau dalam kesadaran yang difahami namun tetap dengan kewajaran dalam menjalani secara tepat swadika pacceka  ... Be a Sakshin ).Memang ada evolusi pribadi yang harus dijalani namun harmoni sosial kebersamaan & sinergi kesemestaan kosmik perlu diperhatikan juga ... Tetaplah sebagaimana semula (beragama/ tak beragama, religius/ sekular etc)

KONSIDERAN PARADIGMA 

Akal Sehat - Hati nurani - Jiwa Murni  
(Logika Ethika ) Filsafat & Psikologi ; 
Dogma Agama ; Sistem Mistik ; Kaidah Dhamma .... See : pandangan, penempuhan, pencapaian 
kutipan :

spirituality is simple but not easy 
spiritualitas sebenarnya sederhana namun tidak mudah (difahami & dijalani )

From Truth Seeker SBAR to True Seeker SBNR ... A QUEST TO SEARCH FURTHER
KONSIDERAN PARADIGMA = SBAR atau SBNR 
https://www.youtube.com/watch?v=26xAGp1aIcQ&list=PLZZa2J4-qv-ZBWPEiuMhyQJhEcUR6ou3k&index=8

QUOTES = 
Segalanya terjadi karena keniscayaan bukan sekedar penganggapan atau pengharapan ... layakkan x lagakkan / angankan.
intinya : Spiritualitas adalah masalah aktualisasi .autentik (, holistik & harmonis) meniscayakan kesedemikianan dalam keseluruhan.

SBAR = SPIRITUAL BUT ALSO RELIGIUS
beragama ? beragamalah namun tidak tereksploitasi apalagi mengeksploitasi. Ingat ada kaidah kebajikan universal untuk harmoni.
bermistik ? bermistiklah namun tidak teridentifikasi apalagi mengidentifikasi. Ingat ada kaidah kebijakan transendental untuk evolusi.
berdharma? berdharmalah namun tidak teralienasi apalagi mengalienasi. Ingat ada kaidah kebenaran eksistensial untuk sinergi.
SBNR = SPIRITUAL BUT NOT RELIGIUS
Atheisme, Agnostisme , dst ? jika alergi dengan terma dogmatis varnatmak "Tuhan" dan sejenisnya ganti saja dengan istilah filosofis 'Dhunyatmak' Causa Prima (sebab awal keazalian) , Sentra segalanya (Inti utama keberadaan) atau Orientasi destinasi (asymptot tujuan akhir kesejatian abadi) atau lainnya. Ini bukan masalah kepercayaan namun keberdayaan, tidak sekedar pengharapan atau penganggapan belaka namun murni masalah pemberdayaan peniscayaan kesedemikianan ... just idea (etika bukan dogma). Ini bukan agama dan seharusnya tidak dipandang sebagai dogma dan sebaiknya selanjutnya juga tetap disikapi / difahami demikian sebagai idea saja adanya. Tidak ada figur sesembahan yang baru, kredo keimanan yang beda ... hanya share idea pengetahuan (imaginasi inferential filosofis ?) & etika penempuhan (realisasi experiential ? sebatas referensi belum realisasi ... jujur saja masih padaparama dihetuka, hehehe 

KUTIPAN =
Sesungguhnya kami tidak nyaman untuk jujur mengakui ini ... kami sebetulnya faham dan cukup tanggap bukan hanya akan silogisme tersirat namun juga fakta kenyataan di lapangan ....ini tidak sekedar tuduhan pembangkangan mereka bagi pengumbaran vitalisme neurotik saja namun terkadang autentik memang dikarenakan pandangan kebijaksanaan demi altruisme holistik yang diidealkan . Singkatnya, kehidupan berkeagamaan ,berketuhanan (dsb) kita memang sering tidak sesuai dengan evolusi, harmoni & sinergi yang seharusnya (ber-etika, bermartabat dan memberkahi  dunia ini ) bahkan seringkali justru sebaliknya (menyesatkan, menyusahkan & mengacaukan bukan hanya sekedar diri sendiri namun juga orang lain, komunitas kebersamaan bahkan ke segala dimensi keberadaan hidup ini) apalagi jika memang ada celah hujjah untuk melegitimasi pembenaran kepentingan pelaziman kezaliman tersebut.(trium falisme - standar ganda - pembenaran addhamma diri bagi lainnya ?).  kutipan : 3b) (Membicarakan soal Kebenaran dan Agama.docx). (prinsip dhatu kesesuaian > saddha kepercayaan )
Bukan maksud kami mengacaukan permainan peran (dagelan nama rupa) yang tengah berlangsung (sudah, sedang dan akan demikian juga nantinya) dengan mengungkapkan realitas kebenaran & fenomena kenyataan (pembabaran Dharma ... sungkan, bro? ... introspeksi level spiritualitas diri :padaparma dihetuka) apalagi kebodohan internal & pembodohan eksternal (pembeberan Avidya  ... riskan, lho ... harmonisasi label eksistensialitas diri : umat beragama  & berTuhan) untuk share idea yang relatif agak berat, luas & mendalam ini  bagi orang kebanyakan.  Kami cukup faham dan juga sadar akan keniscayaan konsekueensi penempuhan yang memang tidak selalu selaras bahkan terkadang sering kali justru tidak sejalan dengan kebijaksanaan pengetahuan kami sendiri tersebut. 
Semula kami menujukan share ini bagi kita insan beragama untuk minimal membawa kebaikan & perbaikan bagi semua (diri, alam & sesama lainnya) karena di alam dimensi manapun kita (dunia saat ini atau alam nanti) sebagai apapun kita (manusia, hewan, petta, yakha, asura , niraya etc... dewa, mara, brahma, ariya dsb) kebaikan & perbaikan kualitas diri dan alam tsb harus tetap terjaga & dijaga keberkahanNya untuk evolusi pribadi, harmoni dimensi & sinergi valensi keberadaanNya. Namun tampaknya mungkin justru mereka yang akan lebih bebas leluasa tanpa jeratan/ sekapan harmonisasi paradigmatik eksistensial  dalam memetik manfaatnya karena akan lebih autentik, harmonis & holistik  dalam memahami & mengembangkan bukan hanya kemendalaman / kebijaksanaan  pengetahuan namun juga capaian penempuhan dan layaknya keniscayaan selanjutnya. Well, sesungguhnya diperlukan tidak sekedar hanya kebaikan (kamavacara), kearifan (brahmanda) ataupun kesucian (lokuttara) namun juga keutuhan (apa istilah term baru ini ...self term kami : Adhyatama saja, ya ? Maha Diri Azali Hyang Abadi ) sedangkan untuk ke'zero'an selanjutnya tidak kami rekomendasikan (dampak annihilisasi diri zenka bagi alam sigma & inti sentra, labirin paradoks tanazul MLD kejatuhan lagi & terutama level spiritualitas diri ...hanya Asekha diri yang telah murni dari jebakan delusi keakuan/ sekapan tanha kemauan samsarik maka  paska nibbana juga advaita & paramatta yang memang layak (tidak asal berlagak  ... jadi kita ? ya nggak mungkinlah. Secara autentik kualitas Keakuan kita masih naif apalagi kemauan kita masih liar ... walau mengharapkan pembebasan Nibbana, mendambakan manunggaling kawulo gusti Brahmanda ataupun dijanjikan layak jannah astral namun ... jika saja tidak didukung dengan akumulasi kelayakan yang memungkinkan keniscayaannya tampaknya memang harus barzah eteris dulu karena memang kelayakann/kelaparan akan penganggapan & pengharapan itu atau jika akumulatif MLD memang besar/ sangat tebal akan jatuh lebih rendah lagi dari sebelumnya ) Lanjut ke asymptot ke'zero'an .... namun demikian kalaupun mungkin memang layak dan juga  mampu (?) Dia mungkin akan tetap benar, bijak dan bajik untuk tidak menembus keIlahian Inti Hyang tidak hanya personal immanen namun juga Impersonal transenden ini demi kebijaksanaan keseluruhan kesedemikianan ini ... Dalam keswadikaan diri menjadi selaras dalam keseluruhan mungkin memang lebih tepat (tanpa harus hebat ? jumbuhing karso kawulo gusti x manunggaling wujud kawulo gusti ! ) ketimbang sempurna dalam kesemestaan alam & kesendirian inti pada mandala kesedemikianan ini ? (Imaginasi inferential filosofis gila atau gila-gilaan, nih .... hehehe, asal kesadaran tidak gila beneran dan kewajaran masih tampak waras ndagel patut x mbacut mbadut bersama figure peraga lainnya ). Secara pribadi kami tidak memandang tinggi / rendah wilayah  karena segalaNya berada dalam mandalaNya  dan  seharusnya juga kepada segala ego  figure/ ide konsep yang memang/ mungkin 'ada' padanya ... terlepas dari preferensi keinginan & hierarki kelayakan yang terjadi.

SKETSA  (SBAR to SBNR )
Niatan semula kami sebenarnya untuk mengembangkan gnosis wisdom bagi para spiritualis religius namun akhirnya kami rasa perlu juga mengajukan bagi para spiritualis sekular (bahkan kami kira ini lebih tepat ... tidak sungkan membabarkan Dhamma & tanpa riskan membeberkan Avidya ). Masak sih ada spiritualitas bagi para agnostik, atheist  (kafirin , murtadin ?). Kalau tradisi agama, mistik & dhamma mungkin tidak ada .... tetapi filsafat masih mungkin bisa.

QUOTES = 
Sadhguru Yasudev Quotes : 
Only in transendence can there be transformation. When you keep rising from where you are right now, one day you will be profoundly transformed. 
Hanya dalam transendensi dapat ada transformasi Ketika anda terus bangkit dari posisi anda saat ini, Suatu hari anda akan ditransformasi secara mendalam .
Sadhguru Yasudev Quotes : 
Whatever competence, capabilities and genius we may have - all of it is meaningful when there is balance.  
Apapun kompetensi, kemampuan dan kegeniusan yang mungkin kita miliki. Semua itu bermakna hanya jika ada keseimbangan.
Sadhguru Yasudev Quotes : 
Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.
Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menrmpuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka

Filsafat memang sering dipandang kompleks namun rendahan ... hanya paradigma pengetahuan bukan penganutan agama, pencapaian mistik ataupun penembusan dhamma. Well dengan perendahan ini kok malah jadi lebih nyaman & mantap jika kami ajukan Kaidah Gnosis Exodus Wisdom rintisan bagi penempuhan spiritualitas holistik & harmonis yang walau sekular namun selaras dengan referensi (realisasi ?) spiritualitas religius dari aneka ajaran agama, mistik & dhamma ... Siapa tahu penjelajahan autentik mereka para SBNR (Spiritual But Not Religious) justru akan membuka dimensi baru yang tidak bisa kita lalui apalagi lampaui ( karena pembatasan berafiliasi & keterbatasan aktualisasi yang harus kita lakukan sebagai umat awam SBAR (Spiritual But Also Religious). Ingat ... segala sesuatu terjadi karena peniscayaan bukan sekedar penganggapan apalagi pengharapan belaka.

Sadhguru Yasudev Quotes : 
Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.
Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menempuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka.

DIALOG  DALAI LAMA & LEONARDO BOFF

dalai lama 


Link data = 
Link video =

DIALOG WITH DALAI LAMA
the Brazilian theologist Leonardo Boff wrote: In a round table discussion about religion and freedom in which Dalai Lama and myself were participating at recess, I maliciously and also with interest, asked him: “Your holiness, what is the best religion?”
I thought he would say: “The Tibetan Buddhism” or “The oriental religions, much older than Christianity.”
The Dalai Lama paused, smiled and looked me in the eyes …. which surprised me because I knew of the malice contained in my question.
He answered: “The best religion is the one that gets you closest to God. It is the one that makes you a better person.”
To get out of my embarrassment with such a wise answer, I asked: “What is it that makes me better?”
He responded: “Whatever makes you more compassionate, more sensible, more detached, more loving, more humanitarian, more responsible, more ethical.”
“The religion that will do that for you is the best religion”
I was silent for a moment, marveling and even today thinking of his wise and irrefutable response:
I am not interested, my friend, about your religion or if you are religious or not. “What really is important to me is your behavior in front of your peers, family, work, community, and in front of the world.
“Remember, the universe is the echo of our actions and our thoughts.”
“The law of action and reaction is not exclusively for physics. It is also of human relations. If I act with goodness, I will receive goodness. If I act with evil, I will get evil.”
“What our grandparents told us is the pure truth. You will always have what you desire for others. Being happy is not a matter of destiny. It is a matter of options.”
Finally he said:
“Take care of your Thoughts because they become Words. Take care of your Words because they will become Actions. Take care of your Actions because they will become Habits. Take care of your Habits because they will form your Character. Take care of your Character because it will form your Destiny, and your Destiny will be your Life … and … “There is no religion higher than the Truth.”
Versi Bahasa Indonesia
DIALOG DENGAN DALAI LAMA
teolog Brasil Leonardo Boff menulis: Dalam diskusi meja bundar tentang agama dan kebebasan di mana Dalai Lama dan saya sendiri berpartisipasi saat istirahat, saya dengan niat jahat dan juga tertarik, bertanya kepadanya: “Yang Mulia, apa agama terbaik?”
Saya pikir dia akan mengatakan: "Buddha Tibet" atau "Agama oriental, jauh lebih tua dari Kristen."
Dalai Lama berhenti, tersenyum dan menatap mataku…. yang mengejutkan saya karena saya tahu kebencian yang terkandung dalam pertanyaan saya.
Beliau menjawab: “Agama yang paling baik adalah yang mendekatkan kamu kepada Allah. Dialah yang membuatmu menjadi orang yang lebih baik.”
Untuk menghilangkan rasa malu saya dengan jawaban yang begitu bijak, saya bertanya: “Apa yang membuat saya lebih baik?”
Dia menjawab: "Apa pun yang membuat Anda lebih berbelas kasih, lebih masuk akal, lebih terpisah, lebih mencintai, lebih kemanusiaan, lebih bertanggung jawab, lebih etis."
“Agama yang akan melakukan itu untukmu adalah agama yang paling baik”
Saya terdiam sejenak, takjub dan bahkan hari ini memikirkan tanggapannya yang bijak dan tak terbantahkan:
Saya tidak tertarik, teman saya, tentang agama Anda atau apakah Anda beragama atau tidak. “Yang benar-benar penting bagi saya adalah perilaku Anda di depan teman sebaya, keluarga, pekerjaan, komunitas, dan di depan dunia.
"Ingat, alam semesta adalah gema dari tindakan dan pikiran kita."
“Hukum aksi dan reaksi tidak hanya berlaku untuk fisika. Ini juga tentang hubungan manusia. Jika saya bertindak dengan kebaikan, saya akan menerima kebaikan. Jika saya bertindak dengan kejahatan, saya akan mendapatkan kejahatan.”
“Apa yang dikatakan kakek-nenek kami kepada kami adalah kebenaran murni. Anda akan selalu memiliki apa yang Anda inginkan untuk orang lain. Menjadi bahagia bukanlah masalah takdir. Ini masalah pilihan.”
Akhirnya dia berkata:
“Jaga Pikiranmu karena itu akan menjadi Kata-kata. Jagalah Kata-katamu karena itu akan menjadi Tindakan. Jaga Perbuatan Anda karena itu akan menjadi Kebiasaan. Jaga Kebiasaan Anda karena itu akan membentuk Karakter Anda. Jagalah Karakter Anda karena itu akan membentuk Takdir Anda, dan Takdir Anda akan menjadi Hidup Anda … dan … “Tidak ada agama yang lebih tinggi dari Kebenaran.”

Berpandangan benar, berpribadi bajik & berprilaku bijak diperlukan bukan hanya bagi setiap diri dan juga lainnya demi ketepatan evolusi pribadi, harmoni dimensi & sinergi valensi namun juga disetiap alam keberadaan (bukan hanya yang telah mencapai & menghuni alam bahagia semisal alam surgawi kamavacara, dimensi ilahiah brahmanda ataupun bahkan esensi murni lokuttara ... namun juga yang masih tersekap & menjebak dalam harapan / ratapan di alam fisik, apaya bahkan hingga lokuttara   LOKANTARIKA kelak ?) dikarenakan kaidah kosmik pelayakan keniscayaan dalam keseluruhan yang sudah, sedang dan akan berlangsung demikian adanya. Ada state, peran & tugas yang harus diterima, dikasihi & dilampaui dalam setiap fase permainan keabadian yang kita sebut sebagai keberadaan (mengada > mengada-ada > mengada-adakan ?) ini. 
lokuttara   LOKANTARIKA .... sial , salah kata lagi (malah fatal).. tidak hanya nama seperti sebelumnya . Indra mata & memory otak sudah parah & payah sejalan dengan proses pelapukan alamiah menua (walau sayangnya tidak berarti ... sudah menjadi dewasa). Jika direvisi salah ketik juga terjadi dari terma serapan  pali Buddhism semisal kama & kamma (kama = nafsu / kamma atau karma = tindakan). Minta maaf dan mohon maklum adanya, ya ?  

 

SPIRITUAL AND RELIGIOUS VS SPIRITUAL NON RELIGIOUS ?
SPIRITUALITY FROM RELIGIOUS PEOPLE FOR SECULAR PERSONS  ?  
TRUTH OR FAITH ... REALITY OR AUTHORITY ?
SPIRITUALITY ALSO FOR SECULAR PERSON OR JUST FOR RELIGIOUS PEOPLE ?
COSMIC PUZZLE ... SPIRITUALITY FOR ALL  (NOT ONLY SBAR BUT ALSO SBNR ?)

 welcome to the earth

Just For Seekers : SBNR ?
 

SBNR &/ SBAR ?
SPIRITUAL BUT NOT RELIGIOUS .... SPIRITUAL BUT ALSO RELIGIOUS
Meminjam istilah Linda Mercadante penulis buku Belief without borders: inside the minds of the spiritual but not religious 
Mercadante, Linda A. (2014), Belief without borders: inside the minds of the spiritual but not religious, New York, NY: Oxford University Press, ISBN 978-0199931002

"Spiritual but not religious" (SBNR), also known as "spiritual but not affiliated" (SBNA), is a popular phrase and initialism used to self-identify a life stance of spirituality that does not regard organized religion as the sole or most valuable means of furthering spiritual growth. Historically, the words religious and spiritual have been used synonymously to describe all the various aspects of the concept of religion but in contemporary usage spirituality has often become associated with the interior life of the individual,placing an emphasis upon the well-being of the "mind-body-spirit",while religion refers to organizational or communal dimensions.
Origins and demography
Historically, the words religious and spiritual have been used synonymously to describe all the various aspects of the concept of religion. However, religion is a highly contested term with scholars such as Russell McCutcheon arguing that the term "religion" is used as a way to name a "seemingly distinct domain of diverse items of human activity and production".The field of religious studies cannot even agree on one definition for religion and since spirituality overlaps with it in many ways it is difficult to reach a consensus for a definition for spirituality as well.
The specific expression was used in several scholarly works, including an anthropological paper in 1960 and in Zinnbauer et al.'s seminal paper "Religiousness and Spirituality: Unfuzzying the Fuzzy".SBNR as a movement in America was delineated by author Sven Erlandson in his 2000 book Spiritual but not Religious.The phenomenon possibly started to emerge as a result of a new Romantic movement that began in the 1960s, whereas the relationship between the two has been remotely linked to William James' definition of religious experience, which he defines as the "feelings, acts and experiences of individual men in their solitude, so far as they apprehend themselves to stand in relation to whatever they may consider the divine." Romantic movements tend to lean away from traditional religion and resemble spiritual movements in their endorsement of mystical, unorthodox, and exotic ways.Owen Thomas also states that the ambiguity and lack of structure present in Romantic movements are also present within spiritual movements.
According to a study conducted by Pew Research Center in 2012, the number of Americans who do not identify with any religion has increased from 15% in 2007 to 20% in 2012, and this number continues to grow. One fifth of the US public and a third of adults under the age of 30 are reportedly unaffiliated with any religion but identify as being spiritual in some way. Of these religiously unaffiliated Americans, 37% classify themselves as spiritual but not religious, while 68% say they do believe in God, and 58% feel a deep connection to the Earth.
Increased popular and scholarly attention to "spirituality" by scholars like Pargament has been related to sociocultural trends towards deinstitutionalization, individualization, and globalization
Generational replacement has been understood as a significant factor of the growth of religiously unaffiliated individuals. Significant differences were found between the percentage of those considered younger Millennials (born 1990–1994) as compared with Generation Xers (born 1965–1980), with 34% and 21% reporting to be religiously unaffiliated, respectively.
Demographically, research has found that the religiously unaffiliated population is younger, predominately male, and 35% are between the ages of 18 and 29. Conversely, only 8% of religiously unaffiliated individuals are 65 and older. Among those unaffiliated with organized religion as a whole, 56% are men and 44% are women.
Another possible explanation for the emergence of SBNR is linguistic. Owen Thomas highlights the fact that spirituality movements tend to be localized to English and North American cultures. The meaning of the term "spirit" is more narrow in English than that of other languages, referring to all of the uniquely human capacities and cultural functions.
Yet, according to Siobhan Chandler, to appreciate the "god within" is not a twentieth century notion with its roots in 1960s counter culture or 1980s New Age, but spirituality is a concept that has pervaded all of history.
Characteristics of SBNR : Anti-institutional and personal
According to Abby Day, some of those who are critical of religion see it as rigid and pushy, leading them to use terms such as atheist, agnostic to describe themselves.For many people, SBNR is not just about rejecting religion outright, but not wanting to be restricted by it.
According to Linda Mercadante, SBNRs take a decidedly anti-dogmatic stance against religious belief in general. They claim not only that belief is non-essential, but that it is potentially harmful or at least a hindrance to spirituality.
According to Philip D. Kenneson, many of those studied who identify as SBNR feel a tension between their personal spirituality and membership in a conventional religious organization. Most of them value curiosity, intellectual freedom, and an experimental approach to religion. Many go as far to view organized religion as the major enemy of authentic spirituality, claiming that spirituality is private reflection and private experience—not public ritual.To be "religious" conveys an institutional connotation, usually associated with Abrahamic traditions: to attend worship services, to say Mass, to light Hanukkah candles. To be "spiritual," in contrast, connotes personal practice and personal empowerment having to do with the deepest motivations of life.As a result, in cultures that are deeply suspicious of institutional structures and that place a high value on individual freedom and autonomy, spirituality has come to have largely positive connotations, while religion has been viewed more negatively.
According to Robert Fuller, the SBNR phenomenon can be characterized as a mix of intellectual progressivism and mystical hunger, impatient with the piety of established churches.
According to Robert Wuthnow, spirituality is about much more than going to church and agreeing or disagreeing with church doctrines. Spirituality is the shorthand term used in Western society to talk about a person's relationship with God. For many people, how they think about religion and spirituality is certainly guided by what they see and do in their congregations. At a deeper level, it involves a person's self-identity—feeling loved by God, and these feelings can wax and wane.
Categorization of SBNRs :Linda A. Mercadante categorizes SBNRs into five distinct categories:
"Dissenters" are the people who, for the most part, make a conscious effort to veer away from institutional religion. "Protesting dissenters" refers to those SBNRs who have been 'turned off' religious affiliation because of adverse personal experiences with it. "Drifted Dissenters" refers to those SBNRs who, for a multitude of reasons, fell out of touch with organized religion and chose never to go back. "Conscientious objector dissenters" refers to those SBNRs who are overtly skeptical of religious institutions and are of the view that religion is neither a useful nor necessary part of an individual's spirituality.
"Casuals" are the people who see religious and/or spiritual practices as primarily functional. Spirituality is not an organizing principle in their lives. Rather they believe it should be used on an as-needed basis for bettering their health, relieving stress, and for emotional support. The spirituality of "Casuals" is thus best understood as a "therapeutic" spirituality that centers on the individual's personal wellbeing.
"Explorers" are the people who seem to have what Mercadante refers to as a "spiritual wanderlust". These SBNRs find their constant search for novel spiritual practices to be a byproduct of their "unsatisfied curiosity", their desire for journey and change, as well as feelings of disappointment. Explorers are best understood as "spiritual tourists" who take comfort in the destination-less journey of their spirituality and have no intentions of ultimately committing to a spiritual home.
"Seekers" are those people who are looking for a spiritual home but contemplate recovering earlier religious identities. These SBNRs embrace the "spiritual but not religious" label and are eager to find a completely new religious identity or alternative spiritual group that they can ultimately commit to.
"Immigrants" are those people who have found themselves in a novel spiritual realm and are trying to adjust themselves to this newfound identity and its community. "Immigrants" can be best understood as those SBNRs who are "trying on" a radically new spiritual environment but have yet to feel completely settled there. It is important to note that for these SBNRs, although they are hoping to become fully integrated in their newfound spiritual identities, the process of acclimation is difficult and often disconcerting.
Practices
See also: Spirituality and New Age
SBNR is related to feminist spiritual and religious thought and ecological spiritualities, and also to Neo-Paganism, Wicca, Shamanic, Druidic, Gaian and ceremonial magic practices.Some New Age spiritual practices include astrology, Ouija boards, Tarot cards, the I Ching, and science fiction. A common practice of SBNRs is meditation, such as mindfulness and Transcendental Meditation.
Criticism
Some representatives of organized religion have criticized the practice of spirituality without religiosity. Lillian Daniel, a liberal Protestant minister, has characterized the SBNR worldview as a product of secular American consumer culture, far removed from community and "right smack in the bland majority of people who find ancient religions dull but find themselves uniquely fascinating" James Martin, a Jesuit priest, has called the SBNR lifestyle "plain old laziness" stating that "spirituality without religion can become a self-centered complacency divorced from the wisdom of a community".
Other critics contend that within the "Spiritual but not Religious" worldview, self-knowledge and self-growth have been problematically equated with knowledge of God, directing a person's focus inward. As a result, the political, economic, and social forces that shape the world are neglected and left untended. Further, some scholars have noted the relative spiritual superficiality of particular SBNR practices. Classical mysticism within the world's major religions requires sustained dedication, often in the form of prolonged asceticism, extended devotion to prayer, and the cultivation of humility. In contrast, SBNRs in the Western world are encouraged to dabble in spiritual practices in a way that is often casual and lacking in rigor or any reorganization of priorities. Sociologist Robert Wuthnow suggests that these forms of mysticism are "shallow and inauthentic".Other critics take issue with the intellectual legitimacy of SBNR scholarship. When contrasted with professional or academic theology, spiritual philosophies can appear unpolished, disjointed, or inconsistently sourced
Wong and Vinsky challenge SBNR discourse that posits religion as "institutional and structured" in contrast to spirituality as "inclusive and universal" (1346).They argue that this understanding makes invisible the historical construction of "spirituality", which currently relies on a rejection of EuroChristianity for its own self-definition. According to them, Western discourses of "spirituality" appropriate indigenous spiritual traditions and "ethnic" traditions of the East, yet racialized ethnic groups are more likely to be labeled "religious" than "spiritual" by white SBNR practitioners. Wong and Vinsky assert that through these processes, colonial othering is enacted through SBNR discourse.


"Spiritual tapi tidak religius" (SBNR), juga dikenal sebagai "spiritual tapi tidak berafiliasi" (SBNA), adalah ungkapan populer dan inisialisasi yang digunakan untuk mengidentifikasi diri sikap hidup spiritualitas yang tidak menganggap agama terorganisir sebagai satu-satunya atau paling sarana berharga untuk memajukan pertumbuhan rohani. Secara historis, kata-kata religius dan spiritual telah digunakan secara sinonim untuk menggambarkan semua aspek yang berbeda dari konsep agama, tetapi dalam penggunaan kontemporer, spiritualitas sering dikaitkan dengan kehidupan interior individu, menempatkan penekanan pada kesejahteraan " pikiran-tubuh-roh", sedangkan agama mengacu pada dimensi organisasi atau komunal.
Asal dan demografi
Secara historis, kata religius dan spiritual telah digunakan secara sinonim untuk menggambarkan berbagai aspek konsep agama. Namun, agama adalah istilah yang sangat diperdebatkan dengan para sarjana seperti Russell McCutcheon yang berpendapat bahwa istilah "agama" digunakan sebagai cara untuk menamai "domain yang tampaknya berbeda dari beragam item aktivitas dan produksi manusia". Bidang studi agama bahkan tidak bisa. menyepakati satu definisi untuk agama dan karena spiritualitas tumpang tindih dengannya dalam banyak hal, sulit untuk mencapai konsensus untuk definisi spiritualitas juga.
Ungkapan khusus digunakan dalam beberapa karya ilmiah, termasuk makalah antropologi pada tahun 1960 dan dalam makalah mani Zinnbauer et al. "Religiousness and Spirituality: Unfuzzying the Fuzzy".SBNR sebagai gerakan di Amerika digambarkan oleh penulis Sven Erlandson dalam karyanya 2000 buku Spiritual tapi bukan Religius. Fenomena ini mungkin mulai muncul sebagai akibat dari gerakan Romantis baru yang dimulai pada 1960-an, sedangkan hubungan antara keduanya telah dikaitkan dengan definisi pengalaman religius William James, yang dia definisikan sebagai "perasaan, tindakan dan pengalaman individu manusia dalam kesendirian mereka, sejauh mereka memahami diri mereka sendiri untuk berdiri dalam kaitannya dengan apa pun yang mereka anggap ilahi." Gerakan-gerakan romantis cenderung menjauh dari agama tradisional dan menyerupai gerakan-gerakan spiritual dalam mendukung cara-cara mistik, tidak ortodoks, dan eksotis. Owen Thomas juga menyatakan bahwa ambiguitas dan kurangnya struktur yang ada dalam gerakan-gerakan Romantis juga hadir dalam gerakan spiritual.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2012, jumlah orang Amerika yang tidak menganut agama apa pun telah meningkat dari 15% pada tahun 2007 menjadi 20% pada tahun 2012, dan jumlah ini terus bertambah. Seperlima dari publik AS dan sepertiga orang dewasa di bawah usia 30 tahun dilaporkan tidak berafiliasi dengan agama apa pun tetapi mengidentifikasi diri sebagai spiritual dalam beberapa cara. Dari orang Amerika yang tidak terafiliasi dengan agama ini, 37% mengklasifikasikan diri mereka sebagai spiritual tetapi tidak religius, sementara 68% mengatakan mereka percaya pada Tuhan, dan 58% merasakan hubungan yang mendalam dengan Bumi.
Meningkatnya perhatian populer dan ilmiah terhadap "spiritualitas" oleh para sarjana seperti Pargament telah dikaitkan dengan tren sosiokultural menuju deinstitusionalisasi, individualisasi, dan globalisasi
Pergantian generasi telah dipahami sebagai faktor signifikan pertumbuhan individu yang tidak terafiliasi dengan agama. Perbedaan signifikan ditemukan antara persentase mereka yang dianggap sebagai Generasi Milenial yang lebih muda (lahir 1990–1994) dibandingkan dengan Generasi X (lahir 1965–1980), dengan masing-masing 34% dan 21% melaporkan tidak terafiliasi secara agama.
Secara demografis, penelitian telah menemukan bahwa populasi yang tidak beragama lebih muda, didominasi laki-laki, dan 35% berusia antara 18 dan 29 tahun. Sebaliknya, hanya 8% dari individu yang tidak beragama berusia 65 tahun ke atas. Di antara mereka yang tidak terafiliasi dengan agama terorganisir secara keseluruhan, 56% adalah laki-laki dan 44% adalah perempuan.
Penjelasan lain yang mungkin untuk munculnya SBNR adalah linguistik. Owen Thomas menyoroti fakta bahwa gerakan spiritualitas cenderung terlokalisasi pada budaya Inggris dan Amerika Utara. Arti istilah "roh" dalam bahasa Inggris lebih sempit daripada bahasa lain, mengacu pada semua kapasitas dan fungsi budaya manusia yang unik.
Namun, menurut Siobhan Chandler, untuk menghargai "tuhan di dalam" bukanlah gagasan abad kedua puluh yang berakar pada budaya tandingan tahun 1960-an atau Zaman Baru tahun 1980-an, tetapi spiritualitas adalah konsep yang telah merasuki seluruh sejarah.
Karakteristik SBNR : Anti institusi dan personal
Menurut Abby Day, beberapa dari mereka yang kritis terhadap agama melihatnya sebagai kaku dan memaksa, sehingga mereka menggunakan istilah-istilah seperti ateis, agnostik untuk menggambarkan diri mereka sendiri. Bagi banyak orang, SBNR bukan hanya tentang menolak agama secara mentah-mentah, tetapi tidak menginginkannya. untuk dibatasi olehnya.
Menurut Linda Mercadante, SBNR jelas-jelas mengambil sikap anti-dogmatis terhadap keyakinan agama secara umum. Mereka mengklaim tidak hanya bahwa kepercayaan itu tidak penting, tetapi juga berpotensi berbahaya atau setidaknya menjadi penghalang bagi spiritualitas.
Menurut Philip D. Kenneson, banyak dari mereka yang diteliti yang mengidentifikasi sebagai SBNR merasakan ketegangan antara semangat pribadi mereka
Karakteristik SBNR Anti-institusional dan pribadi
Menurut Abby Day, sebagian dari mereka yang kritis terhadap agama melihatnya sebagai sesuatu yang kaku dan memaksa, sehingga mereka menggunakan istilah-istilah seperti ateis, agnostik untuk menggambarkan diri mereka.[ Bagi banyak orang, SBNR bukan sekadar menolak agama secara mentah-mentah, tetapi juga tidak ingin dibatasi olehnya.
Menurut Linda Mercadante, SBNR jelas-jelas mengambil sikap anti-dogmatis terhadap keyakinan agama secara umum. Mereka mengklaim tidak hanya bahwa kepercayaan tidak penting, tetapi juga berpotensi berbahaya atau setidaknya menghambat spiritualitas.
Menurut Philip D. Kenneson, banyak dari mereka yang belajar yang mengidentifikasi sebagai SBNR merasakan ketegangan antara spiritualitas pribadi mereka dan keanggotaan dalam organisasi keagamaan konvensional. Kebanyakan dari mereka menghargai rasa ingin tahu, kebebasan intelektual, dan pendekatan eksperimental terhadap agama. Banyak yang melangkah lebih jauh untuk memandang agama yang terorganisir sebagai musuh utama spiritualitas otentik, mengklaim bahwa spiritualitas adalah refleksi pribadi dan pengalaman pribadi—bukan ritual publik. Menjadi "religius" mengandung konotasi institusional, biasanya dikaitkan dengan tradisi Ibrahim: menghadiri kebaktian, mengatakan Misa, menyalakan lilin Hanukkah. Menjadi "spiritual", sebaliknya, berkonotasi dengan praktik pribadi dan pemberdayaan pribadi yang berkaitan dengan motivasi hidup yang paling dalam. Akibatnya, dalam budaya yang sangat curiga terhadap struktur institusional dan yang menempatkan nilai tinggi pada kebebasan dan otonomi individu, spiritualitas menjadi berkonotasi positif, sementara agama dipandang lebih negatif.
Menurut Robert Fuller, fenomena SBNR dapat dicirikan sebagai campuran progresivisme intelektual dan kelaparan mistik, tidak sabar dengan kesalehan gereja-gereja mapan.
Menurut Robert Wuthnow, spiritualitas lebih dari sekadar pergi ke gereja dan setuju atau tidak setuju dengan doktrin gereja. Spiritualitas adalah istilah singkat yang digunakan dalam masyarakat Barat untuk berbicara tentang hubungan seseorang dengan Tuhan. Bagi banyak orang, cara mereka berpikir tentang agama dan spiritualitas tentu dipandu oleh apa yang mereka lihat dan lakukan di jemaat mereka. Pada tingkat yang lebih dalam, ini melibatkan identitas diri seseorang—perasaan dikasihi oleh Tuhan, dan perasaan ini bisa bertambah dan berkurang
Kategorisasi SBNR Linda A. Mercadante mengkategorikan SBNR ke dalam lima kategori berbeda:[
"Pembangkang" adalah orang-orang yang, sebagian besar, secara sadar berusaha untuk menyimpang dari agama institusional. "Memprotes pembangkang" mengacu pada SBNR yang telah 'dimatikan' afiliasi keagamaannya karena pengalaman pribadi yang merugikan dengannya. "Pembangkang yang Melayang" mengacu pada SBNR yang, karena banyak alasan, tidak berhubungan dengan agama yang terorganisir dan memilih untuk tidak pernah kembali. "Pembangkang yang menolak dengan hati nurani" mengacu pada SBNR yang secara terang-terangan skeptis terhadap institusi keagamaan dan berpandangan bahwa agama bukanlah bagian yang berguna dan tidak perlu dari spiritualitas individu.
"Casuals" adalah orang-orang yang melihat praktik keagamaan dan/atau spiritual sebagai fungsi utama. Spiritualitas bukanlah prinsip pengorganisasian dalam kehidupan mereka. Sebaliknya mereka percaya itu harus digunakan sesuai kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan mereka, menghilangkan stres, dan untuk dukungan emosional. Spiritualitas "Casuals" dengan demikian paling baik dipahami sebagai spiritualitas "terapeutik" yang berpusat pada kesejahteraan pribadi individu.
"Penjelajah" adalah orang-orang yang tampaknya memiliki apa yang disebut Mercadante sebagai "nafsu berkelana spiritual". SBNR ini menemukan pencarian konstan mereka untuk praktik spiritual baru sebagai produk sampingan dari "keingintahuan yang tidak terpuaskan", keinginan mereka untuk perjalanan dan perubahan, serta perasaan kecewa. Penjelajah paling baik dipahami sebagai "turis spiritual" yang merasa nyaman dalam perjalanan spiritualitas tanpa tujuan dan tidak memiliki niat untuk akhirnya berkomitmen pada rumah spiritual.
"Pencari" adalah orang-orang yang mencari rumah spiritual tetapi berpikir untuk memulihkan identitas agama sebelumnya. SBNR ini menganut label "spiritual tetapi tidak religius" dan sangat ingin menemukan identitas agama yang sama sekali baru atau kelompok spiritual alternatif yang pada akhirnya dapat mereka komit.
"Imigran" adalah orang-orang yang telah menemukan diri mereka di alam spiritual baru dan mencoba menyesuaikan diri dengan identitas yang baru ditemukan ini dan komunitasnya. "Imigran" paling baik dipahami sebagai SBNR yang "mencoba" lingkungan spiritual baru yang radikal tetapi belum merasa benar-benar menetap di sana. Penting untuk dicatat bahwa untuk SBNR ini, meskipun mereka berharap untuk sepenuhnya terintegrasi dalam identitas spiritual mereka yang baru ditemukan, proses aklimatisasinya sulit dan seringkali membingungkan.
Praktek
Lihat juga: Spiritualitas dan Zaman Baru
SBNR terkait dengan pemikiran spiritual dan agama feminis dan spiritualitas ekologis, dan juga dengan Neo-Paganisme, Wicca, Shamanic, Druidic, Gaian dan praktik sihir seremonial. Beberapa praktik spiritual New Age termasuk astrologi, papan Ouija, kartu Tarot, I Ching, dan fiksi ilmiah. Praktik umum SBNR adalah meditasi, seperti perhatian penuh dan Meditasi Transendental.
Kritik
Beberapa perwakilan agama yang terorganisir mengkritik praktik spiritualitas tanpa religiusitas. Lillian Daniel, seorang pendeta Protestan liberal, telah mencirikan pandangan dunia SBNR sebagai produk budaya konsumen Amerika sekuler, jauh dari komunitas dan "tepat di sebagian besar orang yang menganggap agama kuno membosankan tetapi menemukan diri mereka secara unik menarik" James Martin, seorang imam Jesuit, menyebut gaya hidup SBNR sebagai "kemalasan tua yang polos" yang menyatakan bahwa "spiritualitas tanpa agama dapat menjadi kepuasan diri yang berpusat pada diri sendiri yang dipisahkan dari kebijaksanaan suatu komunitas".
Kritikus lain berpendapat bahwa dalam pandangan dunia "Spiritual tapi tidak Religius", pengetahuan diri dan pertumbuhan diri secara problematis disamakan dengan pengetahuan tentang Tuhan, mengarahkan fokus seseorang ke dalam. Akibatnya, kekuatan politik, ekonomi, dan sosial yang membentuk dunia diabaikan dan dibiarkan begitu saja. Selanjutnya, beberapa sarjana telah mencatat kedangkalan spiritual relatif dari praktik SBNR tertentu. Mistisisme klasik dalam agama-agama besar dunia membutuhkan dedikasi yang berkelanjutan, sering kali dalam bentuk asketisme yang berkepanjangan, pengabdian yang diperluas pada doa, dan penanaman kerendahan hati. Sebaliknya, SBNR di dunia Barat didorong untuk mencoba-coba praktik spiritual dengan cara yang sering kali santai dan kurang teliti atau reorganisasi prioritas. Sosiolog Robert Wuthnow menyatakan bahwa bentuk-bentuk mistisisme ini "dangkal dan tidak autentik". Kritikus lain mempermasalahkan legitimasi intelektual kesarjanaan SBNR. Ketika dikontraskan dengan teologi profesional atau akademis, filosofi spiritual dapat tampak tidak dipoles, terputus-putus, atau bersumber secara tidak konsisten.
Wong dan Vinsky menantang wacana SBNR yang menempatkan agama sebagai "institusional dan terstruktur" berbeda dengan spiritualitas sebagai "inklusif dan universal" (1346). Mereka berpendapat bahwa pemahaman ini membuat tidak terlihat konstruksi historis "spiritualitas", yang saat ini bertumpu pada penolakan. EuroChristianity untuk definisi dirinya sendiri. Menurut mereka, wacana Barat tentang "spiritualitas" sesuai tradisi spiritual pribumi dan tradisi "etnis" Timur, namun kelompok etnis rasial lebih cenderung diberi label "religius" daripada "spiritual" oleh praktisi SBNR kulit putih. Wong dan Vinsky menegaskan bahwa melalui proses-proses ini, penjajahan kolonial dilakukan melalui wacana SBNR.

Well, mungkin ada perbedaan penggunaan istilah Seeker yang kemudian umum digunakan Linda Mercadante (th 2014) dengan yang disebutkan para mistisi nara sumber tujuan pada yang kami lakukan dulu (pra th 2000) atau mungkin yang kita lakukan sekarang ... just only spitual wanderlust explorer ?

HUMOR MENCARI TUHAN ?
humor mencela  tingkat 1 ide/ ego lainnya , Osho ?
Kosmonot Atheis Rusia mencela astronot Religius Amerika Serikat karena hingga ke luar angkasapun Tuhan tetap tidak juga ditemukan.
Astronot religius Amerika Serikat kesal mengharapkan kematian kosmonot atheis Rusia untuk bisa menemukan Tuhan ?
Mereka bertikai karena mencari di/ke tempat yang salah ?

Ada 3 humor versi Osho : laughter (tertawa ).... link artikel Osho mana ? 
satu, black humour (dengan cara mentertawakan orang lain kita merasa bahagia ? batin yang sakit ... namun sadarkah kita bahwa kita senantiasa merasa wajar untuk melakukannya setiap saat ... kita adalah badut yang merasa nyaman dan bahkan senang jika badut lain ditertawakan/ direndahkan karena dengannya kita merasa masih/ tetap / makin mulia daripadanya ... Schaden Freude : senang lihat orang lain susah, susah lihat orang lain senang ? See : Brahma Vihara di bawah.
dua, self humour mentertawakan kekonyolan diri sendiri ... cukup sehat 
tiga, cosmic humour mentertawakan permainan kosmik / 3 laughing monk = 3 serangkai rahib tertawa/... dianggap guyonan tertinggi ? (sadar namun tidak wajar malah terkesan kurang ajar ?) 


SUDAH FINALE



REST IDEA

RALAT  NAMA 

Oh, ya ... hampir lupa tadi (mudah sekali monkey mind ini teralihkan ... payah & parah )
intinya : Spiritualitas adalah masalah aktualisasi .autentik meniscayakan kesedemikianan dalam keseluruhan.
beragama ? beragamalah namun tidak tereksploitasi apalagi mengeksploitasi. Ingat ada kaidah kebajikan universal untuk harmoni.
bermistik ? bermistiklah namun tidak teridentifikasi apalagi mengidentifikasi. Ingat ada kaidah kebijakan transendental untuk evolusi.
berdharma? berdharmalah namun tidak teralienasi apalagi mengalienasi. Ingat ada kaidah kebenaran eksistensial untuk sinergi.

Lanjut lagi, ah  ... tentang : Taruhan Pascal (wah, sama-sama mantan gambler, bro ... guyon) . 

PASCAL WAGER = Taruhan Pascal pragmatisme spekulatif berkeIlahian?
Pascal's_wager (wikipedia ING).pdf
Pascal's_wager (google translate INA).pdf
pascal-a.pdf
link data sebelumnya dinetralkan dulu ... supaya kalau download all link IDM tidak dobel. Sudah.. sip.
Nama (Blaise) Pascal ilmuwan yang juga filsuf religius ini pernah kami sebut  kalau tidak salah 3 x (masalah pragmatisme berkeilahian pada posting awal galau corona 2020, logika hati curhat drakor & hipokrisi kebersamaan.) .... OMG (Oh My God),  ternyata  2 x benarnya dan 1 x salahnya 

Kutipan 1 : Blaise Pascal ? : hati memiliki logika sendiri
Drakor MMH 
(mungkin ) kata Blaise Pascal ? : hati memiliki logika sendiri .... yang walau naif namun lebih luas menjangkau dalam keesaan ketimbang rasio ... mencuri hikmah via keharuan empati kosmik akan esensi kemurnian kedalaman seperti reversed inference logika rasio, seeker ? sayang .. macet./ buntu./ balik (kesal?)
hehehe ... inilah payah & parahnya kepekaan tanpa keahlian (perlu keberimbangan kesedemikianan bukan pengharapan kesempurnaan). Kami memang agak jarang menggunakan tantien hati hadaya vathu (mental blocking arogansi intelektual?) karena membawa bom waktu emosi yang bisa meledak mendadak memang sangat meresahkan walau faham itu memang harus dilampaui bukan hanya untuk kedewasaan psikologis namun juga pencerahan spiritual. Kebenaran impersonal yang meng-Esa ini walau sulit dikatakan namun memang bisa 'dirasakan' (terhayati > terfahami .... susah, ya?) jika kejujuran nurani kosmik impersonal dibiasakan dan peleburan empati deitas personal dilakukan. (tetap menjaga kesadaran tetap holistik attentif reseptif asertif  & proaktif  tidak terbawa neurotik untuk sensitif / reaktif / kompulsif / agressif ?). Kemarahan (walau tulus sekalipun & mungkin berguna bagi kebaikan lainnya) tetaplah kebodohan (yang merugikan antahkarana diri sendiri secara impersonal).

Kutipan 2 : Pascal  : society is hypocricy ?
Drakor Bulgasal Sub Indo 
Sekilas kami melihat walau unik dan menarik agak absurd juga plot ceritanya (transmigrasi beban karmik antahkarana arus kesadaran jiwa pribadi lain ?) link .05022022/ETC/TEORI BULGASAL SD 12.pdf 
Namun demikian sebagaimana biasa selalu ada hikmah yang bisa kita ambil dari limbah apapun juga di mana saja selain ketersentuhan hati untuk menyerap idea yang lebih dalam (absorpsi intuitif untuk reversed inferensi disamping referensi intelek minus realisasi insight.... maklum padaparama, nih) ataupun sekedar penghiburan romantisme identifikatif semata (hehehe ... sati untuk indria samvara kami akui memang payah ... sila visuddhata & dana paramitta ? masih parah juga. citta & panna bhavana apalagi ...  zero,bro. Ritual formal puja & etika saja masih kacau balau ... HOPELESS & HELPLESS ? ) 
Samsara ini memang menyusahkan dan sering menyesatkan .... tetapi mengasyikan juga, ya ... hehehe. (Guyon ... semoga bersama figur lainnya tetap ndagel secara patut tidak mbacut mbadut )
BAHASAN = Drama & Darma ?
Kami tidak tahu kenapa kami memulai dengan drama ini pada mulanya (Drakor lagi ... payah & parah, deh ?) Namun kemudian kami menyadari ini adalah cara kami mencari celah untuk masuk tanpa harus vulgar menggurui lainnya (prinsip majeutike, Socrates ?) ... Sial, bukan hanya membingungkan lainnya namun juga mengacaukan plotting pembahasan yang seharusnya langsung mengarah saja ke pokok permasalahan ... directly & deductive ? (aksiomatis & dogmatis ... wah, nggak asyik, nih ) ... Niat & cara tidak sinkron (walau lebih cepat & mudah ... hehehe, jadi inget jurus lempar handuk kasih kunci LKS, cegat kisi-kisi sebelum PTS/ PAS ... kalau masih gagal KKM ? jurus statistik Excel untuk  menyesuaikan target minimal yang didapat di Vlook-up dan nilai ideal yang optimal terkemas dalam riasan indah , megah & ilmiah sesuai yang ditetapkan ... walau diakui kelihaian bukan kemurnian ini memang agak curang , kepakaran gaya /nguntul, ngentul, ngentel / dan kecakapan daya akademisi ternyata cukup "berguna" juga dalam kebersamaan ini, Pascal  : society is hypocricy ?
BAHASAN =  TENTANG DRAMA DHARMA 
kehidupan ini drama kita semua (sesungguhnya walau lebih nyata namun tidak hanya pekok tetapi juga sangat heboh melebihi K-drama ... jika mulai baper , saran kami lihat shooting behind scene nya ... pemeran yang berkonflik ternyata malah akrab dan cengengesan satu sama lain ... genius berinteraksi akrab dalam kebersamaannya walau memang serius berkolaborasi dalam pemeranannya sesuai script writing skenario yang ditetapkan ... seperti politisi ? nggak /mau/ tahu ! ). 
Walau mungkin dalam ketidak-mengertian, ketidak-perdulian dan ketidak-berdayaan tetaplah meniscayakan kita saat ini menuju kelayakan kita saat nanti (akumulasi karmik peniscayaan dhatu atas  selama proses  kehidupan abadi jiwa ini dsb).
Ovada patimokha di bulan Magha + apamadena sampadetha ? Apa ini ... ? Oh, ini tips terakhir di Epilog setelah Prolog teaser & monolog bahasan harusnya.
kutipannya kepanjanganan lagi ? 
Human life is thus only an endless illusion. Men deceive and flatter each other. No one speaks of us in our presence as he does when we are gone. Society is based on mutual hypocrisy.
Kehidupan manusia dengan demikian hanyalah ilusi tanpa akhir. Orang menipu dan menyanjung satu sama lain. Tidak ada yang berbicara tentang kita di hadapan kita seperti yang dia lakukan ketika kita pergi. Masyarakat didasarkan pada kemunafikan bersama.
Man is nothing but insincerity, falsehood, and hypocrisy, both in regard to himself and in regard to others. He does not wish that he should be told the truth, he shuns saying it to others; and all these moods, so inconsistent with justice and reason, have their roots in his heart.
Manusia tidak lain adalah ketidaktulusan, kepalsuan, dan kemunafikan, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Dia tidak ingin dia diberitahu kebenarannya, dia menghindari mengatakannya kepada orang lain; dan semua suasana hati ini, yang begitu tidak sejalan dengan keadilan dan akal, berakar di dalam hatinya.
We do not content ourselves with the life we have in ourselves and in our being; we desire to live an imaginary life in the mind of others, and for this purpose we endeavor to shine. We labor unceasingly to adorn and preserve this imaginary existence and neglect the real.
Kita tidak puas dengan kehidupan yang kita miliki dalam diri kita sendiri dan dalam keberadaan kita; kita ingin menjalani kehidupan imajiner dalam pikiran orang lain, dan untuk tujuan ini kita berusaha untuk bersinar. Kita bekerja tanpa henti untuk menghiasi dan melestarikan keberadaan imajiner ini dan mengabaikan yang nyata.
https://www.azquotes.com/author/11361-Blaise_Pascal/tag/hypocrisy
wah ... konotasinya ternyata agak cynical negative (seperti JP Sartre saja .. The other is hell ?  dicoret ). Padahal cuma asal omong bercanda maksudnya.
Quote JP Sartre kami coret Hell is other people  ... salah kutip lagi nanti (trauma ... nggak pede, ya ? Kacian deh lu ).
https://www.vox.com/2014/11/17/7229547/philosophy-quotes-misunderstood-wittgenstein-sartre-descartes

Kutipan 3 : Pascal  keliru Newton ... 
kutipan :http://teguhqi.blogspot.com/2020/04/quo-vadis.html
Sanatana Dhamma dalam kompleksitas Realitas Fenomena 

a. Transendensi Keabadian Universal
Terjagalah ! Transendensi kehadiran demi keabadian : vs niyama dhamma via media
senantiasa ada dampak dari pandangan, tindakan dan capaian
tataran pencapaian > progress penempuhan > kefahaman pengetahuan
b:Harmonisasi Keberadaan Eksistensial
Menjagalah ! Harmonisasi dalam kehidupan : vs peran eksistensial
sedaka sutta : menjaga diri & orang lain
anjali/namaste : menghormati esensi murni didalam > segalanya interconnected (orang lain adalah diri kita sendiri dalam peran yang berbeda) demikian juga alam dsb. 
Untuk layak mekarnya bunga transendental ,kemantapan akar eksistensial sila dan batang kasih universal harus tumbuh berkembang baik menunjang dahan bhavana penembusan dan pencerahan di internal dan juga ke eksternal.
c. Eskatologi Kelanjutan Spiritual
Berjagalah ! Eskatologi untuk kematian : vs bardo (1 chikhai - 2 conyid - 3 sidpa bardo)
Kehidupan tidak pasti, kematian pasti
pencerahan masih mungkin diusahakan kala kematian (pandangan Mahavira jainisme bukan Guru Padmasambhava Tibetan Buddhism... maaf ~ AK).
Inilah pentingnya kemurnian brahma vihara yang bukan hanya memurnikan dana sila Dhamma Vihara sepanjang kehidupan dan (plus desana) menumbuh kembangkan potensi  tihetuka (alobha adosa amoha) yang akan juga menunjang kecakapan penembusan  meditatif  pemurnian batin Ariya Vihara dalam menyambut kematian. 
Naza : awas nimitta bhavanga 3 (
Bardo proses umum non meditator : 
Sial, umumnya tidak bisa melintasi jhana brahma bardo 1 ; (bardo 2 liburan kesurga ? belum cukup murni berlimpah akumulasi  deposito karma baik +  banyak tanggungan kredit karma buruk /miccha ditti ?) ; bardo 3 beruntung lahir kembali sebagai manusia atau harus terlempar  keapaya (dampak MLD) atau terdampar di alam penantian  hingga rebirth baru/ pralaya dunia ?
proses khusus meditator (mystics, Buddhist, etc) :
selamat berjuang  hingga tujuan yang mungkin lebih baik untuk bisa dicapai ; (salam dari padaparama dihetuka bagi neyya tihetuka / yogi meditator ) 
Next
jika terdampar di apaya  hidup sbg peta maka dengan upekkha kembangkan mudita (sikap apresiatif/positif atas niatan tindakan kebaikan lainnya) brahma vihara walau sulit. jika terlempar di apaya lainnya maka dengan upekkha kembangkan metta brahma vihara ( kewajaran kosmik untuk aktualisasi kesadaran kasih universal sebagaimana kesedemikiannya kaidah impersonal transenden niyama dhamma  atas personal imanen terus berlaku walau tak butuh diakui dan tak sekedar bisa diyakini ) walau jelas sangat sulit.
jika hidup di surga hidup sbg dewa maka dengan upekha kembangkan karuna (welas asih berbagi bahagia) & potensi tihetuka (alobha adosa amoha prasyarat meditator Jalan Kesucian); tidak  mengumbar nafsu , dusta & sengketa (issa machariya-serakah mendengki apalagi membenci tidak juga menghalangi/ menyesatkan) (termasuk tridewa Mara- yama - asura atas triloka tusita ,tavatimsa,dunia ?) walau juga sulit. Wilayah kamavacara memang corrupted, Saka... bukan hanya pemenuhan kebutuhan, sekedar keinginan diri namun juga kekuasaan atas lainnya. Walau potentially segalanya akan berdampak jika telah masak/layak, Samsara memberikan kebebasan bukan hanya bagi Dhamma namun juga addhamma, tidak hanya agar terbebas dari jeratnya namun juga  tetap tersekap didalamnya…. Itulah kenyataan sesungguhnya  dari semuanya tanpa perlu menyalahkan atau membenarkan siapapun/apapun saja. 
Jika hidup di brahma jangan terlelap dalam kebahagiaan yang lebih dalam dari kenikmatan indrawi/ kehikmatan laduni tetap terjaga,menjaga dan berjaga untuk pengembangan kelanjutannya. walau juga sulit.
Jika bisa tiba di wilayah kesadaran non samsarik alam antara suddhavasa selesaikan perjalanan pulang kerumah sejati atasi delusi mimpi citta 'aku' di halte ini.walau juga sulit.
Jika telah tiba di wilayah kesadaran non alam samsarik nibbana... congrats. Selamat atas keterjagaan dari perjalanan tidur panjang penuh mimpi. selamat datang di rumah sejati esensi murni.
Sikapi "Kebebasan" ini sebagai kebenaran pencerahan berkelanjutan bukan perayaan ke"aku'an untuk lengah terlelap lagi. Walaupun karena magga phala meniscayakan keberadaan & tindakan kiriya yang suci (selama belum parinibbana khanda Ariya Buddha tetap tidak terbebas dari 12 dampak karmik buruk kehidupan lampauNya juga Bhante Moggalana. Bhikkhu arahata sekalipun tetap bisa melakukan kesalahan (terinjaknya serangga oleh arahata karena buta, peraturan vinaya sanghadisesa merukunkan duniawi ?) walau tanpa sengaja/ tak diketahui. Namun totally, inilah realisasi dambaan neyya buddhist untuk terbebas dari dukkha .... terjaga dari mimpi samsarik. Pulang kembali ke rumah sejati. Hanya yang telah melampaui (ariya nibbana) bisa menghadapi kembali (samsara) dengan lebih baik lagi (kiriya x karma) dan karenanya wilayah samsara ini tidak lagi tepat bagi yang telah lulus/ lolos darinya. Keswadikaan nyata yang bukan hanya melampaui penderitaan namun juga kebahagiaan. (magandiya sutta)

By the way, just kidding ... ada  versi/type samsara baru di wilayah ini ? samsara ini saja yang walau hanya delusif tidak chaotik sudah cukup menyusahkan kita dalam memahaminya  apalagi layak menembus dan melampauinya. Niyama Dhamma memang cukup mantap menjaga kaidah kosmik secara impersonal transenden... namun ketidak-segeraan dampak karmik, keterlupaan memory pra rebirth terlebih lagi tampak begitu 'rea'l-nya delusif fantasi keberadaan attha pada nama figur mimpi & sensasi kebahagiaan akan rupa (sulit untuk parichedanana?) benar-benar melengahkan dan menyesatkan (dan bahkan  karena ketidak mengertiannya tidak sengaja apalagi terencana  bukan hanya tidak mencerahkan namun bahkan saling menyesatkan lainnya walaupun dengan kepolosan, ketulusan dan kesadaran ).
Dalam senyum holistik di rupang keBuddhaanMu intuisi saya mengatakan masih ada. Namun mungkin biarkan dia tersirat sebagai rahasia. Kebijaksanaan (bukan kesempurnaan) adalah mahkota akhir bagi kita semua. Setidaknya Realitas Nibbana sebagai rumah sejati bagi esensi murni dari drama kosmik Fenomena Samsara telah kembali ditemukan dan bisa direalisasikan lagi  (walau sulit ... terutama bagi saya tentunya. padaparama diluar sasana yang masih naif dan liar. perokok berat pecandu kopi lagi ... avijja & tanha masih kuat ).
Panna Phasa Kedukkhaan bukan tanha vedana kebahagiaan Realistics  thesisnya, keaniccaan proses perubahan bukan kekekalan masif Real antithesisnya, keAnnataan Panca khanda bukan keberadaan" figure delusif" Realize synthesisnya. Intinya kita hanya dan harus melampaui internal individualitas diri sendiri ... asava kilesha diri bukan yang lain. Itulah (mungkin... saya harus tahu malu , tahu diri dan tahu sila pada autoritas wilayah acinteya yang belum saya capai)  puncak kebijaksanaan nirvanik yang melampaui drama kosmik mimpi delusif samsara.
Sedangkan .... maaf ini agak nekat ('gila'-istilah Khalil Gibran) tentang kesempurnaan walau saya seharusnya lebih tahu malu, tahu diri dan tahu sila pada Realitas wilayah advaita yang mustahil dicapai. Advaita Taoisme lebih menyukai istilah keberimbangan holistik untuk dinamis berkembang ketimbang kesempurnaan absolut yang sangat stagnan. Advaita vedanta dalam Brahma Vidya menterminologinya dalam istilah saguna -niskala (? saya lupa istilahnya ... sudah sarat memory otak  tua ini). Atau simple-nya (istilah pakar komputer) sistem keamanan jika berjalan 100 % sempurna maka dia (malah) tidak akan bisa jalan. Newton (semoga saya tidak salah mengingat referensi buku lama) seorang scientist namun saat itu dia mengatakan agak filosofis tentang keteraturan kosmik yang perlu "Tuhan" yang direferensikan sebagai pengaturnya (walau jika ternyata Diapun .. maaf ...tidak ada) . Buddha-pun mengistilahkan ini sebagai "ajatang, abuthang, dst " (udana ) yang memungkinkan terjadinya pencerahan diriNya sehingga terbebas dari samsara ini.(Pakar Buddhism menyatakan Nibbana adalah Realitas transendent yang Impersonal ...bukan atta pribadi atau yang bisa dianggap/ mengklaim sebagai "diri" karena magga phala pencapaian "wilayah" kesadaran diri ini harus dicapai melalui kesadaran "tanpa diri " (sakayadithi pancakhanda - diri samsarik dst) ... Susah, ya? saya sendiri bingung mau mengatakan apa. Mudahnya demikian ... anggaplah sesorang ( katakanlah A) lelah terjaga kemudian tertidur, pulas hingga bermimpi. Dalam mimpi tersebut dia memerankan figur berbeda bisa jadi multi peran dan aneka peristiwa (walau yang bermimpi A namun bukan A yang terjaga ... jadi katakanlah A' A aksen .... A yang bermimpi ). Ketika bangun terjaga dia mendapatkan  keberadaan yang berbeda lagi dengan mimpinya. Samsara bisa dipandang sebagai mimpi tersebut. Figur A' - A aksen dengan segala atribut peran mimpinya itu disebut 'diri" untuk Figur A yang real dan sudah terjaga (tidak lagi A aksen tadi). Bingung, ya .... cobalah anda ganti A dan A aksennya. (Itu hanyalah cara pandang hal yang sama namun dengan sudut yang berbeda dari tanazul - taraqqi : kejatuhan dalam keterlelapan  dan keterjagaan dari keterlelapan dst )
Intinya demikian pandangan kami tentang kesempurnaan yang tidak hanya acinteya namun advaita untuk dibahas. kebijaksanaan Nibbana mungkin adalah batas akhir yang bisa secara bijak dicapai (Buddha dan juga lainnya) dalam melampaui samsara yang tidak diketahui awalnya (secara individual ) dan kapan berakhirnya  (secara universal) ...pengakuan autentik Buddha. (mengapa ?). Ini dicapai dalam progress simultan dan berkaitan melampaui individualitas diri (eksistensial,universal hingga transendental)
Lantas ... bagaimanakah kesempurnaan advaita tersebut ? secara hipotetis ini baru bisa dicapai jika terlampaui tidak hanya universalitas diri (bukan individual tetapi universal ..... bayangkan wilayah nama tanpa rupa "batin tanpa materi" hanya ada Anenja Brahma, suddhavasa dan Nibbana tidak ada lagi alam dunia, apaya, surga , rupa brahma) namun juga trandentalitas diri (bayangkan wilayah dvaita nibbana  dan advaita itu sendiri tiada samsara  imanen lagi). Demikian analogi gambaran saguna -niskala mandala ini. Ini gambaran Dia yang belum terjaga dari dvaita samsara nibbanaNya. Bagaimana jika Dia terjaga dalam advaita dan melampaui nibbana (samsaraNya) ? dst.
(Pusing ya .... karena jelas kita yang masih "ndagel" dalam peran samsarik di dunia ini tidak mungkin ada disana maka kita cukupkan disini saja)

Payah juga otak tua ini sudah 3 x (mungkin lebih) salah menyebutkan nama dalam posting blog selama ini:  
Newton untuk Pascal dan Mahavira untuk Padmasambhava pada posting di atas, Deepak Chopra untuk Piere Chardin . Maaf, ya ?

Kutipan : http://teguhqi.blogspot.com/2020/03/quo-vadis.html
Selasa, 24 Maret 2020
Quo Vadis ?
QUO VADIS ? (baru mulai sketsa konsep - belum jadi )
PROLOG
Hikmah Corona ? Positif ~ Negatif
Prakata :
We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.” ― Pierre Teilhard de Chardin
Demikian quotes terkenal Piere Chardin (bukan Deepak Chopra .. maaf)
Ulasan 
kita sesungguhnya bukanlah sekedar manusia yang menjalankan tugas spiritual namun sesungguhnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sebagai manusia.
Bahasan : Seeker 
I say that madness is the first step towards unselfishness. 
Be mad, Meesha. Be mad and tell us what is behind the veil of ”sanity,” 
The purpose of life is to bring us closer to those secrets, and madness is the only means. 
Be rnad, and remain a mad brother to your mad brother. 
"Aku berkata bahwa kegilaan adalah langkah pertama menuju sikap tidak mementingkan diri sendiri.
Jadilah gila, Misha. Jadi gilalah kau dan katakan padaku apa yang ada di balik selubung "kesehatan jiwa".
Tujuan hidup ini ialah membawa kita lebih dekat kepada segala rahasia itu,dan kegilaan itu adalah satu-satunya jalan.
 Jadilah gila, dan tetaplah menjadi seorang saudara yang gila bagi saudaramu yang gila
 penggalan sepucuk surat dari Pujangga Libanon Khalil Gibran kepada sahabatnya, Mikhail Naimy.
Ulasan   (sadar terjaga namun wajar bersama )
Penutup : Sekha   
The unexamined life is not worth living" Hidup yang tak teruji tak layak dijalani  - Socrates
Ini adalah sebuah diktum terkenal yang tampaknya diucapkan oleh Socrates pada pengadilannya atas tuduhan menentang dewa dan merusak generasi muda, yang kemudian membuatnya dijatuhi hukuman mati, seperti yang dijelaskan dalam Apologi Plato .
Ulasan
Monolog :
Dialektika Triade Hegel : Thesis – Antithesis – Synthesis (ada - tiada - menjadi;  apersepsi + referensi = refleksi 

Tetapi sudah diralat juga, lho ...
Sekedar mengingatkan kesejatian diri & menghargai  keberadaan saat ini kita semua 
“We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.”Pierre Teilhard de Chardin
literal : Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia 

"Maaf, ya ?" kami ungkapkan untuk pemakluman saja bukan untuk kemudahan pembenaran /penghapusan kesalahan apalagi pencitraan keautentikan.
Kaidah Kosmik Dharma = pengungkapan noda karmik (untuk tidak lagi menyesatkan diri sendiri & orang lain ke depannya) hanya pengurangan dampak negatif karma yang sudah lompat pagar eksternal tidak lagi internal (tindakan aktual > ungkapan verbal > kilasan mental ... asava, samyojana, nivarana , kilesha , etc ). seperti air tawar kebaikan untuk menetralisir air asin keburukan ... mengurangi walau tidak mungkin menghilangkan keasinan ? (sekedar selaras menjaga keterjagaan/ kewaspadaan  walau bisa saja keberuntungan ahosi karma negatif atau obralan karbit karmik positif  mungkin memang terjadi) Link VIDEO : 
 > Dogma Agama : pengampunan Tuhan ( Tuhan pasti mengampuni demi menjaga kesucianNya ... jika lewat permohonan / kepercayaan dosa secara naif begitu mudah diampuni , tertib kosmik akan kacau ... surga yang penuh sesak karena neraka tanpa penghuni bisa segera menjadi liar menjadi neraka  ?)  
> Etika Humaniora : pemakluman lainnya ( Orang lain memaafkan demi menjaga kearifannya ... jika kesalahan hilang hanya karena dimaafkan, tertib dunia bisa kacau juga .. dunia tidak hanya naif tetapi akan menjadi semakin liar ? )
see : mustarih & muflis ( Halal Bihalal 1443 H)
Mungkin memang susah melakukan kebenaran tetapi lebih susah lagi tidak pernah melakukan kesalahan dan paling susah lagi dalam melakukannya selalu dengan kemurnian.

BROKEN LINK  VIDEO ?

welcome to the earth = selamat datang ke dunia (sebagai manusia )
welcome to the earthdiganti

sudah kami hapus, guys ... sungkan (notifikasi karena keluhan pemilik atas hak ciptanya di channel youtube kami). maaf,ya ?
ada gantinya dari channel lain juga hilang lagi nih ...

welcome to the earth = selamat datang ke dunia (sebagai manusia )
welcome to the earth

dari  : https://www.youtube.com/watch?v=f1j87Mj562s&list=PLZZa2J4-qv-YsOH1t3O8CgDr6C4R-4gE4&index=14&t=84m59s
sudah kami hapus, guys ... sungkan (notifikasi karena keluhan pemilik atas hak ciptanya di channel youtube kami). maaf,ya ?
BROKEN LINK 
GANTI 
SUDAH KAMI HAPUS LINKNYA ... ADA LAGI DARI YOUTUBER LAIN ?  LUPA LINK-NYA ? apa DIHAPUS JUGA ... COPY RIGHT LAGI ?
The Secret l Rahasia Kesuksesan l Rahasia Kehidupan I Hukum 
Tanpa niatan merampas hak cipta atau bermanuver mengeksploitasi jika kami mengatakan : Kebaikan yang dilakukan disini & saat ini namun belum terbalaskan akan kita terima juga di sana pada saatnya (Hukum kelayakan > ketamakan LOA ?! ). 
Jadilah pacaya bagi kebaikan bersama (piutang karmik kebajikan > hutang kosmik keinginan = media pralon bagi tandon kosmik)  
wah ,,, masih ada lainnya. Thanks. (gapapa ... diwatermark, bro)
The Secret FULL MOVIE Law Of Attraction
https://www.youtube.com/watch?v=IhQEoH5s_5c&ab_channel=DevineConnectionHealing
https://www.youtube.com/watch?v=IhQEoH5s_5c&list=PLZZa2J4-qv-ZBWPEiuMhyQJhEcUR6ou3k&index=13
Link data =
2 WISDOM OKE/SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
2 WISDOM OKE/SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
atau 
SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
SECRET OKE/ALL/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
REKAP REHAT 30072022/DATA/ANEKA/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.docx
REKAP REHAT 30072022/DATA/ANEKA/THE SECRET DVD ENGLISH INDONESIAN TQ.pdf
APA DIREUPLOAD CLIP INI SAJA , YA ... SUDAH DAPAT TEGURAN, NIH. HEHEHE ... PAKAI AKUN VLOG LAIN AJA. 
NGGAK, AH ... WALAU BISA SUKSES TETAPI NGGAK BERKAH.
plus video Dhamma tentang LOA 
link text https://drive.google.com/file/d/1Ck7oblJ-mIxbXq3GylODJJNPBZz0wUxY/view
atau https://archive.org/download/secretoke/SECRET%20OKE.rar
Namun demikian dalam realisasinya secara Dhamma .... segalanya harus dilayakkan.
Oleh karena itu  anda sebaiknya juga menyaksikan tayangan Dhamma Desana oleh Bhante Uttamo (Bhikkhu popular Theravada) dan Alm. Cornelis Wowor (Expert Novice – mantan Bhikkhu?)  pada link berikut :
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 1 dari Edwin Dtv  https://www.youtube.com/watch?v=ztOfjnTHMSg
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 2 dari dhamma televisi https://www.youtube.com/watch?v=u3WwwWWuqUo
Dhamma TV DHAMMA WACANA secret epd 3 dari DHAMMA TV https://www.youtube.com/watch?v=TPdyBOLOS3o
Dari Mystics video Sadhguru Yasudev = Law of Attraction simplified by Sadhguru

BROKEN LINK lainnya 

GANTI 
SUDAH HILANG LINKNYA ... ADA LAGI ...  LUPA LINK-NYA ?
MASAK SIH ... KAMI HARUS REUPLOAD LAGI (paska Dhammadipateyya & Vimutti Magandiya )

 

Kewajaran Pembumian 
(deduktif  pengetahuan)
dengan kecakapan spiritual ?
SHIVA
Vitalitas interaktif menari dengan kehidupan nyata
Kesadaran Nekhama  
(induktif  penempuhan) 
demi kearhatan spiritual? 
BUDDHA 
Integritas autentik menuju peniscayaan kesejatian murni

 

https://www.youtube.com/watch?v=jHRjJygTkPA&list=PLZZa2J4-qv-ZvsV83eVEiRBtw2dLvbu91&index=2&t=5m&35s

https://www.youtube.com/watch?v=MiGKxvXhI8Q&list=PLZZa2J4-qv-bpW9lgcl0XfLNL7tfMzZZD&index=32&t=32m57s 

 

kearifan internal untuk kebaikan eksternal  (Walau memang) anda tidak bisa melakukan apa yang anda inginkan apapun (dengan seenaknya) tetapi anda bisa hidup (tetap bahagia) seperti yang anda inginkan – /3m12s/  aksi haruslah sesuai dengan yang dituntut situasi  /4m41s/ berlatih hidup dalam satsang untuk hadapi kenyataan hidup /5m21s/

Memahami aksi yang diperlukan Semua yang anda lakukan adalah aksi tindakan /5m35s/ Apakah anda melakukannya dengan sadar consciously (aksi tindakan berkesadaran ) atau melakukannya secara kompulsif (secara bodoh seakan jebakan nyata ) adalah pilihan / 5m41s/ Lakukanlah aksi dengan sadar maka hidup akan indah /6m10s/ Hidup bukan jebakan pintu keluarnya selalu ada  terbuka lebar  tidak untuk dihindari  /6m17s/ Apapun yang anda fikirkan, rasakan & lakukan adalah aksi anda /7m11s/  

Menentukan aksi sesuai cara hidup Jika anda menetapkan cara diri anda, maka apapun yang anda lakukan hanya tergantung dari situasinya. Tergantung dari situasi apa yang ada, sesuai dengan itu kita bereaksi     /8m3s/ Aksi sesuai dengan situasi tuntutan dan tawaran (namun) cara hidup (tetaplah) milik anda  /8m30s/ Jika anda telah memutuskan cara hidup , hiduplah secara itu , lakukan aksi sebagaimana diperlukan /8m39s/

Pengetahuan & Penempuhan Dhamma Pengetahuan Dhamma tidak lah identik /jaminan pasti akan praktek penempuhan nyata pribadi/prilaku seseorang   /19s / Kesulitan belajar Buddha Dhamma karena pembandingan dengan system lain & proses pencapaian nyata  / 11m/ Pembelajaran Dhamma bertahap tidak sekaligus & sesuai kemampuan penerima  /14m11s/ Kebajikan memberi (x meminta)  karena cinta kasih persahabatan kehidupan  universal  & respek penghormatan /16m13s/ Memberi bukan pilihan tetapi keniscayaan dalam kehidupan /19m9s/bahkan kewajiban moral Dhamma  untuk berbagi /21m49s/Pengendalian diri untuk tidak berprilaku buruk mengacau /22m49s/  Kebaikan walau memang berdampak baik juga namun tanpa perlu kepamrihan harapan /25m31s/apalagi bebas dari kemalangan ? Tetapi /26m45s /.. jarang dengar dhamma /30m57s/

 Melengkapi inner strength kesadaran  Menjalani Dhamma saja tidak cukup harus ada pengetahuan kebijaksanan  /32m57s/ agar tidak sombong /36m9s/ benci kesal /37m/ /41m51s /melengkapi  inner strengrth kekuatan mental di dalam untuk hindari jebakan kesombongan, kebencian /44m57s/ kesadaran mendeteksi fikiran buruk yang muncul 

Keterlatihan sikap nekhama (melepas)  /45m27s/ dengan kesadaran juga berlatih nekhama melepaskan  (tdk harus sebagai bhikkhu) /45m56s/ melepaskan dalam memberi dengan kesadaran tanpa perangkap harapan untuk mendapatkan yang lebih banyak ( bukan hakekat  memberi 46m24s) /48m35s/ menjaga  sila supaya kotoran batin internal berkurang  /49m40s/ latihan  melepaskan keinginan /51 m/ tanpa kemampuan sikap melepaskan kita akan menderita  karena hal tsb adalah kenyataan alamiah /52m2s/ nekhama sebagai latihan yang tidak bisa dipilih … keniscayaan yang harus dilatih. Keniscayaan melepaskan adalah keniscayaan tetapi sikap untuk melepaskan harus dilatih. Untuk tidak menderita hingga akhir hidup. /52m39s/ kebajikan melepaskan membuat orang bahagia karena tidak bertentangan dengan hokum universal ini

Kearifan Shiva Buddha ? intinya sama dengan kesadaran dalam kewajaran (cara pasti tetapi aksi luwes) integritas di kedalaman namun vitalitas di permukaan .walau tetap tampak dalam kewajaran di permukaan namun senantiasa menjaga kesadaran di kedalaman untuk. memberdaya kecakapan, kemapanan & kearhatan (dimanapun ,kapanpun dan sebagai apapun peran keberadaannya)... progressive in progressing. Jika saja proses pemberdayaan ini memang berjalan sehat dan tepat tampaknya kemurnian & kesejatian akan berpotensi segera terealisasi nyata.
Wei Wu Wei = Just consciously action x being compulsive actor
Well ... akhirnya ketemu video pengganti ... ganti link , ya.

diganti 
https://www.youtube.com/watch?v=qfc2wHA5mcE&list=PLZZa2J4-qv-ZBWPEiuMhyQJhEcUR6ou3k&index=13&t=710s
time stamp jadi nggak pas, nih.

NGGAK APA APA, YA  .... LANJUT 








FROM TRUTH SEEKER FOR TRUE SEEKER ?
Namaste  ...bagi kami... artinya : " saya menghormati/menghargai yang ada di dalam anda"
maksudnya : esensi kemurnian nirvanik, energi keilahian batiniah, materi kealamian zahiriah.
Rebat cekap ....
Segala sesuatu tampaknya memang ada waktunya. Quote ini sebenarnya kami dapatkan dari Satsangi mystics untuk senantiasa tabah menempuh perjalanan spiritual ... bertahan & berjalan hingga akhir. (Mirip dengan nash Shabar 3 kala menerima musibah, menjalani ibadah & menghindari maksiyah  atau Ovada 3 menjalani kebaikan, menghindari keburukan & mensucikan batin fikiran dsb). Ini sebetulnya bukan dalih bagi rasionalisasi pembenaran kami untuk keengganan berbagi lagi. Namun dikarenakan masih ribet internal & repot external (alasan klasik, ya ... padahal ada waktu luang liburan tetapi masih tidak bisa meluangkan waktu juga ?).
Ada banyak hal yang akan kami sampaikan ... sayang stuck di otak susah keluarnya., antara lain : untuk mengurangi beban kesungkanan kami merasa perlu curhat semacam "pengakuan dosa/ dusta" ? (seperti di hadapan pastur publik/ deitas kosmik, nih) bahwa kami sejujurnya karena ketidak-konsistenan dalam berintegritas pada kebenaran tidak layak disebut pencari kebenaran ... truth stealer bukan truth seeker (pencuri bukan pencari hikmah). Ingin guyonan dengan limbah musik ragu juga. kalau dulu pakai lagu Tatu almarhum Didi Kempot ( lirik : opo aku salah nek aku kondho opo anane ... apa saya salah jika berbicara apa adanya ) ini mau ganti lagu baru ojo dibandingke (lirik : wong koyo ngene kok dibanding-bandingke mesti kalahe ... orang seperti kami ini kok dibanding-bandingkan ya pasti kalahnya ... dan juga salahnya ?).
Kami jelas tidak sehebat pujangga Khalil Gibran Khalil dalam mengguratkan kata, Mistisi Osho profesor filsafat dalam memformulasi idea apalagi seperti Buddha Gautama yang telah merealisasi kedewasaan pencerahan dalam dagelan nama rupa samsarik ini.
Tetapi walau memang demikian adanya namun kesannya kok lebai, ya ... seakan menolak satir (tabir tirai penutup) kasih ilahi yang menutupi rahasia ini & para readers yang (semoga selalu) memakluminya.
kutipan : 
JUST ORDINARY PEOPLE
tatu - Didi Kempot : opo aku salah yen aku cerito opo anane
apa saya salah jika saya harus menceritakan apa adanya

mau versi Farel dikira kampanye politis lagi ... payah & parah. (padahal sudah golput ... eh, masih menang juga. Rehat dulu ya, pak ... Demi kebijakan evolusi spiritualitas diri, kebajikan harmoni kebersamaan & kebenaran sinergi kesemestaan ... beri kesempatan lainnya dan jangan maju lagi ). Guyon, lho.
Langsung lanjut ( kelamaan mukadimahnya ...sekarang sudah tanggal 31 Desember 2022 jam 21.00 jadi tinggal 3 jam lagi tahun baru 2023, nih ... sebisanya rekap dulu atau teruskan idea). 
Akhirnya setelah melalui & melampaui pandemi corona 3 tahun ? (Wuhan Agustus 2019 ; Dunia Maret 2020) kita bisa bersama menyambut awal tahun baru (PPKM ditiadakan namun prokes tetap dijaga, lho .... tidak cuma zahiriah namun terutama batiniah).  
Sadhguru Yasudev quote :
this is a time to stand up - not just as one nation but as humanity 
Inilah saatnya untuk bangkit - tidak hanya sebagai satu bangsa tetapi sebagai satu umat manusia .











dari : JUST SHARE

TRIADE SKEMA = QUO VADIS, ALL ? 


PRAKATA :

Maaf ... gaptek asal asalan nggambar ? Ruwet ya  skema triade (parama dharma inti - mandala advaita alam - formula swadika diri) ? susahnya jadi anak hilang (baca : pengembara keabadian) yang ingin (tepatnya harus/perlu/memang rindu) pulang (dengan/dalam kesejatian murniNya). Perlu orierntasi yang mendasar tidak sekedar mendalam atas ketanpa batasan cakrawala kemungkinan yang sudah ada (walau belum diketahui) juga mungkin akan ada (walau belum pasti tergantung terpenuhi tidaknya variabel peniscaya pemberadaan dari kesunyataannya). Semakin dalam pencerahan , semakin tinggi keberdayaan dan semakin luas jangkauan perliu terniscayakan. Karena segala sesuatu nyata ada karena keterniscayaan bukan sekedar persangkaan, penganggapan dan pengharapan belaka. 
Sadhguru Yasudev Quotes : 
Every human being should know the highest possibilities in life are, Whether they will walk the path all the way or not is up to them.
Setiap manusia seharusnya mengetahui apa kemungkinan tertinggi dalam hidup. Apakah mereka akan menempuh jalan itu sepenuhnya atau tidak adalah terserah mereka

Akhirnya purna tugas dinas juga. SADHAR (Sanatana_Dharma) REKAP SD 01032025
Well sambil menjalani ibadah islami puasa  NEW_SHARE ISLAMI SD RAMADHAN 1446 H 2025 M 
lailatul qodar or Nirodha samapatti (magga phala suddhavasa /lokuttara < moksha manunggal brahmanda < racut murca kamavacara bawah < sensasi fantasi candu hiburan semata atau eksploitasi keterpedayaan memperdaya belaka bukan keterniscayaan realisasi holistik atas aktualisasi autentik pemberdayaan diri ?)
QUO VADIS , SEEKER ?
Well masih satu bulan lagi purna dinas .Niatan sih ingin segera menuntaskan makalah Just For Seeker secara jelas dan tegas … tidak hanya dangkal namun tidak juga sekedar mendalam tetapi sekalian mendasar demi keutuhan wawasan pengetahuan agar kemudian mampu menyasar bagi tahapan penempuhannya juga untuk memastikan pembuktian ketercapaian. Namun biarlah tunggu timing yang tepat dulu … tanpa harus sungkan & riskan untuk selalu perlu menjaga & membawa kepantasan dalam keterlibatan komunitas eksistensial diri. Walau harus tetap sadar di dalam namun tetap perlu wajar ke luar.
Dialektika synthesis panentheisme SBAR dengan menghadirkan antithesis nontheisme atas thesis entheisme mungkin akan memicu kontroversi bahkan bisa jadi akan memacu lahirnya synthesis kembarannya (panontheisme SBNR?) yang walau tidaklah menjadi masalah bagi filsuf tauhid yang mampu tetap arif dalam memandang ketunggalan keseluruhan dalam keberagaman keberadaan namun akan sangat bermasalah dan membahayakan bagi para awam yang terbiasa memandang gradasi sebagai hierarki. Sebagaimana ketiadaan murni telah terlelap sebagai keberadaan semu diri dengan memisahkan diri & meng-ilahkan keakuannya demikianlah Higgs boson kesadaran diri tersebut terjatuh dalam nafs kemauannya dari energy menjadi materi… God(damn) particle. Raungan makrokosmos media universal alam bagi dentuman big bang mikrokosmik figure eksistensial diri.             
Paradigma realisasi tauhid kosmik filsuf via Gnosis panentheistic SBAR for Exodus Pan/n/ontheistic SBNR ("menara babel" transendensi perkembangan keberadaban & peradaban bagi semua Higgs Bosson 'badut kosmik" ? fitnah pralaya dunia dewata yakha asura bagi dajjal atau ghibbah maha pralaya samsara Kal dari Dayyal?)

SKETSA =
PROLOG :
Pensiun ? vs Kobayashi - catur ashram 
Buddha : asutava putthujano ummatako viya ?
Sufi Sibili : aku ~  God(damn) particle Cern  
Triade : 
Realitas Sunnata kesejatian = Parama Dharma Sentra Dhyana - 
Fenomena Wilayah keberadaan = Mandala Advaita (gradasi layer dimensi 
Paradigma orientatif peniscayaan = Formula Swadika 
MONOLOG :
Paradigma : Spiritual - Manusia - Mindset 
Evolusi Peniscayaan Keberdayaan : Swadika - Talenta - Vipakha
Harmoni Semesta kebersamaan : 
Sinergi  keseluruhan 
Curhat ? triade 1 (Harmonic Caga Sila Dana) - 2 (Evolutif  STV) - 3 (Sinergis )  
EPILOG 
Aneka Pandangan : 
Tanggapan Kenyataan : 
Harapan keberlanjutan : 


STUCK ? Picu & pacu idea internal via data eksternal 
..... CARI REFERENSI LINK AMAN ( Posting Blog/ Vlog Diri & orang lain yang belum/tidak diblok ? .... repot & ribet tetapi mau bagaimana lagi, bro. )
Posting Blog : 
DIRI = DHARMA_SEKHA Minggu 02 Juni 2023 02072022 LAMPIRAN KUTIPAN ; 2SHARE4SEEKER Minggu, 02 Juli 2023 LANJUTAN BAHASAN
JUST2SHARE4SEEKERS  Friday, July 7, 2023 REKAP IDEA SD 07072023 (30072023)
ETC =
Video Vlog (playlist .... plus time stamp ?) :
  

ETC = 

POSTING FINALE = 

PROLOG :
Pensiun ? 
vs Kobayashi : seharusnya seseorang disebut pensiun jika sudah tidak perlu bekerja karena kemandirian finansialnya (kuadran 4 : investor < usahawan < wirausaha < buruh) bukan tidak mampu lagi bekerja karena sudah uzur. Ideal (pesan moralnya) : Capailah strata purna kerja sebelum tiba usia non produktifmu.  
Catur ashram ... seharusnya inilah saatnya melepas. Paska fase Brahmacariya ( pembelajar yang memberdaya 'keilahian' diri untuk melalui kehidupan & melampaui keabadian kelak) & Grihasta (perumah tangga atau juga dalam batas tertentu pabajita untuk berkolaborasi, & berkontribusi memayu hayuning bawono dalam kebersamaan bermasyarakat) perlu Sannyasa ( retreat samutti ... kesadaran perlu rela melepaskan dunia dengan vivekha x terpaksa kelak) hingga Bhikkhu ( sudah/ hingga fase vimutti ... kelayakan melampaui hingga dunia juga rela melepaskan belenggu kemelekatannya)   

Ummatako : Menjadi "gila"
Buddha atau Buddhagosa  : asutava putthujano ummatako viya ? Orang awam yang belum tercerahkan dan tidak berpengetahuan seperti orang gila ? Bahkan suttava berpengetahuan sekalipun tetap susah untuk vivekha tetap sadar di  kedalaman dan sekaligus wajar ke permukaan . (Ngeli tanpo keli ? menghanyut tanpa terhanyut susah, bro). 
plus : Ref  puisi KGK (khalil Gibran Khalil) 


Sufi Sibili : aku ~  God(damn) particle Cern  
  
Seorang Sufi (mungkin bernama Sibili) ada mengatakan Setan berkata jika kamu sudah meng-aku kau sudah sama dengan aku (?). Setan atau cetana (keinginan/ kehendak) itu ego diri. Agak riskan & sungkan ? Jangan gagal faham apalagi salah sangka. Ini tidak memper"setan"kan para Tuhan apalagi memper"tuhan"kan para setan ( Konsep Figure yang mengIlahkan Keakuan & kemauan diri tidak hanya persangkaan internal bahkan eksternal termasuk ego diri kita sendiri juga, lho ... baik langsung via arogansi pembanggaan atau tidak via eksploitasi pemanfaatan ). Terlempar dan terdamparnya kita semua karena ego kita yang kegeden anggep /mana/ & kakehan karep /tanha/ ... semakin bubrah parah patensi kecenderungannya semakin rendah payah dimensi keberlanjutannya..... dari surga kenikmatan eksternal indrawi kamavacara ( versi agama abrahamik ) < dari moksa kehikmatan internal ilahiah Brahmanda ( ala ajaran mistik) < dari kasunyatan azaliah esensi nirvanik lokutttara (Buddha terlalu autentik untuk berspekulasi ... Ketercerahan adalah keterniscayaan universal transenden bukan perolehan/ pencapaian personal imanen ?). Kita harus respek akan segala laten deitas keilahian Sentra yang melingkupi segala dhamma keberadaan dalam permainan keabadian ini externally & internally. Tidak ada yang harus kita cela walau kita dicela, tidak ada yang kita musuhi walau kita dimusuhi ... karena segalaNya terpadu menyatu pada sistem homeostatis interconnected equilibiriumNya. Itulah sebabnya keapikan, keasihan & kearifan adalah keterniscayan yang harus terniscayakan walau memang tidak diungkapkan kaidah kosmik ini sehingga tidak mungkin bagi arogansi untuk bertahta, dusta bisa lestari dan legitimasi keburukan/ kebusukan lain bagi kemurnian sejati di keruhnya lautan keberadaan ini. Seperti bumerang segalanya baik atau buruk akan berbalik lagi kepada kita sendiri. (dampak karmik bagi setiap effek kosmik).  Mengada , mengesa & meniada .... mengada wajar secara eksistensial, mengesa sadar sebagai universal dan meniada (walau susah karena keberadaan alamiah sebagai diri) karena kita sesungguhnya hanyalah ketiadaan murni (mumkimul wujud) yang berada berhadapan terlingkup dalam keberadaan mutlak (wajibul wujud) jadi tetap selaras evolutif, harmonis & sinergik tanpa kesombongan apalagi kelancangan di dalamNya. Susah, ya ... untuk difahami apalagi dijalani.       
Analogi God(damn) particle Cern Terciptanya Semesta : Esensi (Lokuttara) - Energi (Brahmanda) - Materi (Kamavacara) 
 

Triade : 
Tuhan (SBAR) atau Sentra (SBNR) ... Tauhid Gnosis Filsuf
Ref : 
Kartu terakhir : Gestalt (keterpaduan holistik paska triade dialektika Hegel ?)

Ref :

Tuhan ? Walaupun yang Mutlak memang ada (jika Sentra Sejati yang transenden tidak ada bagaimana mungkin sigma dimensi mandala  semesta tergelar dengan aneka zenka keberadaan di dalamnya) namun dalam mandala samsara immanen ini banyak petta, asura, yakha, dewata, brahma bahkan nafs ego yang  mengidentifikasi diri berkompetisi, berinteraksi ,bertransaksi saling mengeksploitasi / mengaktualisasi diri. 
Tuhan (atau ketuhanan tepatnya) adalah konsep bagi samudera energi keberadaan yang kemudian diklaim sebagai entitas figure diri yang disakralisasikan secara personal bagi agama (perlu kebajikan eksistensial untuk perolehan kebahagiaan eksternal) & sebagai keberadaan transpersonal bagi mistisi untuk direalisasikan (perlu kebijakan universal untuk pencapaian keholistikan internal).... bagi Dhamma entitas yang masih berklaim tersebut dipandang masih bersifat samsarik demi transendensi azali nirvanik yang lebih murni (perlu kebenaran spiritual demi pencerahan keterjagaan esensial) ?
Dalam pandangan kami konsep/figure Tuhan seharusnya tidaklah sedangkal itu ....kami menggeser tepatnya memperluasnya dalam ketak-terhinggaan yang tidak mungkin terjangkau apapun impersonal infinitum indefinite ( see : bahasan di atas). Bahkan jikapun dalam kenyataannya mungkin demikian kita tetap memerlukan sesuatu yang tak terhingga untuk tumbuh berkembang lebih terarah & terpadu demi sinkronisasi kebenaran dan bagi integrasi keutamaan yang dapat direalisasikan dari, oleh & untuk semua .... paradigma yang terdengar naif  untuk didengarkan atau arif untuk dikembangkan ?
Mungkin agak nggege mongso walau operasi caesar mungkin memang perlu dilakukan. Agar dari bayi prematur paradigma yang belum tiba saanya ini akan menjadi prototype bagi intelgensi kecerdasan manusiawi kita dalam berfilsafat tidak lagi stagnan & 'mbulet' dan kembali berkembang membaik untuk kehadiran bayi pandangan baru (baca: paradigma sintesa) yang lebih sehat, tepat dan hebat berikutnya. 
menerima /kenyataan/, mengasihi /kebenaran/ & melampaui /keutamaan/ karena Realitas di kedalaman yang terniscaya sebagai fenomena ke permukaan tsb gradatif (walau memang hirarkis namun tunggal adanya), dinamis (kesempurnaan absolut tidak stagnan namun semakin baik berkembang karena kearifan, kesucian & keutuhanNya) dan integrated (segalanya interconnected demi equilibirium bagi desain kosmik yang homeostasis) 
keterniscayaan ?  prokreasi penciptaan (materi) < emanasi keberadaan (energi) < katalisasi kemungkinan (esensi)    
Ini memang idea baru yang sama sekali tidak akan pernah menguntungkan ego penganut, penempuh & penembusnya ... tanpa klaim identifikatif/ eksploitatif/ alienatif bagi pembenaran trium falisme, standar ganda dan pembenaran addhama demi kekuasaan eksternal atas lainnya karena .... well, walaupun sebenarnya penyesatan sebagaimana pencerahan memang memunginkan ada sebagaimana juga kesadaran parama dharma dan maha avidya ini namun demikian ..... pengkhianatan terbesar kita sesungguhnya menyangkal kenyataan, mengabaikan kebenaran dan mengacuhkan keutamaan yang digariskanNya bukan hanya demi evolusi, harmoni & sinergi individualitas 'tan-diri' kita namun juga bagi keberlangsungan, keberlanjutan dan kebersesuaian equilibirium bagi kaidah sistem atas desain kosmik yang homeostasis & interconnected mandala semesta ini dan segalanya seharusnya semakin menghampa sebagai ketiadaan murni dari keberadaan sejatiNya. Kenyataan sejati, Kebenaran abadi & Keutamaan azali ini akan selalu terjadi walau kita tidak mampu memahamiNya, walau kita tidak mau mengakuiNya & walau kita berusaha menjauhiNya .  

sebelumnya :

Tentang KeIlahian  (Tuhan : Tao - Dhamma )
Tuhan bukan bemper kebodohan/kemanjaan diri, media katarsis psikologis /transaksi pencitraan   dan kloset pembenaran pemfasikan/ kezaliman kepada lainnnya).  Perlu kebijaksanaan universal. keperwiraan eksistensial, dan  keberdayaan transendental dalam spiritualitas
Tauhid sufism Ibn Araby  : tanzih -tasbih (transenden/imanen) Jika kau memandangnya tanzih semata kau membatasi Tuhan. Jika kau memandangnya tasbih belaka kau menetapkan Dia Namun jika kau menyatakanNya tanzih dan tasybih; kau berada di jalan Tauhid yang benar Sufi Ibn Arabi  memandang  KeIlahian Tuhan secara Esa - utuh dalam keseluruhan. Tuhan dipandang sekaligus sebagai Dzat Mutlak yang kekudusanNya tak tercapai oleh apapun/siapapun juga (transenden/tanzih) namun keluhuranNya meliputi segala sesuatu (immanen/ tasybih) sehingga walaupun pada dasarnya Kekudusan dan kesempurnaan Tuhan secara intelektual tak terfahami (agnosis)dengan keberadaan yang mungkin terlalu agung untuk kemudian tak diPribadikan(impersonal) dan mandiri (independent) namun  kemulian IlahiahNya sering  disikapi sebagai figur yang berpribadi(personal) dan Dharma kehendakNya dapat difahami(gnosis)  sehingga  memungkinkan terjadinya hubungan antara makhluk dengan Tuhan sesuai dengan ketentuanNya (dependent).Tanpa Tuhan, tidak ada segalanya. Karena Tuhan, bisa ada segalanya. (wajibul & mumkimul Wujud )
Tao adalah Tao - jikakau bisa menggambarkannya itu pasti bukan Tao Laisa kamitsilihi syai'un 
Masihkah kita (diri yang hanya personal immanen) ingin (tepatnya: layak) bersaing untuk menyamai, menjadi bahkan melampaui Tuhan (Hyang juga Impersonal Transenden) ? hantu abadi atau tuhan abadi, Taoist ?

Dalam kitab suci Uddana 8.3 Parinibbana (3) Buddha bersabda : O,bhikkhu ; ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak menjelma,tidak tercipta, Yang Mutlak Jika seandainya saja tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak menjelma,tidak tercipta, Yang Mutlak tersebut  maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran penjelmaan ,pembentukan , dan pemunculan  dari sebab yang lalu. Tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan,tidak  menjelma, tidak tercipta, Yang Mutlak tersebut maka ada jalan keluar kebebasan dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu itu.  Ini secara tidak langsung mungkin menunjukkan dua hal sekaligus ,yaitu : kesaksian akan adanya keilahian yang diistilahkan sebagai ‘yang tak terbatas” dan yang kedua penjelasan bahwa nibbana   pencerahan sebagai puncak pencapaian spiritualitas Buddhisme hanya mungkin terjadi karena adanya ‘Yang tak terbatas’ tersebut. 
plus link : konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama (https://khmand.wordpress.com/2008/08/20/konsep-tuhan-dlm-agama-buddha/)
Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi. Buddhisme umumnya menamai itu semua sebagai Nibbana (Unio Mystica Kemurnian/KeIlahian ? ). Tanpa niatan mengacau, jika kami memandang ini secara tidak langsung mungkin menunjukkan dua hal sekaligus ,yaitu : kesaksian akan adanya "keilahian' yang diistilahkan sebagai ‘yang Mutlak” dan yang kedua penjelasan bahwa nibbana pencerahan sebagai puncak pencapaian spiritualitas Buddhisme hanya mungkin terjadi karena adanya ‘Yang Mutlak’ tersebut. Seperti di tabel.
Tabel 10 level Kesadaran Gnosis  


 

Dimensi

Tanazul Genesis KeIlahian

Taraqi  Eksodus Pemurnian

 Simultan progress Triade

Transendental

ESENSI MURNI

? ! . 

Transendental

 ajatam

abhutam

Panna

(theravada?)

Universal

akatam

asankhatam

Eksistensial

Asekha ?

Nibbana

Universal

ENERGI ILAHI nama brahma 

Transendental

Anagami

suddhavasa

Samadhi

(vajrayana ?)

Universal

Anenja

arupavacara

Eksistensial

Vehapala >Abhasara

rupavacara

Eksistensial

MATERI ALAMI rupa kamavacara

Transendental

Mara/Kal, ...

triloka

Sila 

(mahayana?)

Universal

Yama , Saka, ...

svargaloka

Eksistensial

asura? < Bhumadeva   

apayaloka

10 ? transendental 3 + universal 3 + eksistensial 3 = 9 ?  9 dimensi mandala di atas + 1 for Indefinitely Infinitum ( Realitas Aktual Transenden > Fenomena Formal Immanen dari personal laten deitas  ) for humbling in progress to mystery. 
Plus: hipotesa teoritis  3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara). .... mungkin tepatnya state keberadaan. (apalagi tidak hanya laten deitas personal samsarik) . 

Dhyana Dharma Keberadaan :
Fase 1 :  Fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purwaning Dumadi  ( Dhyana ® Swadika ! )
Fase 2 : fase peng’ada’an. KeEsaan karena Tuhan. sangkaning Dumadi  ( Dharma ® Kehendak Ilahi )
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Dharma Dhyana Keberadaan :
Fase 3 : fase keberadaan  Keesaan di dalam Tuhan gumelaring Dumadi  ( Tanazul ®Keberadaan Mandala )
Fase 4 : fase peniadaan. Keesaan kembali ke Tuhan. paraning Dumadi ( Taraqqi ®Mandala Keberadaan )
Fase 5 : fase KeMaha-Adaan Absolut Tuhan. purnaning Dumadi ( Dhyana ® Pralaya ? )
Well, ini hipotesa teoritis dari 3 (tiga) fase (Mandala Tiada Samsara - Mandala dengan Samsara - Mandala Tanpa Samsara).  
1.Mandala Tiada Samsara, ( Fase hanya Dhyana > Dhamma ) 
Transenden = Transendental - Universal  - Eksistensial  (Esa - yang ada hanya Dia Sentra Yang Esa ) 
2. Mandala Dengan Samsara, (Fase  dalam Dhamma < Dhyana )
Transenden = Transendental , Universal  , Eksistensial  (Segalanya ada  karena Dia  Sentra Yang Esa) 
Tanazul Genesis = emanasi , kreasi , ekspansi ? 
2.1. Awal : Mandala Pra Samsara  
Transendental : keterjagaan esensi / zen ? Nibbana 
Universal  : keterlelapan energi / nama  Brahma : arupa & rupa , 
Eksistensial  : kebermimpian etheric / rupa Kamavacara : dunia - surga & apaya  
2.2.. Kini : Samsara Pra Pralaya  
Dunia :  sd pralaya  Svarga : sd pralaya (paska dunia ) - Apaya :  sd pralaya ( lokantarika ?) -  Brahma : sd pralaya ( abhasara etc  Nibbana : sd advaita ? 
2.3. Nanti : Samsara Paska Pralaya (versi Buddhism ? ) 
Lokantarika : residu rupa paska terkena pralaya : dunia - apaya - svarga - hingga rupa brahma Jhana 1 sd 3 (mengapa ?)
Brahmanda : restan nama tidak terkena pralaya : Sudhavasa + Anenja /& Rupa Brahma : Jhana 4 untuk kemudian 3 - 2 ( abhasara )  
Lokuttrara : bebas dari samsara & pralayanya : Asekha nibbana ( eksistensial ? + universal & transendental-nya)  
What's next ? 
- Siklus fase ke 2 Mandala Dalam Samsara berlanjut lagi (Kisah kasih nama rupa Brahmanda Lokantarika bersemi kembali sebagaimana biasanya ? ... kecuali
lokuttara & suddhavasa harusnya plus vehapala yang masih mantap & anenja yang masih terlelap juga ..... Asaññasatta ?)  
- atau... kembali ke fase 1 (kemanunggalan azali karena pencerahan keseluruhan/& keterjagaan Dia Sentra Yang Esa) 
- atau haruskah ada fase 3 (kemusnahan total karena kekacauan keseluruhan & kebinasaan Dia  Sentra Yang Esa ) 
3. Mandala Tanpa Samsara  (Fase  tanpa Dhamma - tiada Dhyana )  
tiada  Eksistensial - Universal  -  Transendental    (Segalanya tiada  tanpa Dia Sentra Yang Esa )  
Adakah Sentra dengan sigma & zenka lain ? Maha Sentra Utama ? dst dsb dll 

1. Realitas Sunnata kesejatian = Parama Dharma Sentra Dhyana - 

Symbol 

skema triade (parama dharma inti - mandala advaita alam - formula swadika diri) ? susahnya jadi anak hilang (baca : pengembara keabadian) yang ingin (tepatnya harus/perlu/memang rindu) pulang (dengan/dalam kesejatian murniNya). Perlu orierntasi yang mendasar tidak sekedar mendalam atas ketanpa batasan cakrawala kemungkinan yang sudah ada (walau belum diketahui) juga mungkin akan ada (walau belum pasti tergantung terpenuhi tidaknya variabel peniscaya pemberadaan dari kesunyataannya). Semakin dalam pencerahan , semakin tinggi keberdayaan dan semakin luas jangkauan perliu terniscayakan. Karena segala sesuatu nyata ada karena keterniscayaan bukan sekedar persangkaan, penganggapan dan pengharapan belaka. 

Ref :
SUCHNESS PHILOSOPHY = PARAMA DHARMA , MANDALA ADVAITA & FORMULA SWADIKA ?\
singkatnya begini ... Adalah Sentra Dhyana bak Wujud mentari keber-Ada-an yang memunculkan Parama Dharma azali corona energi (jadi inget term pandemi kemarin, ya ? ) maka tergelarlah dalam keniscayaan ketiadaan murni azali menjadi samudera sigma kuanta materi cahaya dalam segala layer dimensi wilayah mandala advaita demikianlah kesedemikianan itu tergelar sebagai desain sistem yang homeostatis interconnected equilibirium bagi setiap diri cahaya tersebut untuk beraktualisasi sesuai di dalamnya atau untuk pulang kembali dalam kemurnian azalinya dalam formula swadika yang tepat. 

sebelumnya :

apa ini? coretan tidak karuan..?.. ya ... itulah sketsa sederhana suchness philosophy .... paradigma  kesedemikianan , hehehe
SUCHNESS PHILOSOPHY ... Paradigma Kesedemikianan (Desain , Kaidah & Metode Kosmik )
TENTANG SKETSA 
Diagram Venn Himpunan aljabar ? Bujur Sangkar Universun hokistics (harusnya matra 3 bidang ruang > 2 bidang datar = bola > lingkatan Taoism ?)
~ = ketidak-terhinggaan (Realitas Kebenaran) ; E = sigma keberadaan ( Fenomena Kenyataan)
A B C D = orientasi ke atas, ke dalam vs ke bawah ke luar  = Parama Dharma keselarasan vs Maha Avijja ketersesatan   
Lingkaran  = layer eksistensial - Universal - Transendental  (disikapi secara holistik sebagai level gradasi > label hirarki ? )
Juring AD = ideal keselarasan lokuttara (kedewasaan /pencerahan ) beri tanda centang ( V =victory ) vs Juring BC =  idiot ketersesatan lokantarika (tanda X wrong? )
evolusi pribadi -  harmoni dimensi - sinergi valensi ; (swadika talenta visekha ) (persona regista persada) ; (menerima mengasihi melampaui)  (kesadaran di kedalaman - kewajaran di permukaan - kecakapan di keluasan)  (being trur - humble - responsible )etc 
TENTANG IDEA 
kami tidak membuatkan belenggu pandangan lain, sesembahan baru maupun kelompok beda ( hanya ... just share idea pengertian keseluruhan ) 
pandangan universal panentheistic (bagi para filsuf ), pandeistic (bagi para agamawan) bahkan panatheistik  (bagi para agnostik) 
rintisan paradigma holistik untuk dikembangkan sesuai kematangan keberadaan diri (puthujana, sekha, bahkan asekha )

2. Fenomena Wilayah keberadaan = Mandala Advaita (gradasi layer dimensi 
Ref :

Desain kosmik mandala ini memang kelihatan aneh & unik ... banyak paradoks & labirin dalam sistemNya. Well ... mentari Dhamma kebenaran transendental yang tidak hanya translingual  namun juga transrasional mungkin memang harusnya demikian agar ada ruang / peluang bagi avidya kebodohan secara semu, naif bahkan liar membiaskan pelangi semu keberagaman ... agar bisa makin mengesankan (juga mengenaskan) kepekokan & lebih mengasyikan (juga mengesalkan) kehebohan  dagelan nama rupa samsarik di dalamnya, hehehe .
Secara mikrokosmik jika diri bertransendensi semakin ke atas & ke dalam (realisasi> aktualisasi x defisiensi) justru secara makrokosmos semakin luas wilayahnya (bukan hanya memungkinkan kemantapan saat ini namun juga melayakan peniscayaan fase berikutnya disamping  melingkupi permukaan yang di bawah & di luar sebelumnya) ... So, triade realisasi evolutif (zenka keberadaan diri), aktualisasi harmonis (sigma kebersamaan alam) dan sinergi holistik (sentra kesedemikianan inti) mutlak secara simultan progresif difahami , dijalani dan dilampaui untuk tidak stagnan tumbuh berkembang tanpa harus tersesat dalam labirin apalagi tergelincir dalam kejatuhan (saran ideal bagi kita yang idiot, bro)

atau tabel hipotesis yang agak 'gila' dari kami ini 

 

Wilayah

1

2

3

Transendental

Nibbana ‘sentra’ ?

Belum diketahui ? 7

Tidak diketahui ? 8

Tanpa diketahui ? 9

 

Nibbana ‘sigma’?

Belum mengakui ? 4

Tidak mengakui ? 5

Tanpa mengakui ? 6

 

Nibbana ‘zenka’ ?

Arahata 1

Pacceka 2

Sambuddha 3

Universal

Brahma Murni  (Suddhavasa)

Anagami 7 (aviha Atappa)

Anagami 8 (Sudassa Sudassi)

Anagami  9(Akanittha)

 

Brahma Stabil (Uppekkha )

jhana 4 (Vehapphala)

Asaññasatta 5 (rupa > nama)

Anenja 6 ( nama > rupa arupa brahma 4 )

 

Brahma mobile (nama & rupa)

Jhana 1 (Maha Brahma)

Jhana 2 (Abhassara)

Jhana 3 (Subhakinha)

Eksistensial

Trimurti LokaDewa

Vishnu 7 (Tusita)

Brahma 8 (Nimmãnarati)

Shiva 9 (Mara?  Paranimmita vasavatti)

 

Astral Surgawi

Yakha  (Cãtummahãrãjika) 4

Saka  (Tãvatimsa) 5

Yama (Yãma)6 

 

Materi Eteris

Dunia fisik(mediocre’ manussa  &‘apaya’ hewan iracchãnayoni) 
+ flora & abiotik ? / 1
Eteris Astral apaya (‘apaya’ Petayoni & ‘apaya’ niraya)
2
Eteris Astral apaya Asura  (petta & /eks?/  Deva ) 
3

Kutipan : 31 Alam Kehidupan Samsarik & Nirvanik
tampaknya pada kolom universal Uppekha Brahma yang relatif stabil (maksudnya tidak mobile / fragile tidak begitu labil sehingga lolos sementara tidak terkena dari siklus rupa pralaya samsarik dimensi 'materi' : dunia 1 + apaya 4 & juga surga deva kamavacara 6  & Rupa Brahma 3 dibawahnya sebagai rupa lokantarika di antara Brahmanda & lokuttara nantinya sebelum siklus berikutnya) perlu digeser posisi antara anenja 5 & asannasata 6 ... bukan hanya dikarenakan life span (masa hidup) namun juga dari ketangguhan samadhi mereka dalam labirin kosmik paralel penembusan saddhamma. Asaññasatta tersekap (terjatuh) dalam rupa sedangkan anenja 'hanya' terjebak (terlelap) dalam nama. Direvisi resumenya?. Atau bisa juga Brahma Vehappala 4 digeser ke tengah jadi nomor 5 karena keseimbangannya sebagai nama atas rupa (BUKAN KESOMBONGAN, KESERAKAHAN & KEBENCIAN, LHO) dibandingkan  Asaññasatta 4 yang menolak nama batin bahkan malahan menjadi melekat pada rupa materi bahkan mungkin juga justru nomor 6 mengungguli anenja yang terlelap dalam nama dan acuh dengan rupa pada level anariya (?) walau memang memiliki masa hidup (life span) yang lebih lama dibandingkan para Brahma lainnya (bahkan termasuk Ariya anagami suddhavasa di  level atasnya) berdasarkan kalkulasi matematis Gnosis Buddhisme. Direvisi lagi resumenya ?
apaya asura ? hehehe, tampaknya itu rahasia kosmik, guys. Vishnu mungkin tidak suka namun tampaknya tidak bagi Shiva yang arif, Brahma dan Saka memang ahli & baik namun  naif  untuk hal ini. Dalam permainan samsarik ini keberadaan guardian "penyeimbang" bagi keberlangsungan kesemuan, kenaifan & keliaran hingga perlunya serial recycling daur ulang pralaya   perbaikan kerusakan paska kekacauan dimensi tampaknya memang perlu ada. Tanpa maksud  mencela & membela, dalam diri setiap kita para zenka  pengembara keabadian tampaknya memang masih  ada 'drive' ariya dan asura di dalamnya. Dalam dimensi kamavacara tampaknya asura, yama & mara  memang guardian utama untuk permainan samsarik di level bawah, tengah & atas. 
Ini sebetulnya bahasan paling menarik namun sayangnya akan sangat sensitif  tampaknya  (sungkan, ah) referensi acuan?  intinya tetaplah autentik & holistik (tidak identifikatif apalagi manipulatif) 
Kutipan :3b) (Membicarakan soal Kebenaran dan Agama.docx). 
semoga tanggap demi empati, harmoni, sinergi. kebersamaan semua. /mencela itu tercela bukan hanya untuk yang tidak selayaknya dicela bahkan juga jikapun dianggap layak untuk itu awas kesombongan, jaga keseimbangan demi kebijaksanaan akan Kesunyataan holistik /  
So, jadilah berkah yang mencerahkan/ memberdayakan bukan limbah yang menyusahkan/memperdayakan di/ke manapun kita berada bukan hanya bagi diri sendiri namun juga makhluk lain di setiap living cosmic ini.  So, pastikan keberdayaan Saddhamma bukan hanya yakinkan kepercayaan belaka! penempuhan nyata tidak sekedar pengetahuan belaka. Saddhamma adalah aktualisasi autentik pemastian sesuai kaidah Realitas bukan sekedar harapan persangkaan keyakinan saja (Real realized>identifikatif & manipulatif ?).  
Bijaksanalah untuk senantiasa bersiaga dengan segala kemungkinan sejati yang /akan/ ada (kualitas transendensi ariya > mahakammavibhanga 4 > ekspektasi asura ? ) minimal bersiaplah menerima, menghadapi dan melampauinya (realisasi level swadika, kualifikasi genia talenta & hisab visekha)  ! (See = siklus samsarik gnosis fase 3 mandala di atas : sungkan & riskan bilang sebetulnya .... BTW sekarang tanggap ya mengapa & bagaimana dalam gnosis buddhisme siklus pralaya samsarik terjadi bukan hanya pada dunia, apaya namun juga surga bahkan hingga rupa brahma jhana 3 ) 
So, spiritualitas memang mutlak mengharuskan kemurnian bukan sekedar kelihaian (terkadang segala kenekatan penempuhan, kehebatan pencapaian & kehebohan perolehan sering menjadi labirin jebakan penjerat/penjebak/penjatuh yang sangat ampuh bagi yang belum terjaga & tidak waspada apalagi jika caranya bertentangan dengan Saddhamma ... bumerang, guys). 
Cari quote video Mahadeva Shiva yang menyayangkan motif Asura karena memujaNya demi transaksi hadiah kekuatan/kemuliaan bukan demi pensucian kesejatian yang seharusnya lebih berguna demi transformasi diri. (memberatkan keakuan & mengumbar kemauan ... kebodohan internal dengan pembodohan eksternal ?) Shiva memang fair mengesankan kesemuanya dan tidak mengenaskan, bukan typical personal god laten deitas yang naif & liar untuk dieksploitasi karena harapkan pengakuan/ pemujaan apalagi persaingan & kebencian /kesalah-fahaman Asura yang fatal dalam persangkaan & pandangannya dalam/sebagai ke-Ilahi-an?) .... bagi pemurnian autentik kesejatian harusnya bukan demi transaksi kepamrihan pencitraan  yang semu, nsif & liar yang merugikan perkembangan pencapaian spiritualitas semuanya. Har har Mahadev seri berapa, ya ? (lupa tayangan TV dulu). Jika saja memang benar level Shiva Mahadeva Hinduisme setara dengan Mara Buddhisme ini tetaplah menjadi keunggulanNya .. senantiasa terjaga & waspada tidak butuh pengakuan walau memang belum menyadari keanattaan realitas diri sebagaimana Buddha Tusita (avatara ke 9 Vishnu ?) yang mencapai pencerahan Nirvanik..  
Keteladanan Acinteya yang telah direalisasi& tetap dijalani Buddha  walau tanpa dipublikasi dalam simsapa sutta ini apa juga difahami & disadari Savaka-Nya ? 

3. Paradigma orientatif peniscayaan = Formula Swadika 

Ref : 
1. Menghadapi Keabadian : Swadika, Talenta, Visekha
Swadika :
Talenta, :
Visekha:
2. Menghadapi Kehidupan : kecakapan, kemapanan, kewajaran
kecakapan :
kemapanan, :
kewajaran :
3. Menghadapi Kematian : Racut , Bardo , Alam 
Racut : 
Bardo :
Alam :


Jawaban 3 Mengapa 
1. Mengapa Buddha ada menyatakan sebagian besar dari kita (baik yang beragama & berTuhan ataupun yang tidak ?) terhalang menuju jangankan Nibanna pembebasan, atau lolos ke Brahmanda Jhana 4 (vs Mahapralaya kamavacara ) bahkan untuk ke surga Kamavacara (vs Pralaya Mayapada dunia) bahkan kemudian susah menjadikan kamavacara bawah (yakha, asura, manusia,) justru malah apaya (hewan.petta , niraya) bahkan lokantarika seakan menjadi hunian layak berikutnya /niyata miccha ditthi?/. 
kecenderungan ego Eksploitatif  X  keperwiraan Esa Aktualitatif  ....  pelayakan keterniscayaan x terperdayakan pencitraan  
Ref :

Namaste (bagi kami) artinya : " saya menghormati/menghargai yang ada di dalam anda"
maksudnya : esensi kemurnian nirvanik, energi keilahian batiniah, materi kealamian zahiriah.
Sikap gesture tangan India ini menjadi sangat popular terutama pada saat pandemi global Covid-19 saat ini dimana jangankan untuk negatif tranyakan untuk positif keakraban kontak fisik berjabat tangan apalagi cipika-cipiki saja terbatasi dengan kebijakan distansi sosial untuk kebajikan saling menjaga dan terjaga (bukan hanya untuk diri sendiri namun juga demi orang lain dan lingkungan sekitar kita …Sedaka Sutta ?).  Namaste (bagi kami) artinya : " saya menghormati/menghargai yang ada di dalam anda"maksudnya : esensi kemurnian nirvanik, energi keilahian batiniah, materi kealamian zahiriah.
Ingat, tanpa menafikan peran kebersamaan universal manusiawi kita sebagai faber mundi (pemberdaya peradaban) di bumi, pada dasarnya kita hanyalah viator mundi (pengembara yang singgah bukan penghuni tetap) dalam kehidupan duniawi kita saat ini dengan casing peran persona dagelan nama-rupa samsarik untuk keberlanjutan kehidupan berikutnya lagi. Jagalah keberkahan di bumi dan bawalah keberkahan untuk saat nanti. Sebagaimana tuning frekuensi gelombang arus kesadaran, tanpa menafikan akumulasi karmik sebelumnya konsistensi sikap, tindakan dan capaian diri saat ini akan berdampak pada konsekuensi yang akan diterima nanti demikian seterusnya.
Jika anda inginkan surga di sana layakkan juga surga di sini dengan kearifan menjaga kebersamaan dan kebaikan untuk sesama dengan memastikan keberdayaan tindakan nyata bukan sekedar idea anggapan dan keyakinan belaka. Walau secara labeling pandangan mungkin saja masih nanti (paska pralaya dunia?) namun dalam leveling kenyataan bisa jadi seketika (tanpa alam antara?).
Jika anda dambakan kemanunggalan Ilahiah (transendensi moksa individualitas universal nama batiniah ke wilayah rohani tinggi hingga Anenja Brahma tidak sebatas dematerialisasi murca rupa zahiriah ke dimensi eteris peta, asura Bhumadeva atau astral Kamadeva 6 ?) layakkan diri sebagai media Brahma Vihara (sebagai media ilahi … tidak sekedar lihai bertransaksi mendapat untuk tersekap atau ikhlash memberi untuk menerima kembali namun murni mengasihi sebagaimana harusnya harmoni kasih universal yang berlaku disadari dan ketulusan untuk berbagi secara wajar memang perlu dijalani) sehingga kualifikasi adhikari tihetuka yang dewasa terjaga dan (dikarenakan senantiasa ada korelasi kosmik antara kesadaran, kecakapan dan kelayakan yang tumbuh berkembang secara simultan/progressif) kewasesaan batiniah juga akan berkembang (orientasi , refleksi + distansi & meditasi) dari akar penempuhan hingga puncak penembusannya (asalkan tetap terjaga dari godaan kemegahan yang menyekap sensasi kemauan, cobaan kemampuan yang menjebak fantasi keakuan dan labirin parallel yang memandekan, membingungkan atau bahkan menjatuhkan). 
Jika anda harapkan nibbana nanti layakkan juga nibbana saat ini dengan keterjagaan memandang tilakhana kesemestaan dengan kewaspadaan tanpa keterlelapan  dan keberdayaan simultan progressif menyelaraskan diri dengan kewajaran pemurnian adhi sila (moralitas berprilaku zahiriah dan integritas berpribadi batiniah), memberdayakan diri dengan kemantapan adhi citta bhavana dan semakin men-terjagakan diri dengan kematangan penembusan adhi panna sehingga memadailah kualitas Ariya Puggala ... bukan hanya terlayakkan 'sertifikat kosmik' atas pencapaian magga phala nibbana (irreversible?) namun juga 'kualitas kosmik' yang memang dipandang layak oleh Advaita Dhamma Niyama untuk tidak lagi perlu (karena sudah terlalu mampu) 'ndagel' bermimpi di permainan samsara ini. 
Intinya, tak perlu ada pembandingan apalagi kesombongan, kemelekatan apalagi keserakahan dan kekesalan apalagi permusuhan dalam permainan keabadian ini. Bahkan dengan pemahaman kebijaksanaan, kecakapan keberdayaan dan kesediaan kebahagiaan tersebut berikanlah respek kepada segala media eksistensial yang memerankan aneka lakon yang diperlukan, kaidah universal yang menentukan manual dampak skenario yang menjadi acuan aturan bermainnya & esensi transendental yang menyaksikan pagelaran agung keabadian ini. Desain mandala ini sudah 'sempurna' tertata .... so, terimalah segalanya apa adanya agar kita dapat mengasihi sebagaimana harusnya sehingga kita mampu melampauinya dengan bijaksana. Tanamlah apa yang ingin anda tuai nantinya, layakkan apa yang akan anda capai nantinya dan niscayakan apa yang keniscayaan seharusnya terjadi nantinya. Kita (tak perduli siapapun kita inginkan untuk diidentifikasikan oleh diri /lainnya, etc ) sesungguhnya tidak akan dapat (sehingga tidak perlu) memanipulasi label semulia apapun itu tampaknya apalagi jika hanya sekedar untuk mengeksploitasi. Kita hanya perlu merealisasikan level apa yang seharusnya terniscayakan dalam kesedemikianan yang ada dengan apa adanya baik secara eksistensial, universal apalagi transendental.  Thus, be realistics to realize the real.  

Be Realistics to Realize the Real  
Bersikap realistis untuk merealisasi yang real 
NDAGELE SAKMADYO WAE
jalani drama kehidupan ini sewajarnya saja
Dalam kesedemikian perlu keberdayaan dengan keselarasan dalam keseluruhan untuk meniscayakan keberadaan.
IMPERSONAL REALITY (KEILAHIAN TRANSENDEN) 

just image
Be realistics to realize the Real. (Bersikaplah benar untuk senantiasa realistis dalam merealisasikan segala yang real nyata secara tepat dan sehat) Kita hanya berhak mendapatkan apa yang kita berikan .... entah itu kebaikan ataupun keburukan. Segala niatan, tindakan dan capaian tidak akan percuma walau dampak mungkin tidak selalu instan kemasakannya dan mungkin tidak juga identik kelayakannya. Namun demikian kebijaksanaan untuk senantasa mengupayakan keterarahan dan keberdayaan dalam menghadapi segala kemungkinan yang ada secara pasti bahkan mungkin bisa ada perlu selalu dilakukan dengan tanpa perlu merendahkan adanya karunia keberuntungan akan kepercayaan dan pengharapan untuk segala kemungkinan yang bisa saja ada terjadi.

Sekedar mengingatkan kesejatian diri & menghargai  keberadaan saat ini kita semua 
“We are not human beings having a spiritual experience. We are spiritual beings having a human experience.”― Pierre Teilhard de Chardin
literal : Kita bukan manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita makhluk spiritual yang memiliki pengalaman manusia 
Pada hakekatnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sbg manusia ketimbang sbg manusia yang menjalani tugas spiritual..Kita hanyalah ketiadaan yang diadakan dalam keberadaan untuk sekedar sederhana mengada tanpa perlu mengada-ada dihadapanNya...betapa indahnya kehidupan jika kita tiada ragu untuk mampu hadir dalam kesederhanaan yang murni, tulus apa adanya tanpa perlu membalutnya dengan kemasan kesempurnaan yang walaupun mungkin tampak indah dan megah namun semu dalam kesejatiannya.
PRAKATA : Just Simple Words to Begin and Fade Away (Hanya Kata-kata Sederhana untuk Memulai dan kemudian Berlalu) 
Link video : Awaken Samadhi trailer 
Pada hakekatnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sbg manusia ketimbang sbg manusia yang menjalani tugas spiritual..Kita hanyalah ketiadaan yang diadakan dalam keberadaan untuk sekedar sederhana mengada tanpa perlu mengada-ada dihadapanNya...betapa indahnya kehidupan jika kita tiada ragu untuk mampu hadir dalam kesederhanaan yang murni, tulus apa adanya tanpa perlu membalutnya dengan kemasan kesempurnaan yang walaupun mungkin tampak indah dan megah namun semu dalam kesejatiannya..... Belajarlah meng-"esa"-kan diri dalam keseluruhan, kebersamaan dan kesemestaan....Kebahagiaan kita berbanding lurus dg kebijaksanaan kita namun berbanding terbalik dengan kemelekatan kita. Tdk semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan,  tdk semua yang tdk kita inginkan tdk akan menjadi kenyataan. So, perlu kebijaksanaan untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya dan tidak terlalu mengharuskan keinginan kita menjadi kenyataan.....  Dunia mungkin hanya memandang dari produk pencapaian kita di permukaan,  namun Tuhan sesungguhnya di kedalaman menilai kita dari proses penempuhan kita. So, jangan terkelabui oleh permainan duniawi karena dihadapanNya tidaklah penting harta kekayaan, nilai perolehan, kemuliaan diri dsb yang pada dasarnya hanyalah by product dampak samping dari perjalanan kehidupan ini. Dia lebih mengutamakan bagaimana cara kita mensikapi, menjalani dan mengatasi amanah kehidupan ini sebagai atsar amalan diri kita kelak. Bukan kaya miskin harta kekayaan, baik buruk nilai perolehan, mulia nista duniawi yang menjadi indikator bagiNya dalam menilai kualitas diri hambaNya tetapi seberapa ikhlas kita mensikapi , seberapa istiqomah kita berikhtiar menjalani dan seberapa tawakal kita menerima garisNya...Bagaikan biasan warna -warni pelangi yang berasal dari Sumber Cahaya Putih Cemerlang yang sama walau dalam dunia segalanya tampak berbeda di permukaannya,  namun dalam Dharma segalanya menyatu dalam kesejatianNya.

Silence is the language of God. All else is poor translation. ~ Rumi
Keheningan adalah Bahasa Ilahiah. Segala lainnya hanyalah terjemahan semu adanya.

Sebagai seorang manusia rasional positivist umumnya kita intelectually menggunakan filsafat untuk mengamati fenomena objektif di luar & psikologi untuk mengamati fenomena subjektif di dalam. Semula kami mengira hanya diperlukan 'parama dhamma' 4 (kearifan, keuletan, keahlian & kebaikan) untuk menghadapi kehidupan ini secara pragmatis namun akhirnya bersamaan dengan waktu & trial error kami menyadari kebijaksanaan perifer tepian permukaan itu ternyata tidak cukup ada kebijaksanaan mendalam lagi yang menjadi dasar untuk itu ... kesucian. Bukan karena pemurnian itu dimaksudkan sebagai faktor pengkondisi saja bagi keberkahan dan kesuksesan sejati namun tampaknya justru itu sentra dari keberadaan, kesunyataan dan kesedemikianan yang terniscayakan terjadi dan karenanya perlu peniscayaan untuk merealisasi.... terlepas apapun anggapan/pandangan diri kita semula (keharusan duniawi, kejatuhan surgawi, keterlupaan panentheistik, keterlelapan samsarik , dsb)   Realisasi spiritualitas tampaknya memang perlu keautentikan plus keholistikan  (minimal dalam wawasan walau belum dalam tataran).
PLUS : 
Kata manusia berasal dari kata mana dan ussa. Mana artinya ‘batin’ atau ‘pikiran’. Ussa artinya luhur atau tinggi. Jadi kata manusia mempunyai arti: mahluk yang mempunyai batin tinggi atau mahluk yang bisa mengembangkan batinnya, pikirannya, mencapai keluhuran. Dengan demikian, menurut arti katanya, maka manusia yang berusaha membawa dirinya mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi, itulah manusia yang wajar. Tinjauan ini menyadarkan kita bahwa tanpa adanya usaha membawa diri mencari nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi, martabat manusia menjadi melenceng dari sebutan ‘manusia’ yang disandangnya itu.
plus kutipan = ttps://kalamadharma.blogspot.com/2020/06/mbuh.html ( corona 2 dia atas )_
Terma manusia konon berasal dari kata Sanskrit Manas & Ashya (Pali : Manussa?) ... suatu keberadaan yang dengan batin fikirannnya di wilayah mediocre duniawi ini memungkinkannya mencapai puncak evolusi individual tertinggi wilayah samsarik imanen (kebebasan pencerahan atau minimal nama abhasara ?)  namun juga sekaligus bisa menjatuhkannya ke dalam jurang terdalam labirin permainan keabadian hidup ini (apaya niraya atau bahkan rupa lokantarika?). Kita sering mengamati terkadang juga menikmati bahkan menjalani juga drama internal universal yang tidak selalu wajar sebagai media impersonal dalam kearifan, kebaikan dan keaslian namun terkadang bahkan justru heboh sebagai figur personal dengan kenaifan, kesemuan bahkan keliaran ... hingga batas 'akhir' setiap episode permainan kehidupan singgahan duniawi yang disebut kematian. Suka atau tidak suka, takut atau tidak takut, siap atau tidak siap .... toh antithesis kematian sebagai konsekuensi logis dari thesis kehidupan harus rela diterima bersama juga dengan synthesis tidak hanya peninggalan hidup eksistensial (memory kenangan, property warisan, produk karya bagi insan dunia yang ditinggalkan ... baik mulia maupun nista? ) namun juga keberlanjutan arus kehidupan individual (level swadika, bakat talenta, hisab visekha ... untuk episode 'pribadi' berikutnya)....etc.
Link video : Ela - Manusia 

TENTANG AVIJJA 

PARAMA DHARMA : Just Idea ...
Avijja ... kebodohan ini keburukan atau kebutuhan ?
Yang perlu kita fahami, sadari dan hadapi tampaknya bukan sekedar kegilaan insani atau kematian alami namun terutama kelupaan abadi akan kesejatian diri dalam setiap episode permainan keabadian samsarik yang disebut (siklus) kehidupan (dan kematian) ini. 

Well, The Greatest evil is Ignorance  Kejahatan terbesar adalah (karena?) Avidya ketidak-tahuan
Walau dalam pengetahuan ketidak-tahuan akan realitas (kaidah panentheistik?) ini istilah evil (kejahatan/ keburukan) yang digunakan mistisi Sadhguru Yasudev tersebut tidak terlalu salah sebagaimana juga terma avijja kebodohan yang digunakan Samma Sambuddha Gautama namun demikian dalam realisasi penempuhan holistik demi penembusan, pencapaian & pencerahan yang bukan hanya murni dan benar tetapi juga bijak dan tepat untuk mensikapi itu sebagai 'kewajaran' yang harus diterima untuk dihadapi dan difahami agar secara bijaksana dapat dilampaui dengan kesadaran (terhindar dari jebakan konseptual, jeratan identifikatif & sekapan dualisme inference paradoks spiritual MLD yang sangat mungkin terjadi. Well, untuk keniscayaan dalam kesedemikianan yang terjadi perlu keselarasan akan kelayakan dalam keberadaaan dan keberdayaan yang memadai. (transendensi kebijaksanaan pemberdayaan berkembang & berimbang melampaui pemakluman faktitas eksternal untuk diterima keterbatasan & pembatasannya ). bagaikan menumbuh-kembangkan bunga teratai di kolam lumpur yang keruh.
Walau avijja secara etika kosmik adalah penyimpangan keselarasan namun ini membuat keberagaman (seperti biasan pelangi dari cahaya mentari yang sama)
Mungkin sangat sensitif dan agak provokatif jika kami menyatakan ... ADA SESUATU YANG MUNGKIN BELUM DIKETAHUI KITA SEMUANYA TERMASUK JUGA YANG BELUM DISADARI PARA TUHAN, DIHAYATI PARA BRAHMA BAHKAN DIFAHAMI PARA BUDDHA SEKALIPUN ..... DALAM PERMAINAN DRAMA DALAM DARMA DARI KEAZALIAN HINGGA KEABADIAN YANG SUDAH, SEDANG DAN AKAN BERLANGSUNG SELAMA INI ....  Triade labirin paradoks diri - alam - inti dalam drama abadi dari fase azali hingga nanti ini (label eksistensial - layer universal - level transendental) dengan 'maha avijja' sebagai skenario samsariknya dan 'parama dhamma' sebagai desain holistiknya memang sangat complicated (jangankan untuk dilampaui dalam penembusan , untuk dijalani dalam penempuhan bahkan difahami dalam pengetahuan saja sulit & rumit ) 
Sial ... ternyata wadah batin ini memang kacau ... sesungguhnya bukan hanya kesungkanan (keresahan karena rendah hati atau mungkin tepatnya rendah diri ... minder akan kualifikasi ideal untuk membabarkan dhamma ) apalagi keriskanan (kecemasan tersudutkan sebagai public enemy bahkan cosmic enemy karena  membeberkan avijja) namun disamping ruwet & rumitnya permasalahan banyak kekesalan di dalam (pantas ... baru bicara jika marah rasionalisasi pembenaran karena dibodohi, dijahili & dizalimi ? ... Spiritualitas walau dalam perspektif holistik sesungguhnya memang sederhana namun dalam kerinduan beraktualisasi selaras denganNya tidaklah gampang ... Well, susah juga untuk mukhlish murni , begitu mudah untuk muflish bangkrut  nantinya)

Penjelasan = 
Ketika kami mempelajari & menganalisis akidah dogmatis agama semula kami mengira ada konspirasi kamavacara yang walau memang baik untuk penuntasan/ pemantasan bagi kehidupan eksistensial duniawi namun terasa ada penghalang evolutif ke tahapan lebih tinggi dalam harmoni & sinergi atas kaidah kosmik tauhid yang  idealnya (mungkin seharusnya berlaku ) demi keapikan, keasihan & kearifan yang adil bagi semua tanpa trium falisme, standar ganda & pembenaran kezaliman eksternal. Demikian juga vitalisme eksistensialitas atheisme agnostics yang cenderung naif menyangkalnya bahkan liar mendialektikakan pembenaran ide bagi kepentingan ego individualisnya. Well, BTW ... sabbe satta bhavantu sukhitata ... biarlah semua makhluk berbahagia dengan cara 'surga'nya sendiri sesuai dengan level 'kebijaksanaan'nya sendiri. Dalam pelangi konstelasi mandala advaita ini di layer dimensi kebaikan mereka layak bahagia sesuai dengan levelnya (surga, etc) demikian juga yang buruk (niraya, etc).  Setiap layer dimensi memang harus terniscayakan untuk setiap diri sesuai levelnya.

Tentang Paska Kematian / Aneka Keberadaan =

Setiap dimensi samsarik memiliki faktor persyaratan karmik & kehandalan kosmik (untuk mengalami & mengatasinya) Walaupun fenomena mandala ini memang beragam level & labelnya (terpilah > terpisah ?) namun secara realitas terpadu adanya (esensi>energi>materi). Bersedia untuk senantiasa terjaga  menjaga  berjaga (apapun juga hasilnya ... jangan susah apalagi menyusahkan lagi di alam ini ) 
Terlepas dari pembenaran kebanggaan keakuan & kepentingan kemauan , dalam perspektif keEsaan apapun alamnya itu memang seharusnya adalah baik (setidaknya adil ... tepat bukan hanya sesuai dengan level batin zenka penghuninya namun juga demi keberlangsungan dimensi mandala alam tersebut). Misalnya begitu menderitanya seorang puthujjana yang masih sakau, galau & kacau dengan kesombongan, keserakahan &  kebencian jika harus berada di level kemurnian nibbana (Well, para Asekha di dimensi ini harus melampaui niraya eksternal baru juga, lho dengan keberadaan penghuni baru ini demikian juga wilayah ini). Ini juga berlaku di level samsarik kamavacara juga, lho. Terkadang sangat memprihatinkan para guardian niraya yang mengurus jasa laundry pemurnian jiwa dari dosa mereka yang mengotori dirinya sendiri (So, sesungguhnya siapa menyiksa siapa, bro?) ketimbang para guardian svarga yang hanya melayani pengumbaran lobha kenikmatan atas pahala kebaikan jiwa hingga batas akhir depositonya. Well, penangguhan mungkin memang bisa diterima jika demikian (too risky for all ...jadi perlu alam antara pra pralaya?).  So, biarkan advaita niyama dhamma melayakan keniscayaan yang tepat bagi semuanya secara transenden impersonal termasuk juga siklus pralaya (demi penyegaran atau pemusnahan ?) .
Sebagaimana dimensi samsarik lainnya ( apaya, surga bahkan alam Brahma sekalipun), dunia ini hanyalah terminal transit bagi evolusi spiritualitas diri berikutnya.  Peluang kesempatan / tanggung jawab sebagai manusia dsb dalam membawa keberkahan diri dan lainnya ... tidak sekedar berlibur, terhibur dan dikubur sebagai manusia untuk hanya kembali calon mayit/ demit ?  

jadi, inget kata  Buddha & para Suci lainnya : kelaziman ( kebodohan atau kewajaran?) kita cenderung menjadikan apaya menjadi rumah tinggal  berikutnya  (walau sesungguhnya bukan itu sangkaan pandangan & harapan keinginannya ... ironis atau tragis ?) 
Well, jika tiada faktor non-operative mahakammavibhanga ... walau tidak dimaksudkan sekalipun by product kelayakan pemurnian sila bukan hanya bisa lampaui apaya (alobha x petta, adosa x neraka, amoha x tirachana  ... asura ?) namun juga layakan investasi deposito kebajikan untuk digunakan liburan sementara kapling dimensi surgawi jika diperlukan (just refreshing penyegaran atau malah recraving pengumbaran ?) ; yang lebih penting jika mampu pencapaian meditatif bisa bereffek pada peningkatan intelgensi kecakapan yang lebih baik apalagi ditunjang panna kebijaksanan yang berkembang . 

AS /IF Petta apaya etc
Walau ini dianggap ‘wajar’ bagi lokiya dhamma namun termasuk apaya bagi saddhama (walau tampak ironis namun tidak menutup kemungkinan dikarenakan akumulasi kelayakan kamacitta sebagaimana kemelekatan akan memory figure bhava, obsesi ditthi dan tanha pengharapan status symbol berada di dimensi eteris ditengah ekspansi dewa label jatuhan asura & ekstensi dewa level rendahan yakkha ini)  
Case : pettavathu
Niraya ? jika terdampar di apaya  hidup sbg peta maka dengan upekkha kembangkan mudita (sikap apresiatif/positif atas niatan tindakan kebaikan lainnya) brahma vihara walau sulit. jika terlempar di apaya lainnya maka dengan upekkha kembangkan metta brahma vihara (kewajaran kosmik untuk aktualisasi kesadaran kasih universal sebagaimana kesedemikianannya kaidah impersonal transenden niyama dhamma  atas personal imanen terus berlaku walau tak butuh diakui dan tak sekedar bisa diyakini ) walau jelas sangat sulit.
Dalam Buddhisme Apaya adalah kemungkinan MLD ( Moha - hewan tirachana, Lobha - petta kelaparan , Dosa - niraya 'laundry' ) 
Plus Idea : Barzah eteris juga untuk umat beragama & bertuhan tidak hanya yang sekuler ? karena kemelekatan kehidupan sebelumnya & selanjutnya ?

AS /IF Surga Kamadeva etc
surga ytcrash
Walau ini sangat didambakan bagi lokiya dhamma (walau tanpa perlu alam antara ?) namun (tanpa merendahkan ... memalukan ?) tidak bagi saddhama ? (walau tidak menutup kemungkinan dikarenakan akumulasi kelayakan kamacitta 'hanya' bisa berada di dimensi astral ini )
Case : jaminan nanda & bhikkhu surga Link Video : 1 & 2 
Jika surga & neraka tidak ada akankah Tuhan dipuja dalam kebaktian, kebajikan dan kebijakan ? Bukan karena  deficiency atau  sekedar transaksi (Sufi wanita Rabiah Adawiyah ... Mahabah cinta kepada TuhanNya bukan hanya mengatasi kecintaan kepada siapapun /Nabi, Surga ?/ namun juga kebencian kepada apapun termasuk kepada  /iblis & neraka?/). 
Plus Idea : Mengapa bisa segera melampaui ke surga tanpa harus penangguhan pralaya dunia ?

AS /IF Brahma etc
buddha brahma
Walau ini sangat didambakan bagi mystics pantheist namun tidak bagi saddhama (walau tidak menutup kemungkinan dikarenakan bukan hanya kelayakan/kecakapan namun juga kemantapan/kemapanan kammacitta dan samadhi bhavananya)
Case : batin mencari & menjadi "tuhan" yang lebih sejati ? , dilemma antara kenyamanan 'transendensi' nama ke anenja (terlelap? alara kalama & Uddhaka ramaputta eks guru dengan tataran ilmu yang telah dikuasainya pra Uruvela ) vs keberadaan 'immanensi' rupa ke samsara (terjatuh? Brahma Baka yang terprovokasi Mara ? ).
(Fake story ?)  Buddha ditanya keberadaan Tuhan .... Dia menjawab akan keberadaanNya kepada yang mengingkariNya namun menyangkal keberadaanNya kepada yang meyakiniNya. (bukan kepercayaan namun keberdayaan ... memastikan tataran fakta bukti  penempuhan/penembusan dalam kemurnian yang utama bukan sekedar meyakini gagasan internal/ wawasan eksternal. 
Plus Idea : real story Buddha & Tuhan : Brahma Baka , Mara, Tusita , Saka, Yakkha & asura ? (khanda paritta attanatiya sutta ? + ratana sutta + Karaniya metta sutta )

AS /IF Nibbana etc
pencerahan Buddha

Walau keterjagaan dalam dvaita kesunyataan ini dipandang ‘sangat sempurna’ bagi buddha dhamma namun dalam 'kebersahajaan' akan advaita kesedemikianan ini ‘cukup bijaksana’ bagi saddhama (Holistik melampaui Nivritti negative & harmonis melampaui Pravritti positive )
(Fake story ?)  Buddha diam ketika ditanya apakah Dia mencapai Nibbana .... Jika Dia menjawab "Tidak", Dia berdusta akan realisasi pencapaian keterjagaanNya , Jika Dia menjawab "Ya" , Dia berdusta karena Nibbana mustahil tercapai jika masih ada 'keakuan" samsarik.
Plus Idea : 
real story : kepada pertapa Upaka , Panca Vagiya (Dhammacakka ~  'patanjali astanga yoga?' + anattalakkhana sutta  !) 
sakshin : Bahiya & Malunkya ( panduan taktis Mahasatipathana & risalah teknis Abhidhamma )
Ovada pattimokkha ke 500 asekha arahat ?(keterjagaan level vs kelengahan label spiritual materialism magga phala arahat ?)  


2. Mengapa Buddha perlu menyadarkan Brahma Baka (yang nota bene lebih tinggi level keilahianNya dibandingkan Personal God kamavacara cakkavati di bawahNya) untuk tidak meng-Ilah-kan diriNya  dan itupun beliau lakukan dengan sedikit pelanggaran sinergi atas Dhamma Kosmik dengan mengalahkannya dengan abhinna keunggulan adikodrati yang dalam level keterjagaan nirvanikNya beliau sadar sebaiknya tidak di gunakan di wilayah mimpi samsarik (Buddha bahkan sebelum pencerahanNya sudah mampu ke maqom ke"ilahi'an yang lebih tinggi ... tidak hanya mampu berkeseimbangan di rupa Jhana bahkan hingga Arupa Jhana ).
kecenderungan ego Identifikatif  X  


3. Mengapa Buddha harus mengumpulkan & memberikan wejangan ovada patimokha di bulan Magha untuk tetap terjaga,berjaga dan menjaga diri kepada 1250 Arahat (Apakah Magga Phala pencerahan Nirvanik yang sesungguhnya melebihi sekedar Jhana Vasi pencapaian Brahmanda tidaklah permanen & bukan sertifikat garansi kosmik kebebasan )?  
kecenderungan ego alienatif  X  
Ref :  Triade diri < alam < inti ; Anatta Sunnata Advaita .... 
Walau mungkin memang ada keterniscayaan akan ketercerahan pada diri namun tanpa diri (yang mengklaim) ketercerahan


dalam sinergi tauhid kosmik = internal universal transenden (evolutif : aktualisasi x identifikasi) > persona eksistensial immanen (harmoni : harmonisasi x eksploitasi)

MONOLOG :
Paradigma : Spiritual - Manusia - Mindset 

intinya : Spiritualitas adalah masalah aktualisasi .autentik meniscayakan kesedemikianan dalam keseluruhan.
beragama ? beragamalah namun tidak tereksploitasi apalagi mengeksploitasi. Ingat ada kaidah kebajikan universal untuk harmoni.
bermistik ? bermistiklah namun tidak teridentifikasi apalagi mengidentifikasi. Ingat ada kaidah kebijakan transendental untuk evolusi.
berdharma? berdharmalah namun tidak teralienasi apalagi mengalienasi. Ingat ada kaidah kebenaran eksistensial untuk sinergi.
Atheisme, Agnostisme , dst ? jika alergi dengan terma dogmatis varnatmak "Tuhan" dan sejenisnya ganti saja dengan istilah filosofis 'Dhunyatmak' Causa Prima (sebab awal keazalian) , Sentra segalanya (Inti utama keberadaan) atau Orientasi destinasi (asymptot tujuan akhir kesejatian abadi) atau lainnya. Ini bukan masalah kepercayaan namun keberdayaan, tidak sekedar pengharapan atau penganggapan belaka namun murni masalah pemberdayaan peniscayaan kesedemikianan ... just idea (etika bukan dogma). Ini bukan agama dan seharusnya tidak dipandang sebagai dogma dan sebaiknya selanjutnya juga tetap disikapi / difahami demikian sebagai idea saja adanya. Tidak ada figur sesembahan yang baru, kredo keimanan yang beda ... hanya share idea pengetahuan (imaginasi inferential filosofis ?) & etika penempuhan (realisasi experiential ? sebatas referensi belum realisasi ... jujur saja masih padaparama dihetuka, hehehe )  

Evolusi Peniscayaan Keberdayaan : Swadika - Talenta - Vipakha
Harmoni Semesta kebersamaan : 
Sinergi  keseluruhan 

Curhat penempuhan ? 
triade 1 (Harmonic Caga Sila Dana) - 
triade 2 (Evolutif  Swadika Talenta Visekha : nekhama - bhavana - nirodha) - 
triade 3 (Sinergis berjaga berdaya bahagia : cakap , mapan, wajar) 
kebahagiaan adalah penerimaan internal  secara positif > perolehan external positif x negatif  

EPILOG 
Aneka Pandangan :  
konspirasi kamavacara demi lestari dimensi ? aktualisasi harmonis tanpa eksploitatif , tiada identifikatif  & tidak perlu alienatif 
Tanggapan Kenyataan : 
kritis & cerdas tetapi tercela karena mencela ... apa bedanya (beda rupa sama isinya ... jatuh juga, lho) perlu kearifan eksternal - keapikan internal : nek kesel ojo sambat, nek pegel rasah maido (kalau capai jangan mengeluh jika kesal jangan mencela .....  mudah dikatakan tetapi susah dijalankan, lho)
Harapan keberlanjutan : 
Fahami permainan ... tanggap & empati (jangan terjebak apalagi menjebak lainnya) Jadilah wajar (tampak "gila") tetapi sadar (tetap waras). Intinya walau mungkin unik namun tidak perlu terlihat aneh ... tetap beraktualisasi, tanpa mengidentifikasi apalagi mengeksploitasi juga tidak perlu mengalienasi diri (Biar Hyang Esa memandu & melayakkan dengan kaidah TauhidNya dalam mengada, mengesa & meniada ) ...  melebur bersama lainnya sebagaimana air di samudera yang sama. (Ariya Swadika di segala mandala ... walau semua memang tampak beda namun tetap sama setara interconnected terlingkup berhadapan di dalam equilibirium homeostatisNya )

Tentang Evolusi Spiritual =
Prediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10 
Memahami kesedemikianan = Realitas Kesunyataan & Fenomena KeberadaanPrediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10 
    

Evolusi avatara spiritual ? Mystic being paska  dasavathara Kalki  ?
Balance keseimbangan hidup total ? just be -  one in ONE
Hidup total dalam penempuhan induktif (7 dimensi?) bagi evolusi pribadi eksistensial, kebijaksanaan deduktif demi harmoni dimensi universal dan keterarahan holistik pada sinergi saddhamma transendental .... bukan hanya selfish demi ego sendiri namun selfless bagi keEsaan mandala advaita ini. dan seharusnyalah tampaknya bisa diusahakan setiap zenka berkesadaran dimanapun dimensi keberadaannya dalam segala situasi & kondisi keterbatasan dan pembatasannya sebagaimana kaidah yang diberlakukan Niyama Dhamma dalam mandala advaita ini agar tetap kokoh dalam keberadaan dan keberdayaanNya yang homeostatis, interconnected & equiliberium. Well, 7 dimensi pemurnian kesejatian= fisik, etersis, astral, kausal, monade, kosmik & nirvanik - Osho  (demi keselarasan harmonis & holistik Homo Novus Mystical Being eneagram 10 ?) 

Tantien

Pusat

Hati

Rasio

10 ?

Kalki (destroyer?)

Zorba (artistics)

Zenka? (holistics)

Ethical

Rama 7 (peaceful)

Khrisna 8 (lovely)

Buddha 9 (meditative)

Emotional

Parasurama 6 (warrior !)

Vamana 5 (insani)

Narasimha 4 (hewani)

Physical

Matsya 1 (ikan air)

Koorma 2 (amfibi kura2)

Varaha 3 (celeng darat)

Prediksi hipotetis figure ideal evolusi spiritual homo novus 10 (for the Next Mystical Being 10 ?)
1. Kalki destroyer (Ancient Hinduism Myth of dasavathara ) penghancuran addhamma di akhir yuga 4 atau hingga  menggenapi siklus pralaya samsarik rupa lokantarika Asura > progress swadika nirvanik nama lokuttara Ariya ? ironis & tragis karena kesalahan sesungguhnya bukan pada aspek khanda rupa material fisik alamiah  namun pada keburukan asava aspek nama batiniah zenkanya. / awas dosa byapada kebencian/ 
2. Zorba the Buddha (hipotesis Osho for New Man ) ? vitalisme mampu filosofis atau menjadi hedonis / awas lobha tanha ketamakan /
3. Zenka the holistics (just dream ?) ... Ariya Swadika di segala mandala / awas moha avijja kebodohan juga, lho  / 
Inilah sebabnya kami lebih suka istilah sederhana kedewasaan pencerahan ketimbang perayaan kebebasan (karena lebih : true, humble & responsible untuk tetap terjaga , menjaga & berjaga dari segala kemungkinan ... Kebenaran adalah Jalan Kita semua tetapi bukan Milik kita, Diri Kita dan Label Kita ... Anatta ? .. Well, hanya Sang Kebenaran (baca: Hyang Esa ... Tuhan Transenden dalam triade Wujud, Kuasa & KasihNya atas laten deitas keIlahianNya di segala mandala immanenNya yang nyata, mulia dan benar dalam kesempurnaanNya) yang benar. Sedangkan kita dalam keterbatasan & pembatasan yang ada memang sering bodoh, bisa saja salah, dan bahkan mungkin jatuh  namun tetap perlu segera bangkit kembali menempuh jalan benar itu dengan benar dalam niat, cara,& arah tujuannya ...  terjaga untuk evolusi eksistensial , menjaga bagi harmoni universal & berjaga demi sinergi transendental
Bersedia untuk senantiasa terjaga  menjaga  berjaga (apapun juga hasilnya ... jangan susah apalagi menyusahkan lagi di alam ini ) .


PENUTUP AKHIR 

EPILOG = 
PROCESS PROGRESS  : tentang keniscayaan ( THE REAL )FKONSIDERAN

Menghadapi = Menerima (eksistensial)  - mengasihi (universal) - melampaui (transendental)   

  

Sadhguru Yasudev quote :
If you have eyes to see, if you have sensitivity to feel life inside you & ouside of you, everything is a miracle
Jika anda memiliki mata untuk melihat, jika anda memiliki kepekaan untuk merasakan kehidupan di dalam anda & diluar anda, semuanya adalah keajaiban.
Ini  adalah empati, harmoni & sinergi kosmik bagi keteraturan, keselarasan & keterarahan Saddhama Panentheistics (secara filosofis/psikologis yang dalam penempuhan esoterisnya  para yogi mistisi menembusnya secara pantheistic dan dalam pembumian kebersamaan eksoteris kita menerimanya sebagai faham monotheistics (terkadang agnostics ........guardian personal god ?)

screenshot Magical Moments at Mahashivratri 2020 @ Isha Yoga Center
Clip Sadhguru Yasudev : ts = speech 18s sd 1m5s
Welcome to Mahashivaratri 2020 
Selamat datang ke Mahashivaratri 2020
Living death is not a morbid idea 
Kematian dalam kehidupan bukanlah gagasan mengerikan 
It is a reality
Ini adalah kenyataan.
We are all living death.
Kita semua adalah kematian yang hidup.
We can say we are living or we can say we are dying and it’s not different.
Kita dapat mengatakan kita sedang hidup atau kita dapat mengatakan kita sedang mati (dan) itu bukanlah hal yang berbeda.
They’re just two different words for the same process.
Mereka hanyalah dua kata yang berbeda untuk proses yang sama
Death is not an event that happens once.
Kematian bukanlah suatu peristiwa yang terjadi satu kali.
Death is happening. It’s a process.
Kematian adalah kejadian. Dia adalah suatu proses.
One day it will be complete.
Suatu hari ini akan terlengkapi.
the most beautiful thing about life is nobody fails,  everybody shall pass .
(hal paling indah tentang kehidupan adalah tak seorangpun gagal, 
/namun demikian/ setiap orang hendaklah melaluinya /bertahan & berjuang hingga berhasil .?/ )
Well, penerimaan keterbatasan diri ini tidak dimaksudkan sebagai logical/illogical fallacy cari aman untuk rasionalisasi peninggian ide & irasionalisasi pembenaran ego bagi dalih kemalasan / pengalihan namun ini memang cara aman untuk menjaga kewaspadaan dari keterpedayaan. Membangun keseimbangan & keberimbangan dengan kebijaksanaan bukan hanya untuk tetap realistis dalam membumi namun juga  untuk tetap merealisasi transformasi diri. 

Finally , 
Tiga Pesan Abadi keheningan kosmik yang diungkapkan para Buddha : Jauhi kejahatan, jalani kebajikan, sucikan fikira
Link Data: www.tiny.cc/dhammapada-183: Bro Billy Tan (p. 12 - 20)
Jauhi kejahatan namun dengan tanpa membencinya, Jalani kebajikan namun dengan tanpa melekatinya dan Sucikan fikiran namun dengan tanpa mengidentifikasikan apalagi mengeksploitasikan diri padanya (Dhammapada : 183). Itulah paradigma (yang walau tampak terdengar "sederhana" namun sesungguhnya sangat sempurna / bijaksana ) wejangan para Buddha untuk bukan hanya melalui namun juga melampaui samsara menuju Nibbana yang direalisasikan dalam keterarahan /keselarasan simultan triade pemurnian Sila - Samadhi - Panna.
Jadilah media kebaikan yang murni x media keburukan yang kacau bagi diri sendiri, makhluk lain dan living cosmic ini baik transendental, universal, eksistensial . senantiasa terjaga sebagai media impersonal akan figur personal samsariknya sehingga memungkinkannya untuk bukan hanya berjaga dari keterpedayaaan bahkan semakin memberdaya diri namun juga mampu menjaga untuk tidak hanya memperdaya lainnya namun justru memberdaya lainnya..... tetap orientasi berpandangan, berpribadi, berprilaku ariya apapun peran, dimanapun dimensi dan kapanpun situasi kondisinya. Menerima tanpa perlu kebencian, mengasihi tanpa perlu pelekatan , melampaui tanpa perlu merendahkan. So, jika keniscayaan pembebasan/ pencerahan/ pemberdayaan belum mampu tercapai, keselarasan tertib kosmik yang holistik, harmonis dan sinergik akan kebenaran, kebajikan dan kebijakan masih terjaga .... bagi diri sendiri, makhluk lain dan living cosmic ini.

REST FILE 

   

Well, bahkan jikapun kemudian kami memang harus berperan sebagai petta apaya di lembah barzah (ataupun bahkan niraya lokantarika sekalipun) kami tetap berharap memory file ini kelak akan kembali selalu mengingatkan, menyadarkan & menguatkan kita dalam hikmah kebijakan atas kebajikan Kasih Tuhan pada kebenaran Mandala DhammaNya demi pertumbuhan perkembangan kebaikan & perbaikan selanjutnya ... untuk inilah segalanya dalam sisa hidup ini kami persembahkan bagi semua (termasuk diri kami juga tentu saja). Sejujurnya walau kami memang seharusnya mencintai kebenaran (atau lebih tepatnya : memang harus menerima kebenaran dalam kenyataan apapun juga itu) namun kami memang belum sepenuhnya melayakkan diri dalam menjalaninya (so ... apapun juga termasuk yang terburuk sekalipun bukankah juga layak jika kami /sebagaimana juga kita & mereka semua tentunya/ menerima keniscayaan sebagaimana adanya.)
Memang sungkan & riskan harus jujur menyatakan idea kebenaran yang belum tentu memang demikian adanya (Well, seeker perlu bukti faktual kepastian yang nyata tidak sekedar peyakinan kepercayaan rasional dogmatis belaka ... semacam keberdayaan magga phala bagi ariya?) dan belum mampu juga dilayakkan dengan penempuhan apalagi memang terbuktikan dengan pencapaian & pencerahan yang diharapkan. Well, lagipula jika saja terjadi ada kesalah-fahaman ini bukan hanya bisa 'melukai ?' keberadaan/ kepentingan lainnya namun juga diri sendiri ... bukan hanya effek kosmik saja namun juga dampak karmik juga, lho.
Terakhir ,  untuk kembali membumi lagi .... tanpa harus teralienasi obsesi internal  & tiada perlu lagi ambisi eksternal ..... karena segalanya adalah keniscayaan yang harus dilayakkan dalam pemberdayaan (tidak sekedar kepercayaan apalagi pengharapan belaka) dan apapun juga itu adalah kebijaksanaanNya yang terbaik bagi kebaikan kita semua 

Sadhguru Yasudev quote :
this is a time to stand up - not just as one nation but as humanity 
Inilah saatnya untuk bangkit - tidak hanya sebagai satu bangsa tetapi sebagai satu umat manusia .


PENUTUP
PENUTUP
Sejujurnya  prolog inilah yang seharusnya  kembali tetap kami jadikan sebagai epilog terakhir   

Just Simple Words to Begin and Fade Away 
(Hanya Kata-kata Sederhana untuk memulai dan kemudian Berlalu) 
Silence is the language of God. All else is poor translation. ~ Rumi
Keheningan adalah Bahasa Ilahiah. Segala lainnya hanyalah terjemahan semu adanya.

Pada hakekatnya kita adalah makhluk spiritual yang menjalani peran sbg manusia ketimbang sbg manusia yang menjalani tugas spiritual..Kita hanyalah ketiadaan yang diadakan dalam keberadaan untuk sekedar sederhana mengada tanpa perlu mengada-ada dihadapanNya...betapa indahnya kehidupan jika kita tiada ragu untuk mampu hadir dalam kesederhanaan yang murni, tulus apa adanya tanpa perlu membalutnya dengan kemasan kesempurnaan yang walaupun mungkin tampak indah dan megah namun semu dalam kesejatiannya..... Belajarlah meng-"esa"-kan diri dalam keseluruhan, kebersamaan dan kesemestaan....Kebahagiaan kita berbanding lurus dg kebijaksanaan kita namun berbanding terbalik dengan kemelekatan kita. Tdk semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan,  tdk semua yang tdk kita inginkan tdk akan menjadi kenyataan. So, perlu kebijaksanaan untuk menerima kenyataan sebagaimana adanya dan tidak terlalu mengharuskan keinginan kita menjadi kenyataan.....  Dunia mungkin hanya memandang dari produk pencapaian kita di permukaan,  namun Tuhan sesungguhnya di kedalaman menilai kita dari proses penempuhan kita. So, jangan terkelabui oleh permainan duniawi karena dihadapanNya tidaklah penting harta kekayaan, nilai perolehan, kemuliaan diri dsb yang pada dasarnya hanyalah by product dampak samping dari perjalanan kehidupan ini. Dia lebih mengutamakan bagaimana cara kita mensikapi, menjalani dan mengatasi amanah kehidupan ini sebagai atsar amalan diri kita kelak. Bukan kaya miskin harta kekayaan, baik buruk nilai perolehan, mulia nista duniawi yang menjadi indikator bagiNya dalam menilai kualitas diri hambaNya tetapi seberapa ikhlas kita mensikapi , seberapa istiqomah kita berikhtiar menjalani dan seberapa tawakal kita menerima garisNya...Bagaikan biasan warna -warni pelangi yang berasal dari Sumber Cahaya Putih Cemerlang yang sama walau dalam dunia segalanya tampak berbeda di permukaannya,  namun dalam Dharma segalanya menyatu dalam kesejatianNya.

Silence is the language of God.
All else is poor translation. 
~ Rumi
Keheningan adalah Bahasa Ilahiah. 
Segala lainnya ungkapan terjemahan semu belaka

Tiada kata yang seharusnya dipercaya (termasuk / terutama dari kami ) selain fakta (yang memang terjadi )
(No Fact -  No Truth - No Faith)
tanpa dusta akan kebenaran sejati, tiada perlu duka untuk disesalkan nanti 

BE RESPONSIBLE  
bertanggung jawablah 

BE HUMBLE 
(dalam) kerendah-hatian 
 
BE TRUE 
(untuk menjadi) sejati

(Sekian)

TAMPAKNYA MEMANG SUDAH CUKUP 


MUSICS

 QUOTES








 

 

 

Finally , 

Be True, Humble & Responsible
(x fake, identificative & manipulative )
Jadilah Sejati (sebagaimana nyatanya), 
Rendah hati (sebagaimana harusnya) & 
Bertanggung jawab (sebagaimana pastinya)

dengan kebijaksanaan akan penicsayaan keniscayaan 
dalam keseimbangan harmonisasi kewajaran membumi 
untuk keberimbangan transendensi kesadaran mendaki
bagi kecakapan, kelayakan & kewajaran  
untuk direalisasi 

Video Music : Two Steps From Hell - Victory (Battle Cry)
ts=4s Music makes you braver ? Musik membuat anda berani ?

Hiduplah secara perwira sebagai Pemberdaya kehidupan
dan matilah sebagai ksatria tanpa terpedaya kematian
 
Itulah persembahan kesejatian terbesar spesies manusia
dalam keberadaan, kesemestaan dan kesunyataan
sebagai pecinta kebenaran 

bukan hanya demi kemegahan duniawi untuk kekuasaan semu ingin dipuja
bukan sekedar demi pengharapan surgawi untuk balasan kebaikan semata
bukan juga demi kebebasan tertinggi untuk kelayakan pemurnian belaka

karena memang demikianlah 
equilibirium homeostatis interconnected 
dalam Keselarasan Saddhamma  
memang niscaya selalu terjadi  dan akan terus terjadi
dari keazalian, hingga keabadian Kebenaran Sang Esa
Hyang Nyata, Hidup, Murni (triade : wujud-kuasa-kasih)
dalam mungkinnya keberadaan maupun ketiadaan diri

Semoga segalanya cukup bijaksana untuk memahami samsara permainan abadi kehidupan ini
Semoga segalanya mampu berbahagia untuk mengasihi konsekuensi interconnected logis yang terjadi
Semoga segalanya makin berdaya untuk melampaui dilemmatika amanah tanggung jawab pemeranan yang diterima


Amor Dei, Amor Fati
(Jika cinta Tuhan cintailah juga GarisNya.)  
Dhammo have rakkhati dhammacarim 
(Dharma kebenaran akan melindungi para penempuhNya ) 
Gate Gate Paragate Parasamgate .... Bodhi Svaha 
(lampaui delusi apaya, sensasi surga, fantasi brahma ... murni terjaga, berjaga dan menjaga)
Appamadena Sampadetha 
(berjuanglah untuk tidak lengah sebagai/selayak/selaras ariya) 
Wei Wu Wei 
(Just flow .... being totally conscious process ... action without actor & acting)
Que Sera Sera ... Pantha Rei 
(Apapun yang terjadi terjadilah .... Biarlah semua mengalir apa adanya)
So, 
inilah waktu kami untuk berhenti & melepas Que sera sera. Pantha Rei.  
Apapun yang terjadi terjadilah. Biarkan semua mengalir apa adanya. 
Gitu aja koq repot ... 
nggak usah "meng-ada-ada" ("meng-ada" saja sudah susah)
dianggap selesai ya .... posting & sharing 
silakan lengkapi sendiri (buang - revisi atau ...   terserah  )

MAAF JIKA ADA CONTENT BLOG / VLOG KAMI YANG MEMBUAT ANDA TIDAK BERKENAN
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGAN , PERHATIAN & KUNJUNGANNYA
SALAM 

Terakhir, 
Semoga segalanya cukup bijaksana untuk memahami samsara permainan abadi kehidupan ini
Semoga segalanya mampu berbahagia untuk mengasihi konsekuensi interconnected logis yang terjadi 
Semoga segalanya makin berdaya untuk melampaui dilemmatika amanah tanggung jawab pemeranan yang diterima 

Well, apa yang sudah ditetapkan sudah cukup maksimal dijalankan, apa yang memang mampu dilakukan sudah cukup optimal dikerjakan, apa yang memang kebelum-fahaman/ ketidak-cakapan kami nyatanya  toh juga sudah sejujurnya diungkapkan .... So, What's next ? Que Sera Sera ... Pantha Rei.  

Penutup :
Semoga wabah corona setelah menjalankan tugasnya merehat sejenak kehebohan duniawi kita akan berlalu dan membuat kita lebih bijak dan bajik lagi dalam memandang perspektif kehidupan dan keabadian ini secara lebih meluas dan mendalam sehingga pribadi lebih terarah dan prilaku tidak lagi tranyakan karena mulai memandang dengan  tidak picik /dangkal lagi. 
Semoga semua makhluk berbahagia menerima segalanya, cukup bijaksana untuk tetap seimbang dan berimbang memberdayakan spiritualitas individualitas/ universalitas diri & lainnya dalam penempuhannya.  
Kehidupan adalah episode Drama kosmik keabadian yang perlu kebijaksanaan agar  senantiasa sadar terjaga dengan segala kemungkinan yang ada, mengembangkan keberdayaan kecakapan dan meningkatkan kebijaksanaan untuk setiap situasi dan kondisi yang terjadi ....segala kebajikan murni dijalani dan kelayakan wajar diterima sebagaimana adanya …. Menerima, mengasihi  dan melampaui segalanya tanpa perlu lobha dan dosa (karena memang tiada yang perlu terlalu  dilekati apalagi harus dibenci dalam 'dagelan' internal universal ini), tanpa perlu kesombongan dan kedengkian (karena walau berbeda dalam labeling /leveling keberadaannya segalanya berpadu setara bersama untuk melengkapi keragaman posisi pada mandala keabadian living kosmik yang sama), tanpa perlu avijja pembodohan diri dan asava pembodohan lainnya (karena akan senantiasa ada dampak impersonal transenden dari segala kecerobohan individual /pelanggaran universal yang personal imanen ) dalam kelanjutan permainan keabadian ini....bahkan jikapun akhirnya nanti ada kemungkinan mahapralaya total (seluruh mandala ini sirna karena sunyata keterjagaan atau bahkan niskala kebinasaan sentra yang meliputi segalanya). Setiap keakuan/kesombongan akan menjatuhkan, ketagihan/ ketamakan akan menjerat dan kekesalan/ kezaliman akan menghancurkan (walau mungkin bisa berakibat pada lainnya namun pastilah mengenai dirinya sendiri saat itu dan dampak karmik selanjutnya ) demikian pula sebaliknya.     

Baiklah, segenap idea tampaknya sudah tersingkap – seluruh kata tampaknya juga cukup terungkap. Sementara perjalanan kehidupan belum selesai , penjelajahan keabadianpun belum juga usai. Masih banyak pekerjaan yang tertunda, begitu banyak kegiatan yang belum dikerjakan. Saya kira tidak ada lagi yang perlu dikatakan walau masih banyak yang ingin dibicarakan. Adalah Haq untuk menyatakan seperlunya saja sesuai kehendakNya dari kemungkinan hak untuk mengatakan semua yang diinginkan belaka.
Jika ada kebaikan itu dari Tuhan karena Dialah sumber dari segala keberadaan, kebenaran dan keindahan yang Haq dimana setiap makhluknya hanya dapat memantulkan kemuliaanNya hanya sebatas keterbatasannya (Dimuliakan Tuhan Hyang Maha Sempurna di atas segalanya – sehingga tiada haq bagi kita untuk sedikitpun berbangga di hadapanNya). Jika ada kesalahan dalam artikel ini maka ini sepenuhnya kekhilafan saya dalam menafsirkan dan memantulkan pengertian dari pembelajaran keabadian yang diberikanNya dalam pemberdayaan kehidupan ini (Dan untuk itu izinkan saya istighfar dan mohon maaf atas kekurangan ini.)
Ya, Tuhan. Begitu luas dan dalamnya hikmah kebenaran ilmu-Mu (yang sangat transcendental, transrasional dan translingual – melampaui fananya keberadaan, terbatasnya penalaran dan jangkauan kebahasaan). Setiap saat keterbatasan intelek dan intuisi menjelajahi cahaya ilmu-Mu, Kau bukakan gerbang ilmu lainnya yang lebih luas untuk kembali dijangkau sebagai fakta, direngkuh dalam idea, dan diungkap dengkap kata. Dan demikian selalu berlanjut (walau memang harus diakui ada kegairahan jiwa yang ingin dewasa untuk berusaha menyibaknya dalam kegelisahan hati untuk merengkuhnya dalam mandala global idea pada keterbatasan akal untuk mengungkapkannya dalam rangkaian linear kata agar bisa dilaksanakan melalui tindakan nyata.)
(Well, tampaknya sebagaimana karya yang lain, artikel ini mungkin memang tidak akan pernah tuntas selesai walau deadline sudah habis dan diperpanjang terus – menerus ….. Jadi, yah, diterima, dimaklumi dan dianggap selesai saja. Gitu aja koq repot).
Wasalam. 


CAPEK ? REHAT DULU .... LANJUTKAN NANTI.   (banyak juga kompilasi idea .... jadi ingin retreat realisas saja ketimbang sharing idealisasi ....  toh yang utama fakta pembuktian/ pencapaian / penempuhan daripada sekedar konsep pengetahuan/ peta pandangan /idea kebijaksanaan saja )


10102020

QUO VADIS , ALL ?

Sial, dalam permainan keabadian hidup ini  ... Adalah keniscayaan bahwa setiap pribadi berkesadaran diri merupakan bagian dari alam (kesemestaan & kebersamaan) yang terlingkup Sentra keseluruhan segalanya. Kebersamaan eksternal walau terkadang memang mampu menunjang, mendukung dan menyediakan fasilitas yang diperlukan bagi kenyamanan berharmoni, kemantapan bersinergi & kelancaran berevolusi namun sering kali bahkan hampir selalu memaksakan faktisitas yang dilemmatis bahkan problematis untuk diamati, dialami dan diatasi setiap diri secara internal. 

L'histoire ceripet (sejarah cenderung berulang) ... Kembali ada demo crazy lagi di negeri ini .... unjuk rasa dibarengi pengrusakan & penjarahan (semoga tidak seperti omnibus law masa pandemi tahun 2020 apalagi kebuasan massal pra reformasi 1998 dulu). Jika niat memang baik harusnya cara & aksi pasti juga baik sehingga hasil (effek kosmik/ dampak karmik > citra publik) akan baik dan baik-baik saja. Sinkron, bro/sis ... guys.

Well ...  Zazen fokus lagi, seekers. Mungkin saja selama pemeranan kehidupan saat ini dan sepanjang keabadian yang seharusnya kita tempuh nantinya (apapun entitas diri yang harus kita jalani, pada dimensi apapun yang selayaknya dihuni & garis kelanjutan karmik berikutnya sesuai dengan kualifikasi diri kita selama ini) ini adalah waktunya untuk kembali berbagi. Dalam kaidah kosmik tauhid yang sejati, ilahi dan murni yang tergelar pada mandala dimensi  yang telah terjadi (walau belum kita mengerti sepenuhnya sinkronisasi keterniscayaan variable faktornya), yang sedang dan masih akan selalu terjadi dari keazalian ini (apapun yang kita berikan (kebenaran/kepalsuan, kebajikan/keculasan, kebijakan/kesesatan) akan berbalik kembali kepada diri kita sendiri akhirnya. Semoga pada waktu berikutnya tidak terlambat apalagi tersesat bahkan menyimpang lagi bagi kita untuk sadar, cakap dan layak mengalami, mengamati & mengatasi setiap pemeranan kehidupan dalam perjalanan keabadian ini.

Wah, kagok untuk bicara lagi (maklum niatan semula memang mau cari aman di safe zone nyaman bungkam saja untuk sekedar nyelamur ikhlas menuntaskan pemantasan seperlunya saja sambil menyiagakan diri untuk permainan peran berikutnya, sih .... Plan B karena tampaknya plan A susah terealisasi di kehidupan ini). Apa rekap arsip sebelumnya dulu untuk reorientasi reflektif permasalahan bagi aktualisasi strategis penempuhannya.      

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar